Jumat, 14 Desember 2012

Perjalanan Ini Aku, Pelajaran Ini Milikku

sentakkan aku dari lamunan
ada yang harus aku lakukan
kembalikan aku pada realitas
ada tanggung jawab yang harus kupikul

kupikir hanyalah aku sendiri
lupa jika mereka ada
dan kerap kali aku menjadi pikun
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku

kupikir hanyalah aku sendiri
dan, ya, di atas kakiku sendiri
tapi kegelisahanku kelaparan
kecemasanku butuh makan
lupa, mereka tidak akan pernah kenyang

aku berharap mereka ada
dan mereka memang ada
tapi aku kan bukan pusat tata surya?

sekalipun tak pernah habis
keluh sungguh tak ada guna
peluh bukannya membanjir
seberapa besar rupanya usahaku?

sulit sekali ya, bagiku
mengakui aku tidaklah sempurna
lebih mudah mencari kesalahan orang lain
aku tahu, tapi tak mau tahu

aku diam, tapi ingin mereka mengerti
sebenarnya, jika angkuhku boleh bicara
aku mampu sendiri
sebenarnya, jika kerapuhanku merintih
aku tidak mau sendiri

jiwaku sibuk ketakutan
imajinasiku mengerikan
aku merasa kerdil terkepung
tidak tahu harus bagaimana

banyak yang harus kumengerti
agar bisa membuat mereka mengerti
oh, sulitnya ketika aku melangkah karena insting
sementara setiap langkah harus diperhitungkan

sudah cukup, diriku sayang!
kita cuma menakuti diri sendiri
antara tahu dan tidak tahu
apa yang akan dihadapi

jangan sampai pikiranku buntu
karena sibuk memanjakan rasa takut
jangan sampai melumpuh
karena membiarkan cemas menggeroggotiku

jangan meminta lebih banyak
dari yang kubutuhkan
aku sendiri tidak bisa jamin
jika waktu bisa diulang, aku tak akan
jatuh di lubang yang sama

ikhlaskan terjadi, apapun itu
aku tidak punya waktu untuk berhenti
aku tidak bisa memutarbalikkan waktu
aku tidak bisa lari dari kenyataan
aku tidak bisa mundur lagi

aku izinkan diriku menghadapi semua
dengan sukacita, dengan tabah
aku izinkan diriku meraih kebahagiaanku
aku izinkan diriku meraih kesuksesan
aku izinkan diriku menjadi kuat

karena,
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku

Senin, 05 November 2012

Terlambat

Kata-kataku habis maknanya. Sementara kau tak kunjung paham.

Nada-nada menjadi tuli, mereka tidak mengenal lagi diri sendiri.

Maka apalagi yang harus kulagukan?

Halaman rumahku menggersang. Debu-debu mengotori teras.

Tanah sudah terbiasa dengan dahaganya.

Sebentar lagi aku yang mati.

Kita sudah terbiasa menjadi pahit, getir, dan lelah.

Tidak terpikir untuk berhenti.

Sudah terbiasa berduka.

Rusak.

Berdarah.

Seolah bukan masalah sehingga tidak perlu diperbaiki.

Kita berteriak satu sama lain.

Suara ternyaring adalah pemenangnya, sampai sebuah tamparan mendarat tepat di pipi.

Setiap kemarahan harus ditebus dengan rasa sakit.

Pikiran membuntu.

Semakin marah, semakin dengki, semakin ingin menyakiti.

Kemudian kau bingung.

Tanah menggumpal-gumpal kering tak akan bisa menutup rapat aku.

Kau takut orang-orang tahu aku membusuk.

Maka kau tanami atas ku dengan melati, bunga kesukaanku.

Terlambat, aku tak akan bisa melihatnya di dalam sini.

Terlambat, karena aku sudah tak bernapas untuk menciumnya.

Terlambat. Semuanya terlambat.

Selasa, 09 Oktober 2012

I’m Just Human Being #2: Ngawur


Well,

Masih menganggap "cuma manusia biasa" sebagai pembelaan diri yang menyedihkan.
Mau mulai darimana ya? Bingung.

Gue pernah ingat seorang teman yang pernah bilang, "Kita punya hak mengatakan 'tidak' untuk mengerjakan kerjaan kita." Nggak, ini bukan alasan yang gue pake buat berhenti bekerja. Tapi, hanya sekadar ingin menyisihkan waktu sejenak buat nulis. Ngeluh itu enak loh, walau nggak ngurangin beban dan malah bikin makin capek. Haha.... Gue selalu yakin kok bisa mengatasi apapun yang terjadi ke gue, hanya saja pilihan selalu ada di tangan gue kan ya? Pilihannya adalah gue mau nambahin drama di masalah gue atau nggak. :D Shit.

Terusss...

Beberapa hari yang lalu, ada kebaktian remaja di rumah gue. Gue hanya duduk-duduk unyu aja dengerin mereka diskusi dan kerap kali keluar dari topik diskusi, sampai-sampai pada lupa apa yang seharusnya dibahas dan ketika gue tanya lagi bahas apa, bener! Nggak nyambung. Selesai kebaktian, setelah para remaja itu (eh, serius deh! Nulis "remaja" dan gue bukan bagian dari kata itu ngebuat gue merasa tua. Banget.) ngobrol sebentar sama bokap, gue ikutan ngobrol bareng mereka, menceritakan tentang pengalaman gue waktu ikut kebaktian remaja dan event-event apa saja yang pernah gue ikuti. Gue nggak bisa menceritakan satu event dengan tuntas tanpa disela minimal tiga kali dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. :D :D Oh, gue bukan mau mengkritik kemampuan nggak nyambung mereka. Tapi, beneran deh, gue tercengang melihat remaja-remaja itu dengan ide-ide yang loncat-loncat kayak gitu.
Dan dengan kebaktian kayak gitu, cerita-cerita masa-masa gue aktif, gue jadi mengenang lagi semua momen-momen yang mengisi hampir seluruh masa remaja gue (oh, sial. Gue bener-bener ngerasa tua sekarang.). Ahh, kangennya. Boleh kan ya, sesekali melihat ke belakang. Bagaimana dulu gue labil. Kenapa dulu gue gini dan nggak gitu aja, keputusan-keputusan yang seandainya bisa gue ubah. Dan mungkin sekarang akhirnya berbeda? Bukan mau menyesali sih, cuma peringatan aja, cuma pembelajaran. Mau berubah jadi lebih baik ya bagus. Tapi lucu gak sih, saat itu lo menikmati hari-hari lo, tapi ketika semua berubah jadi masa lalu, kebanyakan "seharusnya dulu gue gini, gue gitu".

Sebenarnya, gue nggak niat bahas ini. Haha. Kalo dibiarin ngalir, tuh, malah jadi ngalor ngidul ya.
Jadi, di antara semua topik random luar biasa dan nggak tahu bersumber darimana, tiba-tiba Psikologi mengalir ke permukaan. Gue benar-benar nggak ingat bisa ngebahas Psikologi karena apa. Flight of Idea. Pokoknya tiba-tiba aja si Josh mengatakan bahwa gue mahasiswi Psikologi. Setelah mereka tahu gue belajar Psikologi, ada yang berkomentar "Gue juga pengen jadi psikolog!", "Teman gue juga pada pengen ngambil Psikologi!", dan "Kakak gue pengen masuk Psikologi." Dan pertanyaan "kenapa Psikologi" naik ke permukaan. Macam-macam sih. Yang gue ingat sih "Soalnya pengen bisa ngebaca kepribadian orang". Jawaban itulah yang bikin gue pengen, seandainya bisa dan kelihatan, menaikkan sebelah alis gue. Bikin gue pengen tanya balik, "Terus kalo lo bisa baca kepribadian orang, lo mau apa?" Terus, mereka nanya ke gue "Kalo Kakak masuk Psikologi karena apa?". Gue jawab sambil nyengir "Berobat jalan." Mereka diam dong. Yup! They didn't get my joke! Bahahahahahahahangke.

Beberapa waktu lalu, ada teman nyokap yang nanya perkuliahan gue. Dan gue jawab lagi nyusun skripsi. "Berarti semua mata kuliah udah selesai?" tanya beliau. "Sudah, Tante." Jawab gue. "Berarti udah bisa baca wajah orang dong?" tanya beliau lagi. Di sinilah gue ngakak dan dia kelihatannya merasa terhina dengan respon gue. Situasipun menjadi canggung dan gue memutuskan pergi ke dapur.

Terus, sepupu gue: "Lo belajar Psikologi ya? Wah, harus waspada gue!"
Teman main gue: "Om gue bilang kita harus hati-hati sama orang yang belajar Psikologi. Soalnya mereka bisa baca kita." Did that mean we can not be friend anymore? :D

Kenapa harus takut pikiran lo bisa dibaca orang, sih, hm? :) Kenapa harus khawatir kepribadian lo yang sebenarnya terkuak? Yang nggak habis pikir, dapat ide darimana orang yang belajar Psikologi saingan sama dukun atau paranormal? Woy!! X)) Coba dibahas pertanyaannya deh. Kenapa takut hayooo? Kenapa khawatir? Apakah karena pikirannya sibuk di hal-hal seperti merencanakan pembalasan dendam (tsaaah...), atau mikirin gimana caranya dapat uang jajan tambahan, atau mikirin negara, atau pikirannya kebanyakan ngabisin waktu di comberan jadinya takut tertangkap basah? :D atau gak pernah mikir sama sekali? :) Kepribadian nih sekarang! Kenapa? Pakai topeng ya? :D Iya, topeng. Or whatever you name it. Manner, sopan santun, faking good or bad, muka dua. Kita mencoba menutupi sesuatu, misalnya kekurangan kita, supaya gak ada yang tahu. Yang mereka tahu cuma kita sempurna. Gitu ya? :) Sampai beberapa orang yang sadar sepertinya ada yang nggak natural dari tingkah laku lo, ketika lo menjaga sopan santun seperti mencoba bersimpati dan orang berpikir simpati lo nggak tulus? Sedih, ya. Padahal menurut lo yang lo lakukan adalah apa yang seharusnya lo lakukan. Atau lo harus kelihatan bagus karena orang lain menuntut demikian? Topeng lagi. Jadi lirik lagu Peterpan yang sekarang ganti nama jadi Noah: "Tapi kudapat melangkah pergi, bila kau tipu aku di sini~... buka dulu topengmu~... biar kulihat warnamu~..." terasa menyudutkan? Siapa yang menipu, kan itu tuntutan. Gimana dong? :) Ketika harapan orang lain berlebihan terhadap kita, dan kita berjuang untuk memenuhinya, di sisi lain kok rasanya 'bukan gue banget, ya?'. Atau suka-suka lo mau jadi apa, hidup kan punya sendiri-sendiri, atur masing-masing dong! Ketika lo udah jalani hidup sesuai yang lo mau, orang-orang yang lo anggap rese menjauh perlahan, dan seketika lo ngerasa hampa di saat lo mengecap kebebasan. Feels like you want to escape from freedom. Contoh lainnya, ketika tanpa sengaja 'topeng'nya terlepas, lo merasa 'telanjang'; nggak punya perisai; ketakutan bakal dijatuhin orang. Ketika nggak sengaja ada orang yang berhasil menemukan celah kelemahan lo, lo berubah jadi defensif atau bahkan balik menyerang.

Atau gini nih. Ketika lo nggak bisa menerima kenyataan; ketika lo ngelampiasin kemarahan lo ke objek lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan masalah lo; ketika lo dilanda masalah berat dan yang lo lakukan adalah naik ke kasur ortu lo, tidur di tengah-tengah mereka, seperti yang lo lakukan waktu berusia 5 tahun di malam-malam mimpi buruk; ketika lo takut setengah mati, tapi lo pura-pura berani sampai mau mati sebenarnya; ketika lo maki-maki orang lain padahal lo lebih layak dapat makian itu; ketika lo lebih sering menyanyikan lagu galau karena lebih bisa diterima ketimbang nangis di pojokan kamar setelah lo diputusin cewek lo, padahal sedihnya udah kayak ditinggal mati.

Defense mechanism.

Nah, coba dibandingkan dengan:
Ketika lo yang melihat ada orang yang pura-pura nggak peduli gossip santer yang bilang pacarnya selingkuh?
Ketika lo dimarahin habis-habisan, setelah itu orang yang marahin lo curhat mobilnya baru aja diserempet motor?
Ketika lo lihat tetangga lo pulang ke rumah ortunya setelah berantem dengan istrinya? :D
Ketika lo nanya sama teman lo "Lo naksir X, ya?" dan dia menjawab dengan histeris "NGGAK KOK! NGGAK MUNGKIN GUE NAKSIR X! DIA TUH NYEBELIN WALAUPUN JAGO RENANG, JAGO BAHASA SWAHILI, IKUT OLIMPIADE SAINS, SUKA BERCANDA, KALO SENYUM JADI CAKEP, SUARANYA SEREK-SEREK SEXY, JAGO MAIN OKULELE, TANGGAL LAHIRNYA 30 FEBRUARY, MAKANAN FAVORITNYA TEMPE MENDOAN, SUKA WARNA KUNING!! SUMPAH, GUE NGGAK NAKSIR! DEMI TUHAN! KENAL DIA SEKARANG AJA GUE NYESEL KENAPA NGGAK DARI DULU... Eh."

Ketika lo yang dimaki-maki, tapi kok yang maki-maki kayak lagi pengakuan dosa?
Ketika lo mendengar lagu-lagu Glenn Fredly yang galau karena putus itu?


Tahu nggak gimana rasanya ketika lo paham apa yang memotivasi seseorang melakukan berbagai macam hal tapi lo nggak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya?; ketika lo tahu alasan mereka dan mengerti tetapi orang lain menghujat dan lo nggak bisa mengatakan yang sebenarnya?; ketika lo yang menjadi sasaran kemarahan seseorang hanya karena ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan yang bersangkutan?; ketika lo tahu banget seseorang butuh pertolongan tapi masih sok kuat? Apalagi lo tahu mereka butuh seseorang yang membantu dan cara yang tersedia itu adalah ikut terseret masalah. Lo tahu harus melakukan hal yang benar tapi kok rasanya berat banget?

Kadang mengenal diri sendiri kok terasa sulit, gimana bisa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya?
Manusia emang kompleks sih ya. Namanya juga manusia.

Gue jadi pusing.

Oh iya, kalo ketemu orang ngapain awal-awal langsung pengen tahu kepribadiannya? Menurut gue sih, kadang kita menemukan teman yang langsung klik justru lewat pembicaraan santai misalnya punya minat sama. Kalo gue udah ngomongin Disney mana gue peduli orangnya kayak apa kalo minatnya sama? Definisi teman yang asik juga subjektif. Dan agak sulit buat gue untuk menjalin pertemanan yang apa adanya saat gue mulai menganalisis. Kalo berinteraksi dengan orang tanpa penasaran sama masa kecilnya, masa remajanya, trauma event, precipitatinghalah... surprised sendiri dengan hal-hal kecil yang "ih! Lo gini toh aslinya! :D". Jadi udahlah yaaa, apa adanya saja.

Dan... nggak. Gue nggak punya jawaban untuk semua kemengapaan 'ketika-ketika' itu. Kalaupun gue tahu, gue nggak akan kasih tahu. Itu yang harus kita selesaikan sendiri. Karena orang-orang akan selalu ada di sekitar kita untuk membantu, tetapi pelajarannya selalu menjadi milik kita. Kalo nggak salah, ini kata-katanya Melody Beatie (gini bukan tulisannya?). Punya keberanian untuk menerima kenyataan dan menghadapi masalah langsung aja udah hebat banget sih menurut gue.

Gue nggak tahu lagi bahas apaan nih.

Jadi, "manusia biasa" mungkin pembelaan diri yang menyedihkan, tapi akan benar-benar menyedihkan kalau kita nggak pernah melakukan yang terbaik.

Dan soal baca kepribadian, percayalah, kepribadian itu termanifestasi dalam perilaku dan kita belajar mempertajam observasi dan wawancara. Sekian. :)

 

*sementara itu Freud dan Fromm berdentam-dentam di kepala gue. Akur ya.*

Senin, 01 Oktober 2012

Puisi Sebelum Tidur

Hilanglah, lelah. Aku tidak menginginkanmu, walau kutahu kau sayang ragaku.
Enyah, air mata. Aku tampak cengeng, walau kutahu kau menjernih mata dan bersihkan hati.
Pergi, jenuh. Masih banyak yang harus kukerjakan, walau kutahu aku butuh menenangkan diri.
Aku berlari hingga kakiku mati rasa.
Pandanganku mengabur tapi aku semakin tajamkan penglihatan.
Otakku berputar, terus berputar.

Malam kelam, malam temaram.
Istirahatlah sejenak, bujuknya padaku.
Ia kecup keningku.
Esok masih ada.
Tapi tak akan sama, ujarku.
Aku cari-cari kebenaran.
Ia ada.
Kamu letih.
Aku tidak bisa berhenti.

Sibuk.
Sibuk menyesap gundah.
Keluh-keluhmu berkesah.
Amarah menggelegak.
Berhenti sejenak, Sayang.
Tidak. Waktu tergesa. Ia berlari.
Waktu temanmu, Sayang.
Benarkah?

Maka,
Sekali ini kubiarkan mata terpejam.
Kelam, hadiahnya.
Kuucapkan selamat pada malam.
Biar lelap, sesekali kutemukan damai.

Sabtu, 22 September 2012

Tangan Bertaut

Demikianlah kita.
Menelusuri jalan-jalan penuh kejutan yang disebut kehidupan.

Sesekali aku resah dan takut, kamu akan meremas tanganku. Menguatkan dan menunjukan bahwa kamu selalu berada di sampingku. Ya, kamu menuntunku dan tetap di sisi. Kamu memimpin perjalanan ini, tidak akan meninggalkan aku karena tergesa menjadi yang terdepan.

Sesekali kamu letih, aku akan meremas tanganmu. Menjadi tempatmu untuk pulang dan membasuh peluhmu. Ya, aku menopangmu tanpa berkeluh. Aku patuh dan hormat karena mencintamu, tidak akan melepas genggam tanganmu.

Dalam cintamu ada penghargaan, membuka kedua telinga dan tak pandang sebelah mata.
Karena itu, aku kan belajar menjadi yang bisa kamu andalkan. 

Kamu memelukku dengan tangan kirimu, mendekapku erat dekat di jantungmu, dan halau mara bahaya dengan tangan kananmu.
Karena itu, aku akan sejajar denganmu. Bukan untuk bersaing denganmu. Tetapi agar aku tepat berada di sisimu.

Kamu adalah ksatria pemberaniku.
Karena itu, akupun akan belajar untuk berani. Bukan untuk memberontak. Tetapi agar bisa saling melindungi.

Kamu menguatkan aku.
Karena itu, akupun akan menjadi kuat untukmu. Bukan untuk mengalahkanmu. Tetapi agar kita bisa saling menguatkan.

Tidak perlu berjanji untuk tidak membuatku menangis.
Terkadang aku sengaja memancing kejengkelanmu.
Tetapi,
Berjanjilah setiap konflik akan kita temukan jalan keluarnya dan kita akan semakin kuat karenanya, setelah itu genggam tangan ini akan semakin erat.

Doakanmu untuk kebijaksanaan.
Doakanku untuk kelemahlembutan.
Bubuhi humor segar di dalamnya.
Biar kita mencintai Tuhan dan menikmati kehidupan sebagai anugerahNya.
Dan semakin hari, kita semakin saling mencintai.

Rabu, 19 September 2012

"Kita"



Kalau terlalu berat untuk diakhiri, mungkin kita bisa sama-sama memulai awal yang baru. Di jalan yang berbeda. Aku dan kamu bisa masing-masing menyimpan bagian "kita" karena bergerak mundur untuk hilangkan jejak tidak akan mungkin.

Menyesali pernah terjadi terasa kurang tepat. Akan terasa lucu jika kita menangisi kebahagiaan yang lampau. Mungkin kita hanya menyayangkan apa yang baik tidak bisa kita rajut bersama-sama lagi.

Entah di suatu hari nanti, ketika kita tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan, kita boleh memiliki kebahagiaan kita masing-masing. Dan kita tidak perlu menunjukkan siapa yang paling bahagia. Kita bisa saling memaafkan dan bersyukur, kita pernah bahagia bersama.

Ada yang lebih lapang dari duka, ada yang lebih besar dari luka. Dengan damai yang kita rasakan, maka tidak perlu lagi saling menyakiti. Tidak perlu saling bunuh sosok dalam pikiran kita. Kenangan akan mengental dan melekat serta semakin tajam. Jika harus sakit, maka sakitlah. Biar sakit jadi bagian hari ini. Toh jika memang ada luka, maka ia butuh waktu untuk sembuh. Dan jika memang meninggalkan bekas luka, tidak perlu menjadi pahit. Toh ada lubang besar di hati yang kita biarkan kosong sejenak. Ya kan?

Mungkin kemarin kita mencintai. Hari ini, kita saling membenci. Semoga tidak butuh waktu lama untuk saling mengikhlaskan.

Kita sudah pernah melewati masa ketika diam pernah sama menyakitkan dengan hunusan pedang dan sama mematikan seperti racun. Air mata bahkan menjadi perisai patah yang tak berfungsi. Kau kira itu senjata? Lucu. Lihat bagaimana kata-kata logis sialanmu melukai. Itu bukan senapan berpeluru, tapi tetap ketika kau menembakkannya, tetap menembus hati.

Tidak, tidak. Kita tidak perlu menjadikan kenangan itu untuk membuat jurang pemisah semakin lebar dan curam di antara kita. Menanggung luka sendiri saja kita belum mampu.

Haruskah kita menyebutnya akhir? Ah, bukan. Relakah kita untuk menyebut kata 'akhir'? Mungkin kita bisa menyatakan cinta dalam bentuk yang lain. Seperti "terima kasih sudah hadir di hidup saya." Kemudian, kita harus membesarkan hati dan memulai untuk melangkah lagi. Memulai lagi.

Sekali, hati ini pernah singgah. Bukan berarti kali ini ia harus tertatih tertinggal dan mati-matian mengejar kehidupan. Mungkin akan terasa sedikit lebih berat. Beban ingatan yang membawa rasa. Tapi itu bagian kita, tidak peduli betapa menyakitkan.

Akan ada masanya, saat kita saling mengenang nanti, yang bisa tercipta hanya senyum atau gelak tawa. Dan jika luka ada salah satu cara membuat hidup ini utuh, maka ikhlaskan ia hadir. Toh waktu, teman yang setia, pasti menyembuhkan.

Mari melangkah untuk awal yang baru tanpa perlu saling melupakan. Kita sudah menjadi kaya dengan harta karun ingatan kita masing-masing.

Suatu hari nanti, bahagia akan menjadi bagianmu seperti ia menjadi bagianku. Sehingga kita bisa saling mendoakan untuk kebaikan kita.

Dan "kita" akan selalu menjadi kisah menarik untuk diceritakan. Bukan karena akhir yang duka, tapi karena keberanian untuk memulai lagi.

Kamis, 12 Juli 2012

Sini, Duduk di Sebelahku

Ini sebenarnya beberapa tweet gue beberapa bulan yang lalu (kurang kerjaan ya ngubek-ngubek timeline sendiri... :| ) sayang banget kalau harus berlalu begitu saja. Hehehehehe... Jadi, gue sajikan di blog lagi ah.


Sini, duduk di sebelahku. Apa menu duka kita hari ini? Apakah ada air mata dalam komposisinya?

Sini, duduk di sebelahku. Kita sama-sama menunggu takdir datang mengantarkan pesanan. Ajal, katanya.

Sini, duduk di sebelahku. Kita bergandengan. Jangan terlalu erat, takut tidak bisa merelakanmu pergi.

Sini, duduk di sebelahku. Matahari terbenam. Kita menua dan jiwa kerdil kita ketakutan.

Sini, duduk di sebelahku. Istirahatlah sejenak, kita mulai letih. Masih banyak jarak harus ditempuh.

Sini, duduk di sebelahku. Sesekali kita kalah. Jangan berpikir untuk menyerah.

Sini, duduk di sebelahku. Malam mulai merayap dan kamu tetap membisu. Nafasmu hilang.

Sini, duduk di sebelahku. Mimpi buruk mulai datang, kita enggan terpejam. Realita terasa menyakitkan.

Sini, duduk di sebelahku. Berapa banyak lagi luka masa lalu yang harus kita jahit? Sama menyakitkan.

Sini, duduk di sebelahku. Matahari mulai terbit lagi. Kita masih saja tenggelam di masa lalu yang sama.

Sini, duduk di sebelahku. Aku hanya meminta hidup tetap utuh. Apakah terlalu banyak?

Sini, duduk di sebelahku. Sudah berapa purnama berlalu tanpa kita saling tatap memahami?

Sini, duduk di sebelahku. Betapa kita tahu kata tak pernah cukup, dan diam adalah jawaban.

Sini, duduk di sebelahku. Kadang hari terasa penat, betapa berbagi rasa terasa melegakan.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak cukupkah kita hanya menjadi milikNya?

Sini, duduk di sebelahku. Berapa tangga nada lagi yang harus kujadikan sumbang agar kau tertawa?

Sini, duduk di sebelahku. Dunia terbalik. Kita tangisi memori indah dan tertawakan kepiluan lalu.

Sini, duduk di sebelahku. Tak perlu menghitung waktu, biar kita saling menikmati keberadaan.

Sini, duduk di sebelahku. Kita akan nikmati kenangan yang sama. Suka yang sama. Duka yang sama.

Sini, duduk di sebelahku. Kadang nyanyian tak hanya lagu, aku cinta lirik. Tidakkah kau lihat sayapku?

Sini, duduk di sebelahku. Aku mulai lelah, kehilanganmu meninggalkan jurang curam. Sementara ego terlalu angkuh memintamu kembali.

Sini, duduk di sebelahku. Ketika pahit manis hidup menggerogoti napasmu, tinggalkan saja. Secangkir kopi cukup melegakan.

Sini, duduk di sebelahku. Saling mengisi kehadiran satu sama lain cukup untuk satu dekade tanpa dirimu.

Sini, duduk di sebelahku. Berapa duka yang kulewatkan? Berapa suka yang kau reguk sendiri?

Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memaafkan kalau saling mencintai tak pernah cukup untukmu.

Sini, duduk di sebelahku. Siapa tahu api amarahmu redam oleh air mata kesedihanku.

Sini, duduk di sebelahku. Hanya duduk saja. Tidak apa kalau kau tak paham.

Sini, duduk di sebelahku. Hening bisa menyembuhkan. Ketimbang kau lelah meminta penjelasan.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa jika kita saling menyakiti dengan kejujuran. Kita tidak lagi saling mencintai.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa. Hanya duduk saja. Pelan-pelan kita menjadi asing satu sama lain.

Sini, duduk di sebelahku. Kita sama terasing. Kita sama tercela. Lalu kita akan memulai dari awal, saling mengenal dan mulai mencintai.

Sini, duduk di sebelahku. Aku akan diam. Dunia hanya akan mencacimu. Aku cukup untukmu kan?

Sini, duduk di sebelahku. Kita terasing. Terpaksa harus saling memahami. Tak sengaja saling menyakiti.

Sini, duduk di sebelahku. Tak mengubah apapun. Hanya saja, kita akan berlomba dengan hari. Siapa yang akan menyentuh senja terlebih dulu.

Sini, duduk di sebelahku. Jari mulai lelah. Mata mulai terpejam. Bagaimana kalau kita berbaring saja?

Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memuaskan dahaga rindu.

Sini, duduk di sebelahku. Selama ini aku diam. Ketika jutaan kata meledak, ikhlaskah kau menampungnya?

Sini, duduk di sebelahku. Sekali saja. Bicara dari hati ke hati.

Sini, duduk di sebelahku. letakkan kebebalan logika kita. dengar, hati menangis.

Sini, duduk di sebelahku. biar kita saling membunuh dengan kebencian. siapa yang tetap hidup, ia yang paling banyak kehilangan.

Sini, duduk di sebelahku. kita saling menyiksa dengan keberadaan masing-masing. tak peduli, punggung kita kesepian.

Sini, duduk di sebelahku. mendengar detak jantung masing-masing. biar sunyi mencekam.
Sini, duduk di sebelahku. kita akan berkisah berapa kehilangan yang kita alami dan hanya berapa yang kita ikhlaskan.
Sini, duduk di sebelahku. kita sama-sama menunggu. kapan duka akan sirna.



Demikianlah repost tweet-nya. Dikira cuma beberapa, tahunya banyak juga. Hope you like it, guys (whoever read this post)!

Senin, 09 Juli 2012

Fascinate #5: Tick Tock


Hai,
Hari ini aku sedang memikirkan kalian, mereka-reka siapa yang sedang gelisah saat ini. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kalian mengobrol ringan tentang hal-hal kecil seperti saat kita menghabiskan waktu bersama. Tapi aku tidak ingin mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Sudah. Sudah.
Aku... Sebenarnya ada hal lain yang lebih penting dikerjakan ketimbang menulis blog. Tapi... Ada yang ingin aku sampaikan sebenarnya saat ini. Betapa sebenarnya aku ingin mengganggu kalian dengan pesan-pesan singkat melalui telepon genggam, seperti yang biasa aku lakukan. Tapi aku kan tidak bisa mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Ya ampun aku tidak bisa berhenti meledek.
Aku memutuskan untuk mengosongkan kotak masuk pesan singkat yang ada di telepon genggamku. Semua pesan yang ada harus kupilah, mana yang penting untuk disimpan dan yang bisa dihapus. Kebanyakan pesan singkat itu berasal dari kalian. Banyak yang membicarakan tugas akhir dan lebih banyak lagi membicarakan hal-hal tidak penting. Lucu sih buatku. Kenapa kita selalu menyebutnya dengan kata-kata "tidak penting", padahal hal-hal itu yang kerap kali aku kenang bahkan bisa membuat aku tersenyum lagi. Di dalam telepon genggamku, aku membuat sebuah kotak berisi pesan-pesan kalian yang tidak ingin aku hapus. Aku menamainya "Thesemakelifebrighter&warmer". Ya. Karena memang itu efek yang kudapatkan dari pesan-pesan yang kalian berikan. Hari-hari yang aku lewati lebih cerah dan hangat. Jadi kubaca lagi semua pesan itu satu persatu. Semua ingatan tentang apa yang kita bicarakan menyeruak kembali ke permukaan. Benar-benar menghibur dan menyenangkan.
Aku jadi berpikir. Empat tahun itu seharusnya waktu yang lama. Tetapi entah mengapa terasa cepat sekali berlalu. Seseorang pernah berkata kepadaku "Jika waktu terasa cepat berlalu, berarti kita benar-benar menikmatinya." Ya. Kita menikmatinya. Padahal tidak semua dari hari-hari itu kita isi dengan kegembiraan, gelak tawa, atau lelucon. Sebagian besar waktu kita tentu saja untuk menimba ilmu. Waktu senggang-pun kerap kali membahas bahkan mengerjakan tugas kelompok. Jarang sekali, bukan, tanggung jawab bisa dinikmati. Dan saat kita benar-benar bisa menikmati waktu bersama adalah hal sangat menyenangkan. Kita bersenda gurau. Bertukar gosip (dan kita sering berkata "ini bukan gosip. Cuma diskusi evaluatif." [ok, ini aku yang ngomong]). We enjoy every single little silly conversations. Wait, what conversation? We 're just busy mockin' each other. Hahahaha... Aku tidak hanya menikmati waktu yang kita habiskan bersama-sama, saling bicara dan mendengarkan dalam jumlah banyak. Tapi aku juga menikmati pembicaraan dengan kalian secara individu. Saat itulah kita justru meluruskan banyak hal dan saling mengenal satu sama lain. Ah, kalian... Kita. Masing-masing memiliki ciri khas yang menghibur di sebagian besar waktu.
Empat tahun, tidak semuanya tentang tugas dan hal-hal menyenangkan. Pertengkaran. Situasi-situasi yang meresahkan dan membuat kita tidak nyaman. Sebagian menyeruak ke permukaan. Sebagian lagi dibiarkan terkubur karena merasa tidak nyaman jika harus dibicarakan. Salah paham. Kesedihan yang timbul setelahnya. Kekecewaan. Belum lagi api penyulut membuat jurang yang sesungguhnya adalah ilusi hadir di antara kita. Seharusnya kita hidup dalam harmoni yang sempurna saling berbahagia saling mendukung saling menyemangati saling berbagi saling...saling...saling...saling...saling... terlalu banyak "saling yang seharusnya" dan akhirnya saling menikam. Saat itu sulit sekali rasanya untuk memahami kalau tidak ada satupun dari kita yang benar-benar sama. Persepsi kita, bagaimana kita saling menerima, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah. Make it better or make it worse. Semuanya memiliki caranya masing-masing. Lalu apa yang salah dengan perbedaan? Apa yang tidak tepat dari perbedaan? Sibuk mencari-cari masalah apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, kita lupa bahwa kita sedang bertumbuh bersama. Pelan-pelan, kita belajar untuk berkompromi, mengalah, dan saling menerima. Tidak perlu menjadi sama dalam segalanya. Bukankah ini yang namanya harmoni sempurna? Kita tidak perlu menghilangkan ingatan tentang hal-hal yang tidak menyenangkan. Reframe. Sehingga saat mengingatnya kita bisa menertawakannya. Kita muda dan bodoh saat itu (serasa tua ya mamen nulis kalimat ini).
Empat tahun yang banyak mengubah kita. Sayangnya tidak semua hal merekatkan kita. Ada yang menjauh. Pernah mendengar istilah "people grow apart"? Berbahagialah mereka yang tumbuh dan berhasil melewati badai namun tetap saling memegang tangan. Sehingga saat kita menua nanti, masing-masing dari kita tidak perlu menjadi wajah tanpa nama. Atau nama tanpa wajah. Atau sama sekali menjadi asing. 'Tidak ada yang sia-sia'. Siapa yang bisa jamin? Seharusnya, jangan disia-siakan. Sudahlah, ini hanya pemahamanku saja.
Ah... Kenangan-kenangan berkelebat. Tidak peduli seberapa sibuknya kita menjalani hari, kita tidak akan melupakan satu sama lain. Aku sangat suka saat kita bisa bersama, saat kalian rela meluangkan waktu untuk berbagi makanan denganku. Memang terlihat seperti buang-buang waktu berharga kalian, aktivitas tak berguna bagi kalian, tapi kesediaan meluangkan waktu kalian yang membuat keyakinan bahwa persahabatan kita memang memiliki arti dan penting bagi kita. Waktu untuk mendengarkan, waktu untuk saling memahami. Kehadiran satu sama lain berharga, bukan?
Kalian bagian dari hidupku, yang ikut menentukan siapa diriku saat ini. Terima kasih untuk mata yang memerhatikan, terima kasih untuk mulut yang menghibur (atau mencela?), terima kasih untuk tangan yang merangkul. Aku sayang sekali pada kalian. Tidak tahu apakah aku pernah mengatakannya sehingga kalian mengetahuinya. Aku kan pemalu. Susah mengatakan, lebih mudah menulis. Hahahaha... Semoga kalian tahu, semoga kalian membacanya. Semoga sayangnya tersampaikan. Kalau tidak... Setidaknya tulisan ini akan selalu di list blogku. Semoga Blogger jaya terus, untung terus, nggak perlu ditutup. Jadi tulisanku akan terus ada. 10 tahun lagi. 20 tahun lagi. 30 tahun lagi. Halaaahahahaha... Tapi "KITA" selamanya dalam ingatan walau bertahun-tahun kemudian mungkin jarang di-recall. Hahaha... Pada akhirnya kita memang akan menapaki jalan kita masing-masing. Tidak ada pula yang menjamin kelekatan bisa melampaui jarak dan tidak dirayapi waktu. Hari ini dekat, besok menjadi orang asing. Tapi semua hal yang kita lewati bersama adalah apa yang membentuk kita saat ini. Tegakah kita melupakan sebagian dari diri kita?

 

Aku ingat pernah mengirimkan pesan cuplikan lagu Journey:
When pride build me up till I can't see my soul, will you break down this wall and pull me through?

Banyak jawaban, yang paling kuingat adalah:
Nope. I will climb that wall joining you and we will show off our pride together.

How could I ask for more? Hahahahaha...
Satu lagi, salah satu pesan yang kuterima di hari-hari aku harus pulang larut:
Lu naek kereta jam brp? Ati2 naek ancotnya. Kalo ketemu eksebisionis, katain aja tititnya kecil.

Hahahaahahahahahaha..... Sampe sekarang aku masih ketawa baca pesan ini. Please nggak usah ditanya siapa pengirimnya. X))
Bagaimana hari-hariku tidak penuh warna? Ahh, banyak kebodohan lainnya yang seharusnya kuceritakan. Tapi, sungguh, lebih baik kalian yang membaca blog-ku berkenalan dengan mereka semua. Apa keuntungan kenal dengan mereka? Aduuuh apa ya? Hahahaha... well, saya terberkati dengan banyak hal. Dan mereka adalah salah satu berkat yang Tuhan berikan. Kenapa kita harus menolak berkat, ya kan?
Semua kebaikan bisa menutupi kekurangan. Bukankah lebih penting kita bisa saling melengkapi?
Aku selalu berharap semoga berkat dan kebaikan melimpah-limpah dalam hidup kita serta kesuksesan dan kerendahan hati menjadi teman baik kita.
Tidak peduli seberapa jauh nanti jarak tidak memungkinkan kita bergandengan tangan, kita kan masih bisa saling mendoakan yang terbaik. Ya?

Rabu, 04 Juli 2012

Hanya Sebuah Nama




Hallo, apa kabar?




Aku sedang merindukanmu saat ini. Ah, lebih tepatnya aku selalu merindukanmu. Waktu dan jarak tidak hanya memasung pelukanku tetapi juga membiarkan rinduku terus menyiksa pemiliknya. Seperti gila. Kadang aku menangis, tak jarang tertawa lepas. Mengingat apapun yang pernah kita nikmati bersama. Sampai detik ini, kau tahu, aku punya banyak kisah yang ingin aku bagikan. Tapi takdir selalu saja membuat kita memijak tanah yang berbeda. Sungguh. Terkadang aku merasa keberuntungan pilih kasih. Ia tidak adil padaku. Jutaan pecinta sedang bergandengan tangan dan aku malah sibuk mengingat detil-detil kerut di bibirmu yang membentuk senyuman. Supaya aku tidak lupa akan senyum itu, aku selalu menciptakan proyektor imajiner jadi aku bisa melihatnya untuk kunikmati sendiri. Ahh, aku tidak pernah lelah merindukanmu seperti aku yang tidak pernah lelah mencintaimu. Hanya saja kadang rindu tak dapat kutahan ketika sedang membuncah, sama seperti cinta juga, bukan? :)

Mau tahu apa yang menarik dari hari-hariku yang sibuk dan sering merindukanmu? Aku menyebut namamu berkali-kali. Hey, tentu saja aku lebih sering menyebut nama Tuhanku! Kau tidak perlu merasa besar kepala seperti itu. Hahaha... Tapi aku tidak akan berbohong, kerap kali, ketika aku sedang berbicara pada Tuhan, aku selalu menceritakanmu. Berkali-kali. Cerita yang sama.

Hmmm... Ingat saat kamu bertanya mengapa aku tidak pernah memanggilmu dengan kata "sayang" atau "cinta"? Bukan karena aku tidak merasakan itu padamu, tetapi karena aku suka melafalkan namamu dari bibirku.

Rasanya seperti gulali yang menyentuh indra pengecapku. Manis.

Rasanya seperti merapalkan mantera yang mewujudkan mimpiku.

Rasanya seperti menaikkan puji-pujian atas penciptaanNya.

Sekali saja aku menyebutnya, lengkungan senyum yang tercipta bisa mengalahkan pelangi.

Sekali saja aku menyebutnya, awan-awan gelap di hariku menyingkir sekejap.

Sekali saja aku menyebutnya, dunia seolah jadi milikku.

Tentunya sekarang kau sudah mengerti alasanku, bukan? Jutaan kata sayang dan cinta bisa ditujukan pada siapa saja. Tetapi sekalinya aku menyebut namamu, pastilah itu adalah dirimu, untukmu, dan hanya kamu. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu ketika kamu adalah pusat revolusiku? Aku ingin tetap menyebutkan namamu berkali-kali sambil saling menggenggam jemari dalam masa depanku nanti. Tapi kita tidak akan mendahului Tuhan apalagi mendesakNya, karena apa yang Ia rencanakan untuk kita adalah demi kebaikan kita.




Aku suka menyebut namamu. Kerap kali kuucapkan saat lutut bertelut, kepala tertunduk, dan tangan terlipat. Aku mungkin jauh, tapi Tuhan selalu memelukmu.

Minggu, 17 Juni 2012

Maaf

Aku sadar sepenuhnya. Kerap kali aku selalu terbelenggu di kenangan yang itu-itu saja. Mereka bilang aku tidak bisa melanjutkan hidupku karena terperangkap dalam bayang-bayangmu. Tidak pernah mengetahui betapa selama ini aku sibuk dengan hidupku sehingga tidak sempat memikirkanmu. Tapi sekali saja aku merebahkan kepalaku, saat itu jugalah aku sibuk memikirkanmu seolah tidak ada ruang untuk hidupku nanti.

Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk merelakan semuanya, sehingga peluhku tidak perlu terbuang hanya karena aku sibuk menoleh ke belakang berulang kali sampai aku lelah dalam tangis. Hidupku penuh dengan kata "seandainya". Bahkan ini lebih  melelahkan lagi. Pun sangat sia-sia. Siapa yang dapat mengubah masa lalu? Ketika aku sudah kehabisan "seandainya", aku masih punya persediaan "seharusnya". Namun hasilnya selalu sama. Tidak ada yang berubah. Satupun.

Seandainya aku masih punya kesempatan, sekali saja, untuk bertemu denganmu. Aku pasti akan menatap jauh ke dalam matamu, berharap aku bisa melihat isi hatimu. Aku akan memeluk punggung yang selama ini diarahkan kepadaku, berharap aku bisa menghilangkan rasa rinduku. Sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya. Mungkin setelah itu kita bisa saling mengikhlaskan. Tapi... Mungkin saja saat ini kau sudah berada jauh kemana hidup telah membawamu, sementara aku masih di sini. Di pusara duka yang sama.

Aku takut jika suatu saat nanti napasku telah habis, aku tidak sempat meminta maaf padamu. Berapa banyak luka yang sudah kutorehkan? Bahkan kenangan akan wajahmu yang saat itu tampak terluka masih menyakitiku sampai saat ini. Maaf, sungguh... Aku minta maaf. Kadang aku berharap kau menatapku dan memakiku. Hina aku. Berteriak di hadapanku. Cecar aku dengan sejuta sumpah serapah. Kita akan bertengkar. Biarlah saling menyakiti. Tapi setelah itu kita bisa saling memaafkan, bukannya saling memunggungi, pergi, dan menjadi orang asing seperti ini. Meninggalkan bongkah kepahitan yang rasanya seperti beban yang harus dipikul sampai mati.

Tapi aku ragu. Seandainya kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali, mungkin kita hanya bisa tersenyum singkat, melambaikan tangan, dan berbasa-basi tanpa arti. Kemudian kembali pada hidup kita masing-masing, seolah tidak terjadi apapun di antara kita.

Menyisakan seorang aku di sini dengan kata maaf yang tak pernah berhasil melewati tenggorokanku.

Rabu, 13 Juni 2012

Fascinate #4: Our Leadaa's Birthday

Hai!
Aku melewatkan bulan kemarin ya? Ada yang kangen padaku, siapapun? :)

Baiklaaaah...
Hari ini aku ingin menceritakan tentang Birthday Surprise Party si Indri di tahun ke-4 kami bersama.
The Birthday Girl :)
Sebenarnya aku ingin menceritakan aibnya juga, tapi berhubung aibnya nggak sebanyak si Coco, malah daftarnya hampir bersih, ya sudahlah yaaa... Nggak bisa digossipin juga ya jadi gimana dong? Eh, tapi ada deh. Indri nggak bisa bedain makanan bagus atau makanan basi. Hahahahahaha...


Lanjut!


Pertama kali aku ketemu Indri adalah saat ospek kampus. Waktu itu pemilihan Teh Psy dan Kang Edu, semacam abang-nonenya Jurusan. Yang kepilih jadi Teh Psy adalah Indri. Yang kepilih jadi Kang Edu adalah Budi. Jadi deh Indri dan Budi berdiri di depan ruangan memimpin latihan yel-yel. Saat itu, aku nggak tahu siapa yang mencolok. Budi yang gede atau Indri yang kecil. :D


Nah...


Sejak saat itulah si Indri selalu dipilih dan dipilih dan dipilih untuk jadi Ketua Kelas, jadi PJ Statistika I (waktu itu mata kuliah yang pertama), yang disuruh nyari-nyari informasi, yang ditanyain segala macem, yang nampung aspirasi, bikin alur jarkom. Pokoknya urusan repot tuh pasti Indri. Lama-lama curiga jangan-jangan Indri ditumbalin. :D :D :D


Indri adalah anak yang rajin dan cerdas (ini seperti narasi buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 SD, ya? Eh, tapi ini serius!). Aku suka merasa lega kalo menemukan diri sekelompok belajar sama Indri. Hahaha... Aku ingat pertama kali Indri berdiri di depan kelas menjelaskan Statistika karena saat itu kita akan menghadapi UTS. Enak nih punya teman kayak gini, kalo ada yang nggak ngerti bisa minta diterangin sampe ngerti. :D :D :D


Entah masih pada ingat atau tidak mengenai insiden mata kuliah Bahasa Inggris yang nggak pernah kesampaian itu (kapan-kapan kuceritakan (entah kapan)). Seingatku Indri yang mengusulkannya (tolong dikonfirmasi), aku nggak bisa lupa waktu Indri ngomong "Waktu SMA gue nggak pernah kayak gini." dengan penekanan pada setiap katanya. Yang waktu itu kupikirkan, ya udah sih Ndri, lo dulu badung juga nggak apa-apa.... :D Itu tuh kejadian yang untuk pertama kalinya Indri kelihatan manusiawi. Hahaha... (rajin dan cerdas nggak manusiawi ya?)


Nah, itu sekilas tentang Indri. Mari kita lanjut ke Pesta Kejutannya.


Dimulai dari si Uwi yang mengatakan bahwa dia ingin membuat kejutan untuk Indri yang sebentar lagi mau ulang tahun. Tahun ini adalah tahun terakhir kami semua bareng-bareng. Jadi kita harus bikin sesuatu yang spesial. Uwi emang memberitahukan rencananya ke aku, tapi dia tidak mengizinkan aku ikut karena saat itu aku kena cacar. Pokoknya habislah saat itu aku dicela dan didera serta dikucilkan.


Ini seharusnya si Uwi yang cerita!



Setelah si Uwi berhasil mengumpulkan massa (dalam kasus Uwi adalah mangsa) untuk berunding, sampailah pada 3 pilihan yang memungkinkan dan akan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Informasi dikirimkan melalui email kelas. Uwi tuh benar-benar niat sampai harus ganti password email kelas. Soal totalitas, Uwi emang kudu diacungin jempol. Akhirnya setelah pemilihan suara terbanyak dan pertambahan beberapa ide-ide (yang beberapa ngawur) diputuskan untuk bikin acara kejutan dan makan siang di kampus. Sempat juga Jay mengajukan ide sekalian aja ulang tahun si Indri kita rayain di KFC atau McD, biar kayak bocah beneran. Tapi kata Uwi, budget kita tidak mencukupi. Padahal kayaknya ide itu brilian banget! Bayangin, paling acara ulang tahun di tempat begitu dari usia 1-5 tahun aja. Nah ini usia 22 tahun!! Keren kan??? (regresinya total!)

Kita berniat bikin tulisan... Kayak gini nih:





Edisi Cherrybelle harus ada:









Dan akhirnya pada hari Kamis (7/6) Uwi dan kawan-kawan membuat persiapan. Sayangnya gue nggak bisa datang. Gara-gara cacar (ini lama-lama cacar jadi penyakit sosial ya?). Indri datang juga saat itu. Aku sempat dengar cerita dari Uwi, Anti, dan Ajeng yang bukan cuma heboh siapin acara, tapi juga heboh ngehindar dari Indri. Sampai mau nanyain Galih yang lagi bareng Indri lewat telepon, Galih cuma boleh jawab "iya" atau "nggak". Indri tuh sempat mengalami pengucilan, ngapain sih dia datang hari itu. Tapi Indri nggak ngerasa. :D :D :D

Sebenarnya ini lagi panik nunggu Indri datang, kan?
Uwi meminta kami untuk datang jam 9, berhubung aku ada kegiatan lain di Rawamangun, jadinya aku datang jam 11.

Paginya (8/6), aku mengirimkan pesan ke Indri, karena dia minta tolong diambilkan sertifikat TI. Aku ragu antara ingin mengucapkan selamat ulang tahun atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengucapkannya. Saat aku mau berangkat ke Halimun, Indri meneleponku untuk memberitahu apakah aku ingin ke Halimun (soalnya kubilang aku tidak ada rencana ke Halimun) karena dosen pembimbing skripsi kami ada hari itu. Ebuset! Gue mau ngasih surprise ke dia, malah disuruh bimbingan skripsi! Sempat mau mengucapkan selamat ulang tahun, tapi... ya sudahlah!

Akhirnya, berangkatlah aku ke Halimun dengan terburu-buru dan sialnya ntah kenapa Transjakarta yang kutumpangi kena lampu merah terus, SEMUA LAMPU MERAH SEPANJANG RAWAMANGUN-HALIMUN! Padahal, Uwi udah sms meminta kami berkumpul karena Indri sudah tiba di kampus.

Sesampainya di Halimun, aku langsung ke kelas 306, tempat acaranya nanti yang sudah dihiasi. Bukan ruangannya, tapi papan tulisnya yang dihiasi. Kondisi kalang kabut dengan segala aktivitas yang menghebohkan. Kemudian Pipit yang sudah datang langsung memberikan revisi skripsiku. Saat aku sedang menatap nanar revisinya, Uwi meminta aku untuk menemani Ajeng yang saat itu sedang bersama-sama dengan Indri untuk menghadang Indri agar tidak naik ke lantai 3. Aku berniat untuk membahas revisiku, tapi dicegah Pipit karena Indri tahunya Pipit tidak ke kampus hari itu.


Akhirnya aku turun ke bawah dan menemukan Ajeng dan Indri sedang berjalan masuk ke kampus. Aku pura-pura bertanya ruang dosen ikut pindah ke lantai 1 atau tidak dan ocehan lainnya yang lebih mirip babbling bayi. Kemudian Ajeng berkata “Eh, ucapin selamat ke Indri dong, dia kan lagi ulang tahun.” Dan aku sempat bengong, ini sih kesannya gue nggak tahu ulang tahun Indri. Masa’ ngucapinnya cuma gitu doang... Ah... Kemudian aku mengucapkan selamat ulang tahun sambil lalu dan mengulurkan tangan yang ditolak Indri (ucapan selamat macam apa itu!). Akupun menuntut Ajeng dan Indri untuk mampir ke warung kopi. Mau minum cappucino. Kemudian aku ngoceh nggak jelas soal skripsi. Setelah minumannya datang, aku sibuk minum dan Indri sibuk mengobrol dengan Ajeng. Tak lama, Ajeng melempar kode ke arahku yang tidak diketahui Indri untuk kembali ke kelas (padahal Cappucino-ku belum habis). Ternyata sedari tadi Ajeng berkirim sms terus sama Uwi, karena takut Indri ngebaca siapa yang sms Ajeng terus, akhirnya Ajeng mengganti nama Uwi jadi “Intan”. Sebenarnya aku mau nanya, kenapa nggak ganti nama yang masih mirip aja kayak “Hani” atau “Siti”. :D

Akhirnya kami kembali ke kelas dengan penuh perjuangan. Indri dihadang banyak orang. Belum lagi si Mita ucuk-ucuk ngajak Indri ketemu Bu Felli. Aku sama Ajeng heboh lari ke kelas. Dan disambut segerombol orang yang di kepalanya udah terikat karton bertuliskan berbagai macam frase di belakang pintu dengan wajah panik dan bertanya-tanya “Indrinya mana? Indrinya mana? Ini cokelat kuenya keburu meleleh. Lilinnya keburu habis. Panggil... Panggil...” Akhirnya Indri-pun digeret ke kelas. Baru melihat kelasnya, belum sampai masuk ke dalam, Indrinya udah nangis masaaaa.... Kemudian Indri masuk, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi genjrengan gitar Galih. Kemudian Indri meniup lilin.

Lalu ada sesi potong kue, buka kado, nonton video ucapan dari beberapa teman yang ikut persiapan (aku nggak ikut, aku kena cacar... ). Semua itu dilakukan Indri dengan wajah merah dan air mata bercucuran. Ini nih video yang dibikin Uwi dkk:

Entahlah. Ekspresi Indri paling bagus tuh emang pas dia menangis dengan wajah merah. Hahahahahahaha.... (ampun, Ndri...) Ulang tahunnya dua tahun yang lalu pun dia nangis. Kado dua tahun lalu itupun warnanya hijau juga. Hahahaha...

Kelakuaaaannn....
Setelah foto-foto, kami makan. Dan anak cowok pada sholat Jumat. Kiki merangkai karet (sempat salah itu bikinnya) bersama dengan Mita dan Fitri. Habis itu mereka main lompat karet bareng Ika dong. Kurang hebat apa gue masih bisa waras sampe sekarang, temen-temennya gini semuaaaaa... Hahahhahaha...

Yang kurang dari acara itu mungkin kami nggak bisa hadir semua. Tapi semoga yang hadir bisa mewakili yang tidak hadir, ya...

Soooooooooooooooo.......
HAPPY BIRTHDAY, INDRI JAYANTI!

Terima kasih karena selalu bersedia untuk kami repotkan. Terima kasih karena bukan hanya selalu mempertimbangkan semua pendapat kami, tapi juga selalu menampung protes kami.

Terima kasih untuk empat tahun ini. Semoga selalu ada empat tahun ke depannya, dan empat tahun berikutnya lagi, dan untuk selamanya.

Mungkin yang harusnya kamu tahu, kamu adalah leader yang bukan hanya bisa mengayomi kami, tapi kamu adalah leader yang dicintai teman-teman sekelasnya.

We’re grateful to have you in our class. We’re grateful more to have you in our lives.
Our Leader

THANK YOUUUU, LEADAAAAA!!!!

Ndri, nggak peduli gimana cara hidup atau orang-orang memperlakukan kamu, kamu nggak akan pernah kekurangan hal-hal yang membuat kamu tetap bisa menegakkan kepala. Kamu selalu punya alasan untuk bisa berdiri tegak. Yang paling penting yang kamu harus sadari adalah: you deserve to be loved. And of course FASCINATE LOVES YOU!!!




Gitu ceritanya... :)
Makasih untuk Dessy yang bersedia nge-foto-in kita.
Makasih buat Erik yang ngasih kabar ke Indri bahwa hari itu ada Bu Felli (padahal nggak ada, dan anehnya gue juga ikut ketipu).




Sampai jumpa di kisah Fascinate berikutnyaaaa.... :)


Minggu, 22 April 2012

Egois

waktu,
istirahatlah sejenak. tidakkah kau lelah melaju tanpa henti?
duduklah di dekatku.
akupun ingin berhenti sejenak.
biarkan senja, sekali saja, menunda ditelan malam.
bulan bisa menunggu, bintang akan bersabar.
aku janji kau tak akan bosan menatap senja yang sama...

Kamis, 29 Maret 2012

Fascinate #3: Ketika Pak Camat Lewat Kuburan

Ada saat-saat dimana kita teringat permainan yang kita nikmati ketika kita masih menjadi anak-anak. Disinilah saya, kembali dengan sebuah kisah tentang permainan masa kecil saya, namun menciptakan memori baru ketika saya berusia 22 tahun. :)

Siapapun anda yang mungkin sedang membaca kisah saya, saya ingin sekali membawa anda masuk ke dalam kelas saya, berinteraksi dengan teman-teman saya, dan kemudian mengagumi saya yang masih mampu mempertahankan kewarasan saya sampai detik ini. Hahahahaha....

Hari Selasa (27/3), waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Biasanya, saya sudah bergegas pulang supaya bisa naik kereta yang langsung menuju Serpong tanpa harus transit di Tanah Abang. Tapi hari itu, teman-teman saya melarang saya pulang sore. Tak lama, hujan turun cukup lebat sehingga saya urung untuk pulang. Kamipun bergossip nggak karuan. Saya sesekali jejeritan mengikuti (mengacaukan, tepatnya) petikan gitar Galih yang mengiringi nyanyian Budi.

Tiba-tiba melintas ide di kepala Uwi untuk mencoba main ping-pong. Salah satu ruang di lantai dua yang letaknya di ujung koridor kanan (kalau menghadap Barat) memang kami manfaatkan sebagai tempat olahraga ping-pong untuk mengusir kepenatan mahasiswa dan kadang dosen ikut main. Setelah Ajeng, Jay, dan Uwi selesai sholat dan Budi serta Galih mulai kalap nyanyinya, pergilah kami menuju kelas ping-pong bersama Fyryn, Imanika, dan Masyita. Ternyata, ada adik-adik kelas kami yang sedang main. Uwi memanggil bala bantuan berupa Kharis supaya kami bisa main. :D

Akhirnya permainan adik-adik kelas kami (di)selesai(kan). Kharis dan Masyita mengajarkan kami cara bermain ping-pong dan peraturan-peraturannya. Setelah itu kami diberikan kesempatan untuk mencoba sekaligus mempermalukan diri sendiri: Ping-pong a la bulu tangkis, Imanika yang "Ok, gue mukulnya pelan ya." kemudian terdengar bunyi bola yang membentur meja ping-pong cukup keras, dan servis yang berkali-kali menyentuh net. Setelah cukup lelah tertawa terbahak-bahak, saya memutuskan bahwa ping-pong tidak cocok menjadi media katarsis. Sayapun keluar kelas, ke ujung lorong. Menemani Fyryn yang sibuk mengambil foto matahari terbenam sambil berceloteh ratusan kali "Ih, sunsetnya bagus! Ih, sunsetnya bagus! Bagus ya?"

Kemudian Kharis dan Imanika ikut keluar kelas, saya sibuk mencoba mengintervensi Kharis dengan lagu-lagu Disney dan gagal (lagi). Kemudian Kharis dan Imanika pergi. Galih datang dan Fyryn masih sibuk mengambil foto. Galih menyanyikan lagu "What a Wonderful World"dan saya nyambung jejeritan.

Senja yang damai, jika dalam kata "damai" ada indikator jejeritan merusak lagu dan suara tawa yang berasal dari dalam kelas serta Fyryn yang berulang kali bilang "berisik!" kepada saya.


Kemudian datanglah Ajeng, ntah bagaimana kami berakhir dengan berfoto-ria yang kemudian disusul Uwi dan Jay. Sementara itu di dalam kelas, para cowok tampan -para cowok yang dimaksud adalah Galih, Fikar, dan Adit, sementara yang tampan adalah Masyita. Paham? :D- bermain ping-pong, kami berbincang santai.

Senja yang damai, sampai segerombol mahasiswi regresi mengacaukannya.
........
Kami sibuk mengobrol. Jay mungkin lelah berdiri kemudian memutuskan untuk berjongkok di antara saya dan Uwi. Uwi memegang kedua tangan saya kemudian mulai bernyanyi "Coca-Cola... Di sini ada pesta..." Dan dalam hitungan sepersekian detik seluruh ingatan permainan yang ada lagunya menyeruak dalam ingatan kami, sekejap saja kami menjadi ribut.

"Do mi ka do, mi ka do, es ka... Es ka do, es ka do..."

"Minyak kayu putih digosok di badan, bendera merah putih..."

"Bapak darimana, Pak? Dari Cibodas..."

"Putih-putih melati, Ali Baba..."

Kami sibuk bernyanyi dengan lagu masing-masing... sampai seketika "STOP!!! Berhenti! Ganti... Ganti lagu yang lain!! Jangan yang itu! Stop! Ganti... Ganti... Jadi ingat... Gue takut." seru Ajeng sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengarahkan tangannya ke Uwi agar berhenti menyanyi. Jay mencoba bernyanyi lagi, kemudian Ajeng kembali berkata "Stop! Stop! Ganti lagunyaaa...."

Kami mendadak terdiam. "Aduh... Gue jadi keinget nih. Gue takut." Muka Ajeng pucat, campuran panik dan ketakutan. Saya benar-benar bingung, saya melihat ke sekeliling, mungkin Ajeng dan Uwi melihat 'sesuatu'? "Ajeng kenapa?" tanya saya. Saya mendengar Fyryn dan Imanika menanyakan hal yang sama beberapa kali. Ajeng menggumam tidak jelas. "Ya udah. Sholat aja deh. Yuk!" saya mendengar seseorang berkata tapi saya tidak tahu siapa. Saya fokus ke Ajeng.

Kemudian Uwi mulai menyeringai, terkekeh, dan tertawa terbahak-bahak. Cuma dia sendiri tuh yang tertawa. Ajeng masih bicara, tapi saya tidak menangkap apa yang dia ucapkan. Tiba-tiba Uwi berlari dengan menghentakkan kaki dan menimbulkan suara yang keras, tepat! Uwi sedang berusaha membuat semua panik. Ajeng ikut berlari. Mereka berhenti di depan pintu kelas ping-pong. OKAY, AJENG! LO TUH KENAPA SIH?! saya berpikir. Ajeng mendobrak pintu kelas ping-pong. Uwi makin kencang tertawa sampai membungkuk memegang perut. Kami menghampiri mereka berdua. Saya mendekati Ajeng, kemudian melirik Uwi yang masih sibuk ngakak. "Kenapa sih?" tanya saya. "Dia takut..." seru Uwi di sela tawanya. Anak-anak cowok yang sedang main ping-pong sampai kaget saat Ajeng mendobrak pintu. Adit menatap Ajeng, tampak cemas berkali-kali bertanya "Kenapa sih? kenapa sih?". Ajeng tidak menjawab juga. Mukanya masih pucat. "Ya udah yuk, sholat aja." saya mendengar suara Fyryn. "Ayo balik ke kantin aja." ajakku. "Tapi itu gelap! Hidupin dulu lampunya." Ajeng menunjuk lorong yang gelap. "Ya udah kita gandengan tangan aja berenam." usulku. Tapi Ajeng ngotot nggak mau beranjak. Akhirnya Imanika yang sedari tadi bengong dan bingung melihat Ajeng, pergi menghidupkan lampu yang ada saklarnya di seberang lorong. "Nih. Lo gandengan sama Ishy aja." kata Uwi. Tak lama lampu hidup dan Imanika kembali bersama kami. "Gue sama Iman aja." kata Ajeng. Adit yang melihat adegan ini iseng berkata "Hati-hati ya, jangan ngelihat ke arah HMJ." kami mendelik, ngeri juga melihat HMJ yang gelap. Kemudian Ajeng menggandeng tangan Iman dan berjalan buru-buru. Diikuti Fyryn. Saya dan Uwi bergandengan tangan. Jay yang sedari tadi tidak saya sadari keberadaannya nyempil di tengah-tengah saya dan Uwi, "Gue di tengah-tengah dong!" katanya sambil menutup wajahnya dengan kipas agar tidak melihat ke arah HMJ. Saya dan Uwi jadi tertawa.

Sesampainya di kantin, kami berkemas karena mereka memilih sholat di mesjid. Saat saya memakai tas dan mereka merapikan barang-barang mereka, saya bertanya ke Ajeng yang masih pucat. "Kenapa sih, Jeng?" Ajeng menempelkan tangannya ke pipi sambil menggelengkan kepalanya, menolak cerita. Saya masih terus bertanya, dan akhirnya Ajeng bicara juga. "Gue tiba-tiba takut ingat liriknya. terus gue jadi takut. Gue lihat pohon jadi serem, Shy!" lirik apa? Kenapa takut? Kami jelas bingung. "Yang ituuu... 'Pak Camat lewat kuburan'..." "HAH?!!" sontak kami berseru, "'Pak Camat lewat kuburan' yang mana siiik?" Ajeng menjawab "Yang Pak Camat jualan tomat, yang beli harus hormat. Pak Camat lewat kuburan..." "HAH?!! SALAH! 'Pak Camat pake kacamata', Jeng!" (benar-benar pembicaraan absurd abad ini) "Nggak ah! Lewat kuburan!" Ajeng masih ngotot. Tapi kami berlima ngotot lirik yang benar adalah 'pake kacamata'. "Oh, salah ya? Yaaah... Gue udah takut, ternyata salah lagu...!" kami jadi tertawa. "Yang ini kali maksud lo 'mama pergi... papa pergi... aku sendiri...'" ujar Jay. "Nah! Yang itu ada yang lewat kuburannya." seru kami. Setelah berhasil menemukan lagu yang pas dengan lirik kuburan, kami pulang dalam damai... THE END

Inilah salah satu hari paling ngawur dalam hidup saya. Sibuk melakukan hal-hal kecil yang tidak penting, tapi siapa sangka malah jadi harta berharga di ingatan saya.

Saran saya, berkenalanlah dengan Ajeng. Dia tengil dan nggak pernah tahu alasannya disebut tengil. :D Mungkin dalam kisah ini, dia tidak kelihatan seperti itu. Tapi percayalah, ketika dia memulai gayanya, kamu akan shock menemukan diri kamu membayangkan ngulek Ajeng pakai ulekan. (habis ini Ajeng pasti protes karena dikatain! :D) Tapiiii... Ajeng juga teman yang menyenangkan untuk diajak sharing dan menggosip! :D Ajeng punya caranya sendiri untuk membuat suasana meriah dengan guyon "orang kaya"nya yang ngawur dan nggak masuk akal!
That's the reason why we loveeeee Ajeng.... :)


Ah! Iya... Melihat Fyryn yang sibuk ambil foto, saya jadi ikutan memotret dengan kamera hp. Ini dia! Pemandangan dari lantai 2 UNJ Halimun.


Ini salah satu senja terbaik Halimun. Saya bisa menyebutkan ribuan tempat yang lebih baik daripada sebuah gedung tua dengan keramik lantai 2 nya pecah dan cat tembok yang mengelupas. Tapi tidak banyak tempat luar biasa yang bisa menjadi 'rumah', yang menjadi tempat saya untuk pulang. Tempat dimana saya bisa berbagi dengan orang-orang yang saya kasihi. Dan di sini, tempat saya menikmati senja sambil menyanyikan lagu "What a Wonderful World" dengan suara lantang. :))

Saya tahu, ini bukan masalah tempat secara fisik semata. Ini mengenai dimana hati saya berada dan dengan siapa saya bisa melagukan sukacita yang saya rasakan. :)

Rabu, 29 Februari 2012

Gelembung Rindu

Berapa lama aku sudah mengabaikanmu, sayang?
Sibuk dengan hariku....
Sibuk dengan hal-hal kecil...
Sampai melupakan kamu yang sudah menjadi bagian hidupku.
(atau akan lebih tepat untuk mengganti kata "sudah" menjadi "pernah"?)
Aku sayang padamu.
Sayangnya, kerap kali aku lupa menyatakannya dengan tulus.
Sehingga kita harus kehilangan momen kita, saat dalam diam hanya saling menatap mata, tanpa kata, namun terasa nyata.
Aku harap kamu tidak lupa pada ratusan lagu yang telah kita nyanyikan bersama.
Aku harap kamu tidak lupa pada untaian kenangan sekalipun semua tampak berdebu.
Marahkah kamu jika aku terlalu banyak berharap padamu?

Aku letih. Aku sudah hampir menyerah. Pasrah pada hidup, kemana ia akan menyeretku.
Saat-saat itulah kamu muncul. Di tempat yang tak terduga. Di saat pikiranku sibuk dengan hal-hal lain.
Mata bertemu mata. Hanya butuh tarik bibir sederhana yang membentuk senyum dan sekejap saja suka duka yang kualami saat bersama dengan kamu menyeruak, menyesak, meluluhlantakkan hingga aku tidak berdaya.
Lucu cara Tuhan untuk menegur aku.
Berapa banyak yang aku lewatkan, Sayang?

Tiba-tiba aku sadar...
Satu ruang kosong, besar, berdebu di hati... Seharusnya jadi tempat yang nyaman bagimu untuk singgah.
Ruang itu dipenuhi oleh gelembung-gelembung rindu yang kemudian menyatu menjadi sebuah gelembung besar, memenuhi ruangan.
Aku tidak pernah menyadari ruang kosong itu. Gelembung itu memenuhinya.
Aku pikir aku utuh.
Sampai gelembung rindu itu pecah. Aku menyesak.
Tiba-tiba semuanya hampa, tiba-tiba semua yang kulakukan seolah tak berarti.
Seolah satu-satunya hal yang penting adalah memelukmu dan membiarkan kamu mengisi kekosongan hati.
Berapa lama waktu yang telah kusia-siakan dan membiarkan kamu pergi, Sayang?

Aku ingin kembali padamu.
Sibuk mencintai kamu. Apalagi yang lebih penting?
Lalu pada saat senja datang,
kita akan duduk di sebuah kursi yang menghadap jendela...
menatap matahari yang mengalah pada bulan...
atau...
aku akan membaca novel romansa dan kamu memetikkan senar gitarmu.
kita tidak akan jengah dengan cinta satu sama lain.
merasa nyaman tanpa harus saling membuai.
merasa aman tanpa harus saling memerhatikan.

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melegakan dahaga rindu.
Kamu hanya harus berada dalam pelukanku.

Mmm, bisa kita lakukan sekarang? :)

Senin, 13 Februari 2012

Ketika Benci dan Cinta Beriringan, Saya Minta Maaf

Saya merasa bodoh.

Maaf yaaa, karena saya kecewa pada hal-hal yang menurut kamu sepele. Saya malu pada diri saya sendiri, karena hanya dari hal sepele itu saya merasa jadi bagian dalam hidup kamu.

Kamu selalu meyakinkan saya kalau semua itu berlebihan. Kamu selalu mengucapkan prinsip-prinsip kamu dengan lantang, mematikan ego saya. Saya merasa kamu tidak menerima emosi-emosi saya.

Maaf kalau saya membuat kamu lelah, maaf kalau saya membuat kamu menjadi orang jahat yang meninggalkan saya dalam ketakutan saya. Maaf kalau saya selalu membuat kamu merasa seolah harus "memberi makan" kecemasan neurotik saya yang tidak pernah kenyang. Sampai-sampai kamu harus selalu memuntahkan sejuta nasehat, tapi mengapa kamu tidak memberikan jawaban? Mendengar pertanyaannya saja tidak.

Saya salah ya?

Saya sedih di sini, saya merasa ada kekosongan di relung hati saya.

Tidak... Tidak... saya tidak meminta kamu mengisinya. Ego kamu terlalu besar untuk saya tanggung sementara saya butuh ruang untuk harga diri saya.

Bukannya saya ingin memusingkan kamu dengan sejuta hal-hal remeh. Tapi ada kebahagiaan yang saya ingin kamu rasakan dan ada kesedihan yang tidak bisa saya pikul sendiri.

Walau kerap luput, ternyata tidak cukup hanya sekadar saya mencintai kamu.

Kamu meminta saya jadi sempurna menurut cara kamu dan kemudian kamu menjatuhkan saya. Tidakkah itu berarti kesempurnaan kamu bahkan tidak sempurna? Kamu menuntut banyak hal, tapi tak pernah mau duduk berdampingan sekadar menanyakan kabar saya sehingga pelan-pelan kita dapat saling memahami.

Kamu menyingkirkan saya. Saya salah. Saya menyusahkan. Kamu lelah. Tapi itu tidak menjadikan saya menutup mata, telinga, mulut, dan hati saya terhadap kamu. Kan saya sudah katakan saya mencintai kamu.

Saya tidak menyalahkan kamu. Mencintai kamu tidak membuat saya buta pada kebenaran, karena saya ingin kamu berada di jalan yang benar. Saya tidak muluk, saya mencintai kamu. Tidak... tidak... saya tidak meminta kamu mencintai saya juga. Cinta itu bukan balas budi.

Saya tidak mendendam tidak sama dengan kamu boleh melukai saya. Saya hanya menyimak karma yang sibuk memmpraktekkan Hukum Newton III. Itu bukan kehendak saya. Kalau kamu ingin sejenak mendengarkan saya, saya hanya ingin kita baik-baik saja.

Saya bukannya tidak bisa sendiri, saya tahu saya lebih hebat dari kamu (heran kan mengapa selama ini saya menelan ego saya?). Saya juga tahu tanpa kamu saya bisa lakukan semua lebih baik. Bahkan jauh lebih baik. Kamu yang tidak mengerti, saya rela terlihat bodoh karena menginginkan kamu ambil bagian dalam hidup saya. Sekalipun kecewa sering menghampiri. Kamu dengan pikiran besar kamu, saya di sini mencoba merealisasikan hal-hal kecil dan kamu bilang saya idealis. Hey, saya merealisasikan idealisme saya! Bagian mana yang tidak kamu mengerti?

Saya terpaku pada hasil? Kamu yang tidak mengerti. Saya akan mengusahakan apapun yang bisa mempersenjatai saya pada sesuatu yang kamu bilang hidup yang keras. Kamu bilang pada akhirnya itu tidak akan terpakai? Hey, bukan saya yang menyia-nyiakan apa yang saya miliki.

Kalau kamu tidak memahami sesuatu, bukan berarti hal itu salah. Kalau sesuatu tidak sesuai dengan prinsip kamu, bukan berarti hal itu tercela.

Kamu tahu, saya memperhatikan kamu. Saat kamu melontarkan pernyataan diplomatismu, seluruh kata-kata bijak memuakkan, mencoba pembicaraan memutar-mutar berharap saya terkesan (saya tidak pernah terkesan pada orang bodoh. Serius.), kamu terlalu sibuk membangun citra diri. Kamu tidak sadar bangkai yang kamu simpan sudah tercium orang banyak. Kamu tidak tahu, mereka lebih banyak melihat perilakumu daripada menyimak yang kamu katakan.

Iyaaa, saya mencintai kamu. Tapi saya tidak bisa memberikan lebih dari apa yang saya dapat berikan.

Jangan khawatir. Saya bisa pastikan kepada kamu benci dan cinta selalu dapat berjalan beriringan. Ya, selalu.

Kecuali kalau suatu hari nanti saya tidak peduli lagi. Maka, pada hari itu akan sangat mudah bagi saya – semudah mengedipkan mata, semudah membalikkan telapak tangan – untuk menghilangkan semua kenangan tentang kamu. Pelan tapi pasti, saya merasa nyaman dengan ketidakhadiran kamu.

Kamis, 05 Januari 2012

Cerita

Seakan-akan kau berada di sini bersamaku, menikmati cokelat hangat saat tiap rintik hujan berlomba-lomba memuaskan dahaga bumi.

Kerap kali aku merasa utuh saat aku hanya menikmati waktuku tanpa interupsi yang berisik dari orang-orang yang menuntut perhatianku.

Aku menikmati bungkamku, tentu. Padahal kau sangat mengenalku, aku selalu punya jutaan cerita yang selalu siap meluncur bagai peluru kata-kata.

Aku akan menikmati perhatianmu, saat mata kita saling tatap. Aku dengan antusiasme yang selalu menyala dan kau dengan kesahajaanmu.

Dalam diam kau memahamiku, dan saat itu aku akan merasa dimengerti.

Tidakkah kau mencintai tiap ceritaku?

Kau tahu ceritaku selalu berakhir bahagia. Kau suka menyimaknya sekalipun kau pecinta realita, kau akan mengelus kepalaku sambil berkata "Bahagia itu bagianmu."

Aku selalu yakin dan kau selalu sadar bahagia memang bagian kita, kan?

Sekalipun aku selalu terburu-buru, aku akan teduh dalam tatapanmu. Bagai anak kecil yang kembali tenang saat diberikan mainan.

Kau selalu berkata perasaanku yang meluap selalu menular kepadamu, membuat kita mencintai hal yang sama.

Aku tahu kau adalah pendengar yang sabar, rela menunggu sampai isak tangis dan derai tawa yang kadang mengiringi cerita-ceritaku dan terlalu menginterupsi selesai.

Kau menyimak tiap tutur kata. Saat tiap kata itu habis, kau masih menunggu. Kau tahu bahwa perasaan-perasaan yang terikat pada tiap maknanya akan meledakkan aku jika aku tidak menyelesaikan cerita itu.


Kaulah kata-kata nyata yang kerap kali kulihat.

Kaulah kata-kata lembut yang kerap kali kuraba.

Kaulah kata-kata merdu yang kerap kali kudengar.

Kaulah kata-kata harum yang kerap kali kucium.

Kaulah kata-kata manis yang kerap kali kukecap.


Bagaimana lagi aku harus melantunkanmu, cinta?