Rabu, 05 Oktober 2011

Hampa

Peluk aku, Langit. Karena kau tak berbatas.
Aku ingin tenggelam dalam megah yang tanpa dasar itu.
Bahkan sudut mataku tak akan mampu menelanjangimu seutuhnya.
Terlalu besar hampa itu. Terlalu nyata.

Sudah berapa jarak yang kutempuh untuk dapat mencumbumu, Langit?
Kutinggalkan segala rasa.
Ingin segera meringkuk dalam relungmu.
Biarkan aku mendefinisikan hampa itu.

Aku mencintaimu, Langit.
Kau kokoh tanpa pilar, aku tak takut kelak kau meruntuh.
Sudah kunikmati duka itu hingga memudar.
Tapi hampa tetap singgah.

Langit, nyatakah engkau?
Semburat biru yang terkadang menggoda jingga
yang kerap kali membuatku semakin memujamu
tak kunjung teraih..

Kau biarkan aku hampa di bumi ini.

Langit, nyatakah engkau?
Atau kau hanya tempat bintang-bintang yang mengerling genit
menggodaku, mencemoohku...
Segala cinta itu hanya delusi.

Karena itulah, hampaku tak mau pergi.