Mencintai hujan yang meringankan tugas menyiram tanaman dan memuja terik matahari yang mengeringkan jemuran. Terlalu banyak yang harus disyukuri. Ya kan? :)
Jumat, 14 Desember 2012
Perjalanan Ini Aku, Pelajaran Ini Milikku
ada yang harus aku lakukan
kembalikan aku pada realitas
ada tanggung jawab yang harus kupikul
kupikir hanyalah aku sendiri
lupa jika mereka ada
dan kerap kali aku menjadi pikun
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku
kupikir hanyalah aku sendiri
dan, ya, di atas kakiku sendiri
tapi kegelisahanku kelaparan
kecemasanku butuh makan
lupa, mereka tidak akan pernah kenyang
aku berharap mereka ada
dan mereka memang ada
tapi aku kan bukan pusat tata surya?
sekalipun tak pernah habis
keluh sungguh tak ada guna
peluh bukannya membanjir
seberapa besar rupanya usahaku?
sulit sekali ya, bagiku
mengakui aku tidaklah sempurna
lebih mudah mencari kesalahan orang lain
aku tahu, tapi tak mau tahu
aku diam, tapi ingin mereka mengerti
sebenarnya, jika angkuhku boleh bicara
aku mampu sendiri
sebenarnya, jika kerapuhanku merintih
aku tidak mau sendiri
jiwaku sibuk ketakutan
imajinasiku mengerikan
aku merasa kerdil terkepung
tidak tahu harus bagaimana
banyak yang harus kumengerti
agar bisa membuat mereka mengerti
oh, sulitnya ketika aku melangkah karena insting
sementara setiap langkah harus diperhitungkan
sudah cukup, diriku sayang!
kita cuma menakuti diri sendiri
antara tahu dan tidak tahu
apa yang akan dihadapi
jangan sampai pikiranku buntu
karena sibuk memanjakan rasa takut
jangan sampai melumpuh
karena membiarkan cemas menggeroggotiku
jangan meminta lebih banyak
dari yang kubutuhkan
aku sendiri tidak bisa jamin
jika waktu bisa diulang, aku tak akan
jatuh di lubang yang sama
ikhlaskan terjadi, apapun itu
aku tidak punya waktu untuk berhenti
aku tidak bisa memutarbalikkan waktu
aku tidak bisa lari dari kenyataan
aku tidak bisa mundur lagi
aku izinkan diriku menghadapi semua
dengan sukacita, dengan tabah
aku izinkan diriku meraih kebahagiaanku
aku izinkan diriku meraih kesuksesan
aku izinkan diriku menjadi kuat
karena,
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku
Senin, 05 November 2012
Terlambat
Kata-kataku habis maknanya. Sementara kau tak kunjung paham.
Nada-nada menjadi tuli, mereka tidak mengenal lagi diri sendiri.
Maka apalagi yang harus kulagukan?
Halaman rumahku menggersang. Debu-debu mengotori teras.
Tanah sudah terbiasa dengan dahaganya.
Sebentar lagi aku yang mati.
Kita sudah terbiasa menjadi pahit, getir, dan lelah.
Tidak terpikir untuk berhenti.
Sudah terbiasa berduka.
Rusak.
Berdarah.
Seolah bukan masalah sehingga tidak perlu diperbaiki.
Kita berteriak satu sama lain.
Suara ternyaring adalah pemenangnya, sampai sebuah tamparan mendarat tepat di pipi.
Setiap kemarahan harus ditebus dengan rasa sakit.
Pikiran membuntu.
Semakin marah, semakin dengki, semakin ingin menyakiti.
Kemudian kau bingung.
Tanah menggumpal-gumpal kering tak akan bisa menutup rapat aku.
Kau takut orang-orang tahu aku membusuk.
Maka kau tanami atas ku dengan melati, bunga kesukaanku.
Terlambat, aku tak akan bisa melihatnya di dalam sini.
Terlambat, karena aku sudah tak bernapas untuk menciumnya.
Terlambat. Semuanya terlambat.
Selasa, 09 Oktober 2012
I’m Just Human Being #2: Ngawur
Well,
Masih menganggap "cuma manusia biasa" sebagai pembelaan diri yang menyedihkan.
Mau mulai darimana ya? Bingung.
Gue pernah ingat seorang teman yang pernah bilang, "Kita punya hak mengatakan 'tidak' untuk mengerjakan kerjaan kita." Nggak, ini bukan alasan yang gue pake buat berhenti bekerja. Tapi, hanya sekadar ingin menyisihkan waktu sejenak buat nulis. Ngeluh itu enak loh, walau nggak ngurangin beban dan malah bikin makin capek. Haha.... Gue selalu yakin kok bisa mengatasi apapun yang terjadi ke gue, hanya saja pilihan selalu ada di tangan gue kan ya? Pilihannya adalah gue mau nambahin drama di masalah gue atau nggak. :D Shit.
Terusss...
Beberapa hari yang lalu, ada kebaktian remaja di rumah gue. Gue hanya duduk-duduk unyu aja dengerin mereka diskusi dan kerap kali keluar dari topik diskusi, sampai-sampai pada lupa apa yang seharusnya dibahas dan ketika gue tanya lagi bahas apa, bener! Nggak nyambung. Selesai kebaktian, setelah para remaja itu (eh, serius deh! Nulis "remaja" dan gue bukan bagian dari kata itu ngebuat gue merasa tua. Banget.) ngobrol sebentar sama bokap, gue ikutan ngobrol bareng mereka, menceritakan tentang pengalaman gue waktu ikut kebaktian remaja dan event-event apa saja yang pernah gue ikuti. Gue nggak bisa menceritakan satu event dengan tuntas tanpa disela minimal tiga kali dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. :D :D Oh, gue bukan mau mengkritik kemampuan nggak nyambung mereka. Tapi, beneran deh, gue tercengang melihat remaja-remaja itu dengan ide-ide yang loncat-loncat kayak gitu.
Dan dengan kebaktian kayak gitu, cerita-cerita masa-masa gue aktif, gue jadi mengenang lagi semua momen-momen yang mengisi hampir seluruh masa remaja gue (oh, sial. Gue bener-bener ngerasa tua sekarang.). Ahh, kangennya. Boleh kan ya, sesekali melihat ke belakang. Bagaimana dulu gue labil. Kenapa dulu gue gini dan nggak gitu aja, keputusan-keputusan yang seandainya bisa gue ubah. Dan mungkin sekarang akhirnya berbeda? Bukan mau menyesali sih, cuma peringatan aja, cuma pembelajaran. Mau berubah jadi lebih baik ya bagus. Tapi lucu gak sih, saat itu lo menikmati hari-hari lo, tapi ketika semua berubah jadi masa lalu, kebanyakan "seharusnya dulu gue gini, gue gitu".
Sebenarnya, gue nggak niat bahas ini. Haha. Kalo dibiarin ngalir, tuh, malah jadi ngalor ngidul ya.
Jadi, di antara semua topik random luar biasa dan nggak tahu bersumber darimana, tiba-tiba Psikologi mengalir ke permukaan. Gue benar-benar nggak ingat bisa ngebahas Psikologi karena apa. Flight of Idea. Pokoknya tiba-tiba aja si Josh mengatakan bahwa gue mahasiswi Psikologi. Setelah mereka tahu gue belajar Psikologi, ada yang berkomentar "Gue juga pengen jadi psikolog!", "Teman gue juga pada pengen ngambil Psikologi!", dan "Kakak gue pengen masuk Psikologi." Dan pertanyaan "kenapa Psikologi" naik ke permukaan. Macam-macam sih. Yang gue ingat sih "Soalnya pengen bisa ngebaca kepribadian orang". Jawaban itulah yang bikin gue pengen, seandainya bisa dan kelihatan, menaikkan sebelah alis gue. Bikin gue pengen tanya balik, "Terus kalo lo bisa baca kepribadian orang, lo mau apa?" Terus, mereka nanya ke gue "Kalo Kakak masuk Psikologi karena apa?". Gue jawab sambil nyengir "Berobat jalan." Mereka diam dong. Yup! They didn't get my joke! Bahahahahahahahangke.
Beberapa waktu lalu, ada teman nyokap yang nanya perkuliahan gue. Dan gue jawab lagi nyusun skripsi. "Berarti semua mata kuliah udah selesai?" tanya beliau. "Sudah, Tante." Jawab gue. "Berarti udah bisa baca wajah orang dong?" tanya beliau lagi. Di sinilah gue ngakak dan dia kelihatannya merasa terhina dengan respon gue. Situasipun menjadi canggung dan gue memutuskan pergi ke dapur.
Terus, sepupu gue: "Lo belajar Psikologi ya? Wah, harus waspada gue!"
Teman main gue: "Om gue bilang kita harus hati-hati sama orang yang belajar Psikologi. Soalnya mereka bisa baca kita." Did that mean we can not be friend anymore? :D
Kenapa harus takut pikiran lo bisa dibaca orang, sih, hm? :) Kenapa harus khawatir kepribadian lo yang sebenarnya terkuak? Yang nggak habis pikir, dapat ide darimana orang yang belajar Psikologi saingan sama dukun atau paranormal? Woy!! X)) Coba dibahas pertanyaannya deh. Kenapa takut hayooo? Kenapa khawatir? Apakah karena pikirannya sibuk di hal-hal seperti merencanakan pembalasan dendam (tsaaah...), atau mikirin gimana caranya dapat uang jajan tambahan, atau mikirin negara, atau pikirannya kebanyakan ngabisin waktu di comberan jadinya takut tertangkap basah? :D atau gak pernah mikir sama sekali? :) Kepribadian nih sekarang! Kenapa? Pakai topeng ya? :D Iya, topeng. Or whatever you name it. Manner, sopan santun, faking good or bad, muka dua. Kita mencoba menutupi sesuatu, misalnya kekurangan kita, supaya gak ada yang tahu. Yang mereka tahu cuma kita sempurna. Gitu ya? :) Sampai beberapa orang yang sadar sepertinya ada yang nggak natural dari tingkah laku lo, ketika lo menjaga sopan santun seperti mencoba bersimpati dan orang berpikir simpati lo nggak tulus? Sedih, ya. Padahal menurut lo yang lo lakukan adalah apa yang seharusnya lo lakukan. Atau lo harus kelihatan bagus karena orang lain menuntut demikian? Topeng lagi. Jadi lirik lagu Peterpan yang sekarang ganti nama jadi Noah: "Tapi kudapat melangkah pergi, bila kau tipu aku di sini~... buka dulu topengmu~... biar kulihat warnamu~..." terasa menyudutkan? Siapa yang menipu, kan itu tuntutan. Gimana dong? :) Ketika harapan orang lain berlebihan terhadap kita, dan kita berjuang untuk memenuhinya, di sisi lain kok rasanya 'bukan gue banget, ya?'. Atau suka-suka lo mau jadi apa, hidup kan punya sendiri-sendiri, atur masing-masing dong! Ketika lo udah jalani hidup sesuai yang lo mau, orang-orang yang lo anggap rese menjauh perlahan, dan seketika lo ngerasa hampa di saat lo mengecap kebebasan. Feels like you want to escape from freedom. Contoh lainnya, ketika tanpa sengaja 'topeng'nya terlepas, lo merasa 'telanjang'; nggak punya perisai; ketakutan bakal dijatuhin orang. Ketika nggak sengaja ada orang yang berhasil menemukan celah kelemahan lo, lo berubah jadi defensif atau bahkan balik menyerang.
Atau gini nih. Ketika lo nggak bisa menerima kenyataan; ketika lo ngelampiasin kemarahan lo ke objek lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan masalah lo; ketika lo dilanda masalah berat dan yang lo lakukan adalah naik ke kasur ortu lo, tidur di tengah-tengah mereka, seperti yang lo lakukan waktu berusia 5 tahun di malam-malam mimpi buruk; ketika lo takut setengah mati, tapi lo pura-pura berani sampai mau mati sebenarnya; ketika lo maki-maki orang lain padahal lo lebih layak dapat makian itu; ketika lo lebih sering menyanyikan lagu galau karena lebih bisa diterima ketimbang nangis di pojokan kamar setelah lo diputusin cewek lo, padahal sedihnya udah kayak ditinggal mati.
Defense mechanism.
Nah, coba dibandingkan dengan:
Ketika lo yang melihat ada orang yang pura-pura nggak peduli gossip santer yang bilang pacarnya selingkuh?
Ketika lo dimarahin habis-habisan, setelah itu orang yang marahin lo curhat mobilnya baru aja diserempet motor?
Ketika lo lihat tetangga lo pulang ke rumah ortunya setelah berantem dengan istrinya? :D
Ketika lo nanya sama teman lo "Lo naksir X, ya?" dan dia menjawab dengan histeris "NGGAK KOK! NGGAK MUNGKIN GUE NAKSIR X! DIA TUH NYEBELIN WALAUPUN JAGO RENANG, JAGO BAHASA SWAHILI, IKUT OLIMPIADE SAINS, SUKA BERCANDA, KALO SENYUM JADI CAKEP, SUARANYA SEREK-SEREK SEXY, JAGO MAIN OKULELE, TANGGAL LAHIRNYA 30 FEBRUARY, MAKANAN FAVORITNYA TEMPE MENDOAN, SUKA WARNA KUNING!! SUMPAH, GUE NGGAK NAKSIR! DEMI TUHAN! KENAL DIA SEKARANG AJA GUE NYESEL KENAPA NGGAK DARI DULU... Eh."
Ketika lo yang dimaki-maki, tapi kok yang maki-maki kayak lagi pengakuan dosa?
Ketika lo mendengar lagu-lagu Glenn Fredly yang galau karena putus itu?
Tahu nggak gimana rasanya ketika lo paham apa yang memotivasi seseorang melakukan berbagai macam hal tapi lo nggak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya?; ketika lo tahu alasan mereka dan mengerti tetapi orang lain menghujat dan lo nggak bisa mengatakan yang sebenarnya?; ketika lo yang menjadi sasaran kemarahan seseorang hanya karena ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan yang bersangkutan?; ketika lo tahu banget seseorang butuh pertolongan tapi masih sok kuat? Apalagi lo tahu mereka butuh seseorang yang membantu dan cara yang tersedia itu adalah ikut terseret masalah. Lo tahu harus melakukan hal yang benar tapi kok rasanya berat banget?
Kadang mengenal diri sendiri kok terasa sulit, gimana bisa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya?
Manusia emang kompleks sih ya. Namanya juga manusia.
Gue jadi pusing.
Oh iya, kalo ketemu orang ngapain awal-awal langsung pengen tahu kepribadiannya? Menurut gue sih, kadang kita menemukan teman yang langsung klik justru lewat pembicaraan santai misalnya punya minat sama. Kalo gue udah ngomongin Disney mana gue peduli orangnya kayak apa kalo minatnya sama? Definisi teman yang asik juga subjektif. Dan agak sulit buat gue untuk menjalin pertemanan yang apa adanya saat gue mulai menganalisis. Kalo berinteraksi dengan orang tanpa penasaran sama masa kecilnya, masa remajanya, trauma event, precipitatinghalah... surprised sendiri dengan hal-hal kecil yang "ih! Lo gini toh aslinya! :D". Jadi udahlah yaaa, apa adanya saja.
Dan... nggak. Gue nggak punya jawaban untuk semua kemengapaan 'ketika-ketika' itu. Kalaupun gue tahu, gue nggak akan kasih tahu. Itu yang harus kita selesaikan sendiri. Karena orang-orang akan selalu ada di sekitar kita untuk membantu, tetapi pelajarannya selalu menjadi milik kita. Kalo nggak salah, ini kata-katanya Melody Beatie (gini bukan tulisannya?). Punya keberanian untuk menerima kenyataan dan menghadapi masalah langsung aja udah hebat banget sih menurut gue.
Gue nggak tahu lagi bahas apaan nih.
Jadi, "manusia biasa" mungkin pembelaan diri yang menyedihkan, tapi akan benar-benar menyedihkan kalau kita nggak pernah melakukan yang terbaik.
Dan soal baca kepribadian, percayalah, kepribadian itu termanifestasi dalam perilaku dan kita belajar mempertajam observasi dan wawancara. Sekian. :)
*sementara itu Freud dan Fromm berdentam-dentam di kepala gue. Akur ya.*
Senin, 01 Oktober 2012
Puisi Sebelum Tidur
Sabtu, 22 September 2012
Tangan Bertaut
Rabu, 19 September 2012
"Kita"
Kamis, 12 Juli 2012
Sini, Duduk di Sebelahku
Sini, duduk di sebelahku. Apa menu duka kita hari ini? Apakah ada air mata dalam komposisinya?
Sini, duduk di sebelahku. Kita sama-sama menunggu takdir datang mengantarkan pesanan. Ajal, katanya.
Sini, duduk di sebelahku. Kita bergandengan. Jangan terlalu erat, takut tidak bisa merelakanmu pergi.
Sini, duduk di sebelahku. Matahari terbenam. Kita menua dan jiwa kerdil kita ketakutan.
Sini, duduk di sebelahku. Istirahatlah sejenak, kita mulai letih. Masih banyak jarak harus ditempuh.
Sini, duduk di sebelahku. Sesekali kita kalah. Jangan berpikir untuk menyerah.
Sini, duduk di sebelahku. Malam mulai merayap dan kamu tetap membisu. Nafasmu hilang.
Sini, duduk di sebelahku. Mimpi buruk mulai datang, kita enggan terpejam. Realita terasa menyakitkan.
Sini, duduk di sebelahku. Berapa banyak lagi luka masa lalu yang harus kita jahit? Sama menyakitkan.
Sini, duduk di sebelahku. Matahari mulai terbit lagi. Kita masih saja tenggelam di masa lalu yang sama.
Sini, duduk di sebelahku. Aku hanya meminta hidup tetap utuh. Apakah terlalu banyak?
Sini, duduk di sebelahku. Sudah berapa purnama berlalu tanpa kita saling tatap memahami?
Sini, duduk di sebelahku. Betapa kita tahu kata tak pernah cukup, dan diam adalah jawaban.
Sini, duduk di sebelahku. Kadang hari terasa penat, betapa berbagi rasa terasa melegakan.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak cukupkah kita hanya menjadi milikNya?
Sini, duduk di sebelahku. Berapa tangga nada lagi yang harus kujadikan sumbang agar kau tertawa?
Sini, duduk di sebelahku. Dunia terbalik. Kita tangisi memori indah dan tertawakan kepiluan lalu.
Sini, duduk di sebelahku. Tak perlu menghitung waktu, biar kita saling menikmati keberadaan.
Sini, duduk di sebelahku. Kita akan nikmati kenangan yang sama. Suka yang sama. Duka yang sama.
Sini, duduk di sebelahku. Kadang nyanyian tak hanya lagu, aku cinta lirik. Tidakkah kau lihat sayapku?
Sini, duduk di sebelahku. Aku mulai lelah, kehilanganmu meninggalkan jurang curam. Sementara ego terlalu angkuh memintamu kembali.
Sini, duduk di sebelahku. Ketika pahit manis hidup menggerogoti napasmu, tinggalkan saja. Secangkir kopi cukup melegakan.
Sini, duduk di sebelahku. Saling mengisi kehadiran satu sama lain cukup untuk satu dekade tanpa dirimu.
Sini, duduk di sebelahku. Berapa duka yang kulewatkan? Berapa suka yang kau reguk sendiri?
Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memaafkan kalau saling mencintai tak pernah cukup untukmu.
Sini, duduk di sebelahku. Siapa tahu api amarahmu redam oleh air mata kesedihanku.
Sini, duduk di sebelahku. Hanya duduk saja. Tidak apa kalau kau tak paham.
Sini, duduk di sebelahku. Hening bisa menyembuhkan. Ketimbang kau lelah meminta penjelasan.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa jika kita saling menyakiti dengan kejujuran. Kita tidak lagi saling mencintai.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa. Hanya duduk saja. Pelan-pelan kita menjadi asing satu sama lain.
Sini, duduk di sebelahku. Kita sama terasing. Kita sama tercela. Lalu kita akan memulai dari awal, saling mengenal dan mulai mencintai.
Sini, duduk di sebelahku. Aku akan diam. Dunia hanya akan mencacimu. Aku cukup untukmu kan?
Sini, duduk di sebelahku. Kita terasing. Terpaksa harus saling memahami. Tak sengaja saling menyakiti.
Sini, duduk di sebelahku. Tak mengubah apapun. Hanya saja, kita akan berlomba dengan hari. Siapa yang akan menyentuh senja terlebih dulu.
Sini, duduk di sebelahku. Jari mulai lelah. Mata mulai terpejam. Bagaimana kalau kita berbaring saja?
Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memuaskan dahaga rindu.
Sini, duduk di sebelahku. Selama ini aku diam. Ketika jutaan kata meledak, ikhlaskah kau menampungnya?
Sini, duduk di sebelahku. Sekali saja. Bicara dari hati ke hati.
Sini, duduk di sebelahku. letakkan kebebalan logika kita. dengar, hati menangis.
Sini, duduk di sebelahku. biar kita saling membunuh dengan kebencian. siapa yang tetap hidup, ia yang paling banyak kehilangan.
Sini, duduk di sebelahku. kita saling menyiksa dengan keberadaan masing-masing. tak peduli, punggung kita kesepian.
Sini, duduk di sebelahku. mendengar detak jantung masing-masing. biar sunyi mencekam.
Sini, duduk di sebelahku. kita akan berkisah berapa kehilangan yang kita alami dan hanya berapa yang kita ikhlaskan.
Sini, duduk di sebelahku. kita sama-sama menunggu. kapan duka akan sirna.
Demikianlah repost tweet-nya. Dikira cuma beberapa, tahunya banyak juga. Hope you like it, guys (whoever read this post)!
Senin, 09 Juli 2012
Fascinate #5: Tick Tock
Hai,
Hari ini aku sedang memikirkan kalian, mereka-reka siapa yang sedang gelisah saat ini. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kalian mengobrol ringan tentang hal-hal kecil seperti saat kita menghabiskan waktu bersama. Tapi aku tidak ingin mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Sudah. Sudah.
Aku... Sebenarnya ada hal lain yang lebih penting dikerjakan ketimbang menulis blog. Tapi... Ada yang ingin aku sampaikan sebenarnya saat ini. Betapa sebenarnya aku ingin mengganggu kalian dengan pesan-pesan singkat melalui telepon genggam, seperti yang biasa aku lakukan. Tapi aku kan tidak bisa mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Ya ampun aku tidak bisa berhenti meledek.
Aku memutuskan untuk mengosongkan kotak masuk pesan singkat yang ada di telepon genggamku. Semua pesan yang ada harus kupilah, mana yang penting untuk disimpan dan yang bisa dihapus. Kebanyakan pesan singkat itu berasal dari kalian. Banyak yang membicarakan tugas akhir dan lebih banyak lagi membicarakan hal-hal tidak penting. Lucu sih buatku. Kenapa kita selalu menyebutnya dengan kata-kata "tidak penting", padahal hal-hal itu yang kerap kali aku kenang bahkan bisa membuat aku tersenyum lagi. Di dalam telepon genggamku, aku membuat sebuah kotak berisi pesan-pesan kalian yang tidak ingin aku hapus. Aku menamainya "Thesemakelifebrighter&warmer". Ya. Karena memang itu efek yang kudapatkan dari pesan-pesan yang kalian berikan. Hari-hari yang aku lewati lebih cerah dan hangat. Jadi kubaca lagi semua pesan itu satu persatu. Semua ingatan tentang apa yang kita bicarakan menyeruak kembali ke permukaan. Benar-benar menghibur dan menyenangkan.
Aku jadi berpikir. Empat tahun itu seharusnya waktu yang lama. Tetapi entah mengapa terasa cepat sekali berlalu. Seseorang pernah berkata kepadaku "Jika waktu terasa cepat berlalu, berarti kita benar-benar menikmatinya." Ya. Kita menikmatinya. Padahal tidak semua dari hari-hari itu kita isi dengan kegembiraan, gelak tawa, atau lelucon. Sebagian besar waktu kita tentu saja untuk menimba ilmu. Waktu senggang-pun kerap kali membahas bahkan mengerjakan tugas kelompok. Jarang sekali, bukan, tanggung jawab bisa dinikmati. Dan saat kita benar-benar bisa menikmati waktu bersama adalah hal sangat menyenangkan. Kita bersenda gurau. Bertukar gosip (dan kita sering berkata "ini bukan gosip. Cuma diskusi evaluatif." [ok, ini aku yang ngomong]). We enjoy every single little silly conversations. Wait, what conversation? We 're just busy mockin' each other. Hahahaha... Aku tidak hanya menikmati waktu yang kita habiskan bersama-sama, saling bicara dan mendengarkan dalam jumlah banyak. Tapi aku juga menikmati pembicaraan dengan kalian secara individu. Saat itulah kita justru meluruskan banyak hal dan saling mengenal satu sama lain. Ah, kalian... Kita. Masing-masing memiliki ciri khas yang menghibur di sebagian besar waktu.
Empat tahun, tidak semuanya tentang tugas dan hal-hal menyenangkan. Pertengkaran. Situasi-situasi yang meresahkan dan membuat kita tidak nyaman. Sebagian menyeruak ke permukaan. Sebagian lagi dibiarkan terkubur karena merasa tidak nyaman jika harus dibicarakan. Salah paham. Kesedihan yang timbul setelahnya. Kekecewaan. Belum lagi api penyulut membuat jurang yang sesungguhnya adalah ilusi hadir di antara kita. Seharusnya kita hidup dalam harmoni yang sempurna saling berbahagia saling mendukung saling menyemangati saling berbagi saling...saling...saling...saling...saling... terlalu banyak "saling yang seharusnya" dan akhirnya saling menikam. Saat itu sulit sekali rasanya untuk memahami kalau tidak ada satupun dari kita yang benar-benar sama. Persepsi kita, bagaimana kita saling menerima, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah. Make it better or make it worse. Semuanya memiliki caranya masing-masing. Lalu apa yang salah dengan perbedaan? Apa yang tidak tepat dari perbedaan? Sibuk mencari-cari masalah apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, kita lupa bahwa kita sedang bertumbuh bersama. Pelan-pelan, kita belajar untuk berkompromi, mengalah, dan saling menerima. Tidak perlu menjadi sama dalam segalanya. Bukankah ini yang namanya harmoni sempurna? Kita tidak perlu menghilangkan ingatan tentang hal-hal yang tidak menyenangkan. Reframe. Sehingga saat mengingatnya kita bisa menertawakannya. Kita muda dan bodoh saat itu (serasa tua ya mamen nulis kalimat ini).
Empat tahun yang banyak mengubah kita. Sayangnya tidak semua hal merekatkan kita. Ada yang menjauh. Pernah mendengar istilah "people grow apart"? Berbahagialah mereka yang tumbuh dan berhasil melewati badai namun tetap saling memegang tangan. Sehingga saat kita menua nanti, masing-masing dari kita tidak perlu menjadi wajah tanpa nama. Atau nama tanpa wajah. Atau sama sekali menjadi asing. 'Tidak ada yang sia-sia'. Siapa yang bisa jamin? Seharusnya, jangan disia-siakan. Sudahlah, ini hanya pemahamanku saja.
Ah... Kenangan-kenangan berkelebat. Tidak peduli seberapa sibuknya kita menjalani hari, kita tidak akan melupakan satu sama lain. Aku sangat suka saat kita bisa bersama, saat kalian rela meluangkan waktu untuk berbagi makanan denganku. Memang terlihat seperti buang-buang waktu berharga kalian, aktivitas tak berguna bagi kalian, tapi kesediaan meluangkan waktu kalian yang membuat keyakinan bahwa persahabatan kita memang memiliki arti dan penting bagi kita. Waktu untuk mendengarkan, waktu untuk saling memahami. Kehadiran satu sama lain berharga, bukan?
Kalian bagian dari hidupku, yang ikut menentukan siapa diriku saat ini. Terima kasih untuk mata yang memerhatikan, terima kasih untuk mulut yang menghibur (atau mencela?), terima kasih untuk tangan yang merangkul. Aku sayang sekali pada kalian. Tidak tahu apakah aku pernah mengatakannya sehingga kalian mengetahuinya. Aku kan pemalu. Susah mengatakan, lebih mudah menulis. Hahahaha... Semoga kalian tahu, semoga kalian membacanya. Semoga sayangnya tersampaikan. Kalau tidak... Setidaknya tulisan ini akan selalu di list blogku. Semoga Blogger jaya terus, untung terus, nggak perlu ditutup. Jadi tulisanku akan terus ada. 10 tahun lagi. 20 tahun lagi. 30 tahun lagi. Halaaahahahaha... Tapi "KITA" selamanya dalam ingatan walau bertahun-tahun kemudian mungkin jarang di-recall. Hahaha... Pada akhirnya kita memang akan menapaki jalan kita masing-masing. Tidak ada pula yang menjamin kelekatan bisa melampaui jarak dan tidak dirayapi waktu. Hari ini dekat, besok menjadi orang asing. Tapi semua hal yang kita lewati bersama adalah apa yang membentuk kita saat ini. Tegakah kita melupakan sebagian dari diri kita?
Aku ingat pernah mengirimkan pesan cuplikan lagu Journey:
When pride build me up till I can't see my soul, will you break down this wall and pull me through?
Banyak jawaban, yang paling kuingat adalah:
Nope. I will climb that wall joining you and we will show off our pride together.
How could I ask for more? Hahahahaha...
Satu lagi, salah satu pesan yang kuterima di hari-hari aku harus pulang larut:
Lu naek kereta jam brp? Ati2 naek ancotnya. Kalo ketemu eksebisionis, katain aja tititnya kecil.
Hahahaahahahahahaha..... Sampe sekarang aku masih ketawa baca pesan ini. Please nggak usah ditanya siapa pengirimnya. X))
Bagaimana hari-hariku tidak penuh warna? Ahh, banyak kebodohan lainnya yang seharusnya kuceritakan. Tapi, sungguh, lebih baik kalian yang membaca blog-ku berkenalan dengan mereka semua. Apa keuntungan kenal dengan mereka? Aduuuh apa ya? Hahahaha... well, saya terberkati dengan banyak hal. Dan mereka adalah salah satu berkat yang Tuhan berikan. Kenapa kita harus menolak berkat, ya kan?
Semua kebaikan bisa menutupi kekurangan. Bukankah lebih penting kita bisa saling melengkapi?
Aku selalu berharap semoga berkat dan kebaikan melimpah-limpah dalam hidup kita serta kesuksesan dan kerendahan hati menjadi teman baik kita.
Tidak peduli seberapa jauh nanti jarak tidak memungkinkan kita bergandengan tangan, kita kan masih bisa saling mendoakan yang terbaik. Ya?
Rabu, 04 Juli 2012
Hanya Sebuah Nama
Hallo, apa kabar?
Aku sedang merindukanmu saat ini. Ah, lebih tepatnya aku selalu merindukanmu. Waktu dan jarak tidak hanya memasung pelukanku tetapi juga membiarkan rinduku terus menyiksa pemiliknya. Seperti gila. Kadang aku menangis, tak jarang tertawa lepas. Mengingat apapun yang pernah kita nikmati bersama. Sampai detik ini, kau tahu, aku punya banyak kisah yang ingin aku bagikan. Tapi takdir selalu saja membuat kita memijak tanah yang berbeda. Sungguh. Terkadang aku merasa keberuntungan pilih kasih. Ia tidak adil padaku. Jutaan pecinta sedang bergandengan tangan dan aku malah sibuk mengingat detil-detil kerut di bibirmu yang membentuk senyuman. Supaya aku tidak lupa akan senyum itu, aku selalu menciptakan proyektor imajiner jadi aku bisa melihatnya untuk kunikmati sendiri. Ahh, aku tidak pernah lelah merindukanmu seperti aku yang tidak pernah lelah mencintaimu. Hanya saja kadang rindu tak dapat kutahan ketika sedang membuncah, sama seperti cinta juga, bukan? :)
Mau tahu apa yang menarik dari hari-hariku yang sibuk dan sering merindukanmu? Aku menyebut namamu berkali-kali. Hey, tentu saja aku lebih sering menyebut nama Tuhanku! Kau tidak perlu merasa besar kepala seperti itu. Hahaha... Tapi aku tidak akan berbohong, kerap kali, ketika aku sedang berbicara pada Tuhan, aku selalu menceritakanmu. Berkali-kali. Cerita yang sama.
Hmmm... Ingat saat kamu bertanya mengapa aku tidak pernah memanggilmu dengan kata "sayang" atau "cinta"? Bukan karena aku tidak merasakan itu padamu, tetapi karena aku suka melafalkan namamu dari bibirku.
Rasanya seperti gulali yang menyentuh indra pengecapku. Manis.
Rasanya seperti merapalkan mantera yang mewujudkan mimpiku.
Rasanya seperti menaikkan puji-pujian atas penciptaanNya.
Sekali saja aku menyebutnya, lengkungan senyum yang tercipta bisa mengalahkan pelangi.
Sekali saja aku menyebutnya, awan-awan gelap di hariku menyingkir sekejap.
Sekali saja aku menyebutnya, dunia seolah jadi milikku.
Tentunya sekarang kau sudah mengerti alasanku, bukan? Jutaan kata sayang dan cinta bisa ditujukan pada siapa saja. Tetapi sekalinya aku menyebut namamu, pastilah itu adalah dirimu, untukmu, dan hanya kamu. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu ketika kamu adalah pusat revolusiku? Aku ingin tetap menyebutkan namamu berkali-kali sambil saling menggenggam jemari dalam masa depanku nanti. Tapi kita tidak akan mendahului Tuhan apalagi mendesakNya, karena apa yang Ia rencanakan untuk kita adalah demi kebaikan kita.
Aku suka menyebut namamu. Kerap kali kuucapkan saat lutut bertelut, kepala tertunduk, dan tangan terlipat. Aku mungkin jauh, tapi Tuhan selalu memelukmu.
Minggu, 17 Juni 2012
Maaf
Tapi aku ragu. Seandainya kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali, mungkin kita hanya bisa tersenyum singkat, melambaikan tangan, dan berbasa-basi tanpa arti. Kemudian kembali pada hidup kita masing-masing, seolah tidak terjadi apapun di antara kita.
Menyisakan seorang aku di sini dengan kata maaf yang tak pernah berhasil melewati tenggorokanku.
Rabu, 13 Juni 2012
Fascinate #4: Our Leadaa's Birthday
![]() |
| The Birthday Girl :) |
Lanjut!
Pertama kali aku ketemu Indri adalah saat ospek kampus. Waktu itu pemilihan Teh Psy dan Kang Edu, semacam abang-nonenya Jurusan. Yang kepilih jadi Teh Psy adalah Indri. Yang kepilih jadi Kang Edu adalah Budi. Jadi deh Indri dan Budi berdiri di depan ruangan memimpin latihan yel-yel. Saat itu, aku nggak tahu siapa yang mencolok. Budi yang gede atau Indri yang kecil. :D
Nah...
Sejak saat itulah si Indri selalu dipilih dan dipilih dan dipilih untuk jadi Ketua Kelas, jadi PJ Statistika I (waktu itu mata kuliah yang pertama), yang disuruh nyari-nyari informasi, yang ditanyain segala macem, yang nampung aspirasi, bikin alur jarkom. Pokoknya urusan repot tuh pasti Indri. Lama-lama curiga jangan-jangan Indri ditumbalin. :D :D :D
Indri adalah anak yang rajin dan cerdas (ini seperti narasi buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 SD, ya? Eh, tapi ini serius!). Aku suka merasa lega kalo menemukan diri sekelompok belajar sama Indri. Hahaha... Aku ingat pertama kali Indri berdiri di depan kelas menjelaskan Statistika karena saat itu kita akan menghadapi UTS. Enak nih punya teman kayak gini, kalo ada yang nggak ngerti bisa minta diterangin sampe ngerti. :D :D :D
Entah masih pada ingat atau tidak mengenai insiden mata kuliah Bahasa Inggris yang nggak pernah kesampaian itu (kapan-kapan kuceritakan (entah kapan)). Seingatku Indri yang mengusulkannya (tolong dikonfirmasi), aku nggak bisa lupa waktu Indri ngomong "Waktu SMA gue nggak pernah kayak gini." dengan penekanan pada setiap katanya. Yang waktu itu kupikirkan, ya udah sih Ndri, lo dulu badung juga nggak apa-apa.... :D Itu tuh kejadian yang untuk pertama kalinya Indri kelihatan manusiawi. Hahaha... (rajin dan cerdas nggak manusiawi ya?)
Nah, itu sekilas tentang Indri. Mari kita lanjut ke Pesta Kejutannya.
Dimulai dari si Uwi yang mengatakan bahwa dia ingin membuat kejutan untuk Indri yang sebentar lagi mau ulang tahun. Tahun ini adalah tahun terakhir kami semua bareng-bareng. Jadi kita harus bikin sesuatu yang spesial. Uwi emang memberitahukan rencananya ke aku, tapi dia tidak mengizinkan aku ikut karena saat itu aku kena cacar. Pokoknya habislah saat itu aku dicela dan didera serta dikucilkan.
Ini seharusnya si Uwi yang cerita!
![]() |
| Sebenarnya ini lagi panik nunggu Indri datang, kan? |
Sesampainya di Halimun, aku langsung ke kelas 306, tempat acaranya
nanti yang sudah dihiasi. Bukan ruangannya, tapi papan tulisnya yang dihiasi. Kondisi kalang kabut dengan segala aktivitas yang menghebohkan. Kemudian Pipit yang sudah datang langsung memberikan revisi skripsiku. Saat aku
sedang menatap nanar revisinya, Uwi meminta aku untuk menemani Ajeng yang saat
itu sedang bersama-sama dengan Indri untuk menghadang Indri agar tidak naik ke
lantai 3. Aku berniat untuk membahas revisiku, tapi dicegah Pipit karena Indri
tahunya Pipit tidak ke kampus hari itu.
Akhirnya kami kembali ke kelas dengan penuh perjuangan. Indri
dihadang banyak orang. Belum lagi si Mita ucuk-ucuk ngajak Indri ketemu Bu
Felli. Aku sama Ajeng heboh lari ke kelas. Dan disambut segerombol orang yang di kepalanya udah terikat karton bertuliskan berbagai macam frase di
belakang pintu dengan wajah panik dan bertanya-tanya “Indrinya mana? Indrinya
mana? Ini cokelat kuenya keburu meleleh. Lilinnya keburu habis. Panggil...
Panggil...” Akhirnya Indri-pun digeret ke kelas. Baru melihat kelasnya, belum
sampai masuk ke dalam, Indrinya udah nangis masaaaa.... Kemudian Indri masuk,
kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi genjrengan gitar Galih.
Kemudian Indri meniup lilin.![]() |
| Kelakuaaaannn.... |
![]() |
| Our Leader |
Makasih untuk Dessy yang bersedia nge-foto-in kita.
Makasih buat Erik yang ngasih kabar ke Indri bahwa hari itu ada Bu Felli (padahal nggak ada, dan anehnya gue juga ikut ketipu).
Minggu, 22 April 2012
Egois
waktu,
istirahatlah sejenak. tidakkah kau lelah melaju tanpa henti?
duduklah di dekatku.
akupun ingin berhenti sejenak.
biarkan senja, sekali saja, menunda ditelan malam.
bulan bisa menunggu, bintang akan bersabar.
aku janji kau tak akan bosan menatap senja yang sama...
Kamis, 29 Maret 2012
Fascinate #3: Ketika Pak Camat Lewat Kuburan
Ini salah satu senja terbaik Halimun. Saya bisa menyebutkan ribuan tempat yang lebih baik daripada sebuah gedung tua dengan keramik lantai 2 nya pecah dan cat tembok yang mengelupas. Tapi tidak banyak tempat luar biasa yang bisa menjadi 'rumah', yang menjadi tempat saya untuk pulang. Tempat dimana saya bisa berbagi dengan orang-orang yang saya kasihi. Dan di sini, tempat saya menikmati senja sambil menyanyikan lagu "What a Wonderful World" dengan suara lantang. :)) Rabu, 29 Februari 2012
Gelembung Rindu
Senin, 13 Februari 2012
Ketika Benci dan Cinta Beriringan, Saya Minta Maaf
Saya merasa bodoh.
Maaf yaaa, karena saya kecewa pada hal-hal yang menurut kamu sepele. Saya malu pada diri saya sendiri, karena hanya dari hal sepele itu saya merasa jadi bagian dalam hidup kamu.
Kamu selalu meyakinkan saya kalau semua itu berlebihan. Kamu selalu mengucapkan prinsip-prinsip kamu dengan lantang, mematikan ego saya. Saya merasa kamu tidak menerima emosi-emosi saya.
Maaf kalau saya membuat kamu lelah, maaf kalau saya membuat kamu menjadi orang jahat yang meninggalkan saya dalam ketakutan saya. Maaf kalau saya selalu membuat kamu merasa seolah harus "memberi makan" kecemasan neurotik saya yang tidak pernah kenyang. Sampai-sampai kamu harus selalu memuntahkan sejuta nasehat, tapi mengapa kamu tidak memberikan jawaban? Mendengar pertanyaannya saja tidak.
Saya salah ya?
Saya sedih di sini, saya merasa ada kekosongan di relung hati saya.
Tidak... Tidak... saya tidak meminta kamu mengisinya. Ego kamu terlalu besar untuk saya tanggung sementara saya butuh ruang untuk harga diri saya.
Bukannya saya ingin memusingkan kamu dengan sejuta hal-hal remeh. Tapi ada kebahagiaan yang saya ingin kamu rasakan dan ada kesedihan yang tidak bisa saya pikul sendiri.
Walau kerap luput, ternyata tidak cukup hanya sekadar saya mencintai kamu.
Kamu meminta saya jadi sempurna menurut cara kamu dan kemudian kamu menjatuhkan saya. Tidakkah itu berarti kesempurnaan kamu bahkan tidak sempurna? Kamu menuntut banyak hal, tapi tak pernah mau duduk berdampingan sekadar menanyakan kabar saya sehingga pelan-pelan kita dapat saling memahami.
Kamu menyingkirkan saya. Saya salah. Saya menyusahkan. Kamu lelah. Tapi itu tidak menjadikan saya menutup mata, telinga, mulut, dan hati saya terhadap kamu. Kan saya sudah katakan saya mencintai kamu.
Saya tidak menyalahkan kamu. Mencintai kamu tidak membuat saya buta pada kebenaran, karena saya ingin kamu berada di jalan yang benar. Saya tidak muluk, saya mencintai kamu. Tidak... tidak... saya tidak meminta kamu mencintai saya juga. Cinta itu bukan balas budi.
Saya tidak mendendam tidak sama dengan kamu boleh melukai saya. Saya hanya menyimak karma yang sibuk memmpraktekkan Hukum Newton III. Itu bukan kehendak saya. Kalau kamu ingin sejenak mendengarkan saya, saya hanya ingin kita baik-baik saja.
Saya bukannya tidak bisa sendiri, saya tahu saya lebih hebat dari kamu (heran kan mengapa selama ini saya menelan ego saya?). Saya juga tahu tanpa kamu saya bisa lakukan semua lebih baik. Bahkan jauh lebih baik. Kamu yang tidak mengerti, saya rela terlihat bodoh karena menginginkan kamu ambil bagian dalam hidup saya. Sekalipun kecewa sering menghampiri. Kamu dengan pikiran besar kamu, saya di sini mencoba merealisasikan hal-hal kecil dan kamu bilang saya idealis. Hey, saya merealisasikan idealisme saya! Bagian mana yang tidak kamu mengerti?
Saya terpaku pada hasil? Kamu yang tidak mengerti. Saya akan mengusahakan apapun yang bisa mempersenjatai saya pada sesuatu yang kamu bilang hidup yang keras. Kamu bilang pada akhirnya itu tidak akan terpakai? Hey, bukan saya yang menyia-nyiakan apa yang saya miliki.
Kalau kamu tidak memahami sesuatu, bukan berarti hal itu salah. Kalau sesuatu tidak sesuai dengan prinsip kamu, bukan berarti hal itu tercela.
Kamu tahu, saya memperhatikan kamu. Saat kamu melontarkan pernyataan diplomatismu, seluruh kata-kata bijak memuakkan, mencoba pembicaraan memutar-mutar berharap saya terkesan (saya tidak pernah terkesan pada orang bodoh. Serius.), kamu terlalu sibuk membangun citra diri. Kamu tidak sadar bangkai yang kamu simpan sudah tercium orang banyak. Kamu tidak tahu, mereka lebih banyak melihat perilakumu daripada menyimak yang kamu katakan.
Iyaaa, saya mencintai kamu. Tapi saya tidak bisa memberikan lebih dari apa yang saya dapat berikan.
Jangan khawatir. Saya bisa pastikan kepada kamu benci dan cinta selalu dapat berjalan beriringan. Ya, selalu.
Kecuali kalau suatu hari nanti saya tidak peduli lagi. Maka, pada hari itu akan sangat mudah bagi saya – semudah mengedipkan mata, semudah membalikkan telapak tangan – untuk menghilangkan semua kenangan tentang kamu. Pelan tapi pasti, saya merasa nyaman dengan ketidakhadiran kamu.
Kamis, 05 Januari 2012
Cerita
Seakan-akan kau berada di sini bersamaku, menikmati cokelat hangat saat tiap rintik hujan berlomba-lomba memuaskan dahaga bumi.
Kerap kali aku merasa utuh saat aku hanya menikmati waktuku tanpa interupsi yang berisik dari orang-orang yang menuntut perhatianku.
Aku menikmati bungkamku, tentu. Padahal kau sangat mengenalku, aku selalu punya jutaan cerita yang selalu siap meluncur bagai peluru kata-kata.
Aku akan menikmati perhatianmu, saat mata kita saling tatap. Aku dengan antusiasme yang selalu menyala dan kau dengan kesahajaanmu.
Dalam diam kau memahamiku, dan saat itu aku akan merasa dimengerti.
Tidakkah kau mencintai tiap ceritaku?
Kau tahu ceritaku selalu berakhir bahagia. Kau suka menyimaknya sekalipun kau pecinta realita, kau akan mengelus kepalaku sambil berkata "Bahagia itu bagianmu."
Aku selalu yakin dan kau selalu sadar bahagia memang bagian kita, kan?
Sekalipun aku selalu terburu-buru, aku akan teduh dalam tatapanmu. Bagai anak kecil yang kembali tenang saat diberikan mainan.
Kau selalu berkata perasaanku yang meluap selalu menular kepadamu, membuat kita mencintai hal yang sama.
Aku tahu kau adalah pendengar yang sabar, rela menunggu sampai isak tangis dan derai tawa yang kadang mengiringi cerita-ceritaku dan terlalu menginterupsi selesai.
Kau menyimak tiap tutur kata. Saat tiap kata itu habis, kau masih menunggu. Kau tahu bahwa perasaan-perasaan yang terikat pada tiap maknanya akan meledakkan aku jika aku tidak menyelesaikan cerita itu.
Kaulah kata-kata nyata yang kerap kali kulihat.
Kaulah kata-kata lembut yang kerap kali kuraba.
Kaulah kata-kata merdu yang kerap kali kudengar.
Kaulah kata-kata harum yang kerap kali kucium.
Kaulah kata-kata manis yang kerap kali kukecap.
Bagaimana lagi aku harus melantunkanmu, cinta?













