Damai itu kutemukan dalam gemerisik dedaunan yang digoda angin. Genit, katamu. Aku hanya tersenyum.
Damai itu kutemukan dalam heningnya malam. Kamu kesepian. Tapi aku merasa utuh.
Damai itu dapat aku ciptakan bahkan dalam hingar bingar gemerlap kota. Tapi kamu merasa tak aman dan terasing.
Aku menyukai detil-detil kecil, bagimu aku tidak pernah fokus.
Aku suka guratan kecil di matamu. Tanda senyummu menjejak di sana. Tapi bagimu, itu tidak berarti.
Kamu mengeluh akan hari-harimu, aku menghitung tiap gelak tawamu.
Kamu bilang aku lemah, sekalipun aku rela berdarah.
Kamu bilang aku tidak pernah memikirkan hari esok, padahal aku sedang menikmati tiap detik yang kuhabiskan denganmu.
Airmata itu cengeng bagimu, bagiku itu pembersih dengki.
Aku temukan bahagia dalam tiap dentingan musik, kamu malah sakit kepala mendengarnya.
Kamu pikir kamu hebat jika cinta tak bisa menyentuhmu? Lagi, aku hanya tesenyum.
Kamu pikir kamu hebat bertahan dalam sisi-sisi gelapmu? Cahayaku lebih hangat, tahu!
Kamu pikir aku senang dengan tingkah superhero-mu? Aku merintih untuk tiap rasa sakitmu.
Aku tak pernah tepat untukmu. Jadi, mengapa kita masih beriringan?
Silakan berdiri angkuh di sana, dengan mantel tebalmu, menunggu badai mereda dan mataharimu bersinar. Biarkan aku menari di tengah hujan.
Kamu jelek! xp