Selasa, 27 Desember 2011

Merry Christmas!

Iyaaa, ini udah tanggal 27, Natal emang udah lewat dua hari.
Tapi tetap aja, aku mau ngucapin:

SELAMAT NATAL!!!!!!!!

Kita selalu diingatkan, hidup boleh penuh perjuangan, tapi Tuhan nggak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk hidup kita.
Tuhan itu baik.
Tuhan itu setia.
Tuhan mengasihi kita semua.

Damai di hati, damai di bumi.


GOD BLESS US!!! :D :D :D

Kamis, 15 Desember 2011

Fascinate #2: Happy Birthday, Coco Lisa!!

Yeeeaaaayyy...!!!
Hari ini si Coco, sahabat saya di Psikologi UNJ, ulang tahun yang ke-21!!
Gue pengen menceritakan aib dia nih di post kali ini. Bersiaplah kau, Coco! :D

Nama panjang si Coco ini sebenarnya bagus. Freeco Lisa Lamhab Sari. Cuma kok ya ditilik-tilik dari kelakuannya, sebaiknya dia dipanggil Coco saja. Dia sih pernah minta dipanggil Lisa, tapi kok rasanya agak gimanaaa gitu yaaa... Hahaha... Bahkan kalo saya manggil dia kadang cuma "Com!" Nama akun twitter dia @c0combro. Tapi kalo cuma mengenal dari akun twitter tuh kurang! Kalian harus kenal dia langsung dan ngerasain keisengan si Coco! :D

Pertama kalinya saya menyadari sesosok Coco yang selalu ngumpul berempat sama Mia, Anggi, dan Ratna adalah saat dia berjalan masuk ke kelas sambil nunduk dan rambut panjang yang lurus banget itu mengingatkan saya sama Sadako di The Ring... Hahahahaha... Aku becanda doang, Co!
Dia jalannya pelan banget. Ngomong juga datar. Ekspresi secukupnya. Saat itu saya pikir ini anak kok aneh ya. Tidak terlintas kalau namanya awal kuliah di lingkungan baru pasti adaptasi dulu. Setelah kesini-sini saya baru sadar kalo sebenarnya si Coco ini isengnya bukan main! Saya juga tidak menyangka akan menjadi korban keisengannya. Si Coco ini memang santai ternyata. Untung nafas itu kegiatan yang tidak disadari ya, kalo disadari bisa gawat. Jangan-jangan si Coco bakal jarang nafas. :p
Pertama kalinya satu kelompok mengerjakan tugas dengan Coco adalah saat Psikologi Perkembangan 1. Tapi saya bahkan tidak begitu banyak berinteraksi dengan Coco. Saya lebih sibuk berkomunikasi dengan Mia.
Sampai suatu hari, ketika di lingkungan kampus saya merasa ada beberapa hal yang mengganjal, secara ajaib saya curhat ke si Coco. Waktu itu siang, si Coco mau menemani saya menunggu jam 3 di kampus (biasa, lah, jadwal kereta.) Sekarang sih... Beugh! Si Coco mengakui bahwa dia lebih memilih tidur siang daripada persahabatan. Dan tampaknya kalimat itu sudah menjadi jargon terkenal Coco di kelas saya. Nah. Sejak saat itulah kami mulai dekat dan banyak berbagi cerita bersama-sama. Rasanya, saya bisa menceritakan apa saja ke si Coco. Mulai dari hal-hal remeh yang membuat si Coco suka mengeryitkan keningnya sampai hal-hal besar yang kadang direspon dengan tidak tepat atau bahkan dia tidak merespon, tapi bagaimanapun juga saya merasa didengarkan.
Coco bukanlah orang yang akan menepuk pundak saya saat saya sedang dirundung masalah, alih-alih memberikan jalan keluar dia malah menyuruh saya buang air besar. Katanya sebagian besar kegalauan itu diakibatkan oleh kita yang belum buang air besar. Serius. Dia pernah kasih advice seperti itu. Tapi di saat itulah saya merasa dia punya caranya sendiri untuk menunjukkan kepeduliannya.
Di beberapa situasi, ketika saya merasa berang terhadap sesuatu dan bertindak impulsif, dan si Coco jauh duduknya dari saya, dia akan terlihat santai seperti biasa. Namun, setelah saya dan Coco sedang megobrol bersama dan menceritakan kejadian yang saya alami dia selalu berkata "Nah, pikiran kita sama berarti. Tadinya gue juga mau begitu." di saat itulah saya merasa mendapatkan dukungan.
Saat saya menangis, dia tidak pernah menunjukkan empatinya. Dia malah mengingatkan saya tentang cerita lucu dan membuat saya tampak gila karena terbahak saat mata saya basah. Emang nih si Coco! Tapi itu adalah cara yang tepat bagi saya.

Saya dan Coco sangat bertolak belakang. Saya cenderung impulsif dan dia... hh, luar biasa santai. Saya mudah panik, dia... hh, santai banget. Dia pernah tidak membawa bahan presentasi saat jadwalnya kita presentasi. Saya memang kesal saat itu, tapi saya juga sudah terbiasa memaklumi sikap santainya. Dan saat itu dosennyapun tidak datang. Tapi saya merasa harus tetap menegur dia. Saya sudah memberi tahu bahwa si Coco ini intuisi bersenang-senangnya sangat kuat, belum? Tiap kali dia memiliki dorongan yang kuat untuk bereha-leha dan memutuskan untuk menunda tugas misalnya atau berangkat telat, biasanya yang terjadi adalah tugas memang diundur dan dosen tidak masuk. Luar biasa kan? Saya iri banget sama kemampuan dia yang satu ini. Sementara saya sendiri punya kecenderungan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang buruk, hal ini suka bikin saya sewot. Hahahaha...

Coco itu suka bandel. Saya akan membuat list:
1. Suka narik rambut saya
2. Suka ninggalin saya kalo saya masih ribet dan dia pengen makan siang duluan.
3. Mengganggu saya kalo lagi main game
4. ngetawain orang yang ketiban sial
5. ngambil makanan saya
6. lebih pilih tidur siang daripada persahabatan
7. ngobrak-ngabrik tas saya terus ngomong "ini tempat sampah ya?"
8. berusaha merebut tempat duduk saya
9. suka ngetawain kalo saya lagi diare. katanya itu penyakit rakyat jelata.

Dia sendiri tahu kalo dari kecil dia bandel. Hahahha...

Tapi si Coco ini adalah orang yang akan memberikan saya bantuan saat saya butuh. Suatu hari saya pernah tidak masuk kuliah sehingga saya tidak tahu tugas yang diberikan dosen dan saya jadi panik saat tahu tugas itu cukup sulit. Coco langsung sms yang bunyinya "Pasti lagi panik karena tugas. Besok gue mau ke perpumda. Mau ikut nggak?" Dia mengajak saya ke perpus UI untuk mencari bahan skripsi. Bukan untuk ditemani loh, dia mau menjemput saya di Pasar Rebo, dan membantu saya mencari buku. Dia juga mengajak saya dan membantu untuk mendapatkan tempat magang (dan menghasilkan kebodohan lagi). Hal-hal seperti ini yang membuat saya santai saja saat dia lagi iseng dan menjadikan saya sebagai korbannya. Kenapa? Karena senista-nistanya Coco ngeganggu anak orang, dia masih lebih peka ketimbang orang lain.

Coco memiliki pemikiran dan cara mengungkapkan pemikiran itu "unik". Dia bisa mengatakan sesuatu yang kadang bertentangan dengan saya namun tidak berkesan menggurui atau menyalahkan saya. Kata Galih "Coco itu thinking out of the box. Cuma ga tahu boxnya yang mana." Hahahhahahahaha....

Satu hal lagi yang saya dan Coco sepakati. Sahabat itu nggak harus saling mengintil dan ngekor kemana-mana. Nggak harus kemana-mana bersama. Misalnya saat Coco mau makan gado-gado dan saya mau makan pecel ayam, kita akan berpisah (kenapa contohnya harus makanan ya?). Persahabatan itu tidak perlu dikonkretkan dengan kehadiran fisik selalu. Ada saatnya kita punya kesibukan masing-masing dan ga bisa selalu bareng, tapi kita selalu tahu sahabat itu selalu ada. Tapi di satu sisi, kita juga tahu setiap kebersamaan itu sangat berharga dan berusaha untuk tidak pernah melewatkannya. Persahabatan tidak perlu diumbar, ketika kita saling memahami dan tak pernah meninggalkan satu sama lain saat itulah kamu tahu siapa orang itu dan rasanya tepat untuk menyebutnya sebagai sahabat kamu.

Jadi, akhir kata saya mau mengucapkan:
SELAMAT ULANG TAHUN, FREECO LISA!!!
SEMOGA SETIAP KEINGINAN BAIKMU DIKABULKAN TUHAN.

ah, ucapan ulang tahunnya klasik. Hahahaha...
Tapi ya sudahlah. Coco ulang tahun atau nggak saya selalu berharap dia mendapatkan yang terbaik, semoga berkat Tuhan nggak ada habisnya melimpah di kehidupannya. Walaupun saat melakukannya saya sambil mengelus dada lihat keusilannya... Hahahaha...

and the most important thing that I should tell her is: "calling you as my best friend feels so right." :)