Kata-kataku habis maknanya. Sementara kau tak kunjung paham.
Nada-nada menjadi tuli, mereka tidak mengenal lagi diri sendiri.
Maka apalagi yang harus kulagukan?
Halaman rumahku menggersang. Debu-debu mengotori teras.
Tanah sudah terbiasa dengan dahaganya.
Sebentar lagi aku yang mati.
Kita sudah terbiasa menjadi pahit, getir, dan lelah.
Tidak terpikir untuk berhenti.
Sudah terbiasa berduka.
Rusak.
Berdarah.
Seolah bukan masalah sehingga tidak perlu diperbaiki.
Kita berteriak satu sama lain.
Suara ternyaring adalah pemenangnya, sampai sebuah tamparan mendarat tepat di pipi.
Setiap kemarahan harus ditebus dengan rasa sakit.
Pikiran membuntu.
Semakin marah, semakin dengki, semakin ingin menyakiti.
Kemudian kau bingung.
Tanah menggumpal-gumpal kering tak akan bisa menutup rapat aku.
Kau takut orang-orang tahu aku membusuk.
Maka kau tanami atas ku dengan melati, bunga kesukaanku.
Terlambat, aku tak akan bisa melihatnya di dalam sini.
Terlambat, karena aku sudah tak bernapas untuk menciumnya.
Terlambat. Semuanya terlambat.