Selasa, 26 Juli 2011

Mencintaimu

Ini pertama kali diposting di Twitter. Daripada lama-lama ketindih sama tweet lain, jadinya gue copas ke blog. Enjoy!

apa aku harus memiliki alasan untuk setiap kata cinta yang terucap?
aku tidak ingin memegangmu terlalu erat. takut itu akan menyesakmu. dan melukaimu.
karena aku tidak berpikir keegoisanku akan membuatmu merasa nyaman.
aku hanya di sini, membiarkan waktu berlalu tanpa aku yang berusaha mengejarmu.
tapi aku ingin kau tahu, aku punya pelukan hangat. yang setiap saat bisa kau miliki ketika dunia terasa memusuhimu.
aku tidak akan mengemis perhatianmu. memaksamu untuk menatapku.
aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku juga dapat berbagi suka jika kau berkenan.
aku tidak menyalahkan airmatamu yang selalu membasahi pundakku.
aku akan meyakinkanmu, bahwa aku cukup kuat. Bahkan, saat kau tak menyadari, airmatamu itu berhasil menorehkan luka di hatiku.
bukan karena kau menyakitiku. ntah sejak kapan duka kita menyatu.
oleh karena itu, sungguh, aku tak menolak bahagiamu sekalipun itu bukan tentang aku.
aku tidak menuntutmu memilih. Aku, pelipur lara? atau Dia, pemberi kebahagiaan? Aku menelan rasa sakit itu, tahu bahwa kau butuh keduanya.
sungguh sempurnanya senyummu. sekalipun dengan kesempurnaan itu, aku rela tidak utuh. berapa banyak kepingan hati yang kuberikan untukmu?
berharap dengan kepingan hatiku, kau bisa menyusun kehidupan utuh dengan aku menjadi bagiannya.
aku tidak ingin kau membuangnya dalam masa lalumu. sekalipun tak bisa jadi bagian dalam hidupmu, aku tak ingin kau kembalikan kepingan itu.
simpanlah kepingan hatiku, ntah di sudut berdebu hatimu. Tapi biarlah. Sekalipun kini kau tidak mengingatku, tapi aku menunggumu.
aku menunggumu menyelami hatimu sendiri. menemukan aku dan mengingatku kembali. sekalipun dalam sosok lusuh.
sosok lusuh yang paling tahu betapa mahalnya harga airmatamu. betapa bernilainya senyumanmu.
kau tidak akan memungkirinya. aku tahu. akulah tempat ternyaman. ketika hatimu lelah dan ingin bersinggah dalam dekapku.
siapa lagi yang bisa tersenyum di sela tangis? aku. Airmata itu kuresapi sendiri. Biar senyum itu menjadi bagianmu.
aku tidak akan berbagi dukaku denganmu. Aku takut kau melukai diri sendiri. karena kaulah duka itu. duka yang kupertahankan.
tapi cinta yang begitu besar kepadamu mengalahkan segalanya. maka kukatakan, tak butuh alasan untuk mencintaimu.
cintalah detak jantungku, senyummu adalah pelangi. aku sanggup bertahan dalam badai tanpa pelangi.
aku di sini. menatap kepingan hati yang kau bawa pergi. berharap itu cukup untukmu.
aku tidak bisa mengejarmu, jika kau terlalu jauh untuk kugapai. bukannya aku tak ingin. memilikimu tidak pernah menjadi hakku.
aku hanya berharap kau mau kembali menyapaku. jika lelah itu datang dan kau tak punya tempat bersandar.
tapi jika kau tak ingin kembali, berbagi air mata denganku, cukupkah kepingan hatiku menjadi pelipur laramu?
maafkan aku jika kepingan itu tidak lengkap. jika kuberikan semua kepadamu, dengan apa lagi aku harus mencintaimu?
jangan khawatir, cinta ini tidak akan membebanimu. aku tidak ingin kau menganggap cintaku sebagai kewajibanmu.
mungkin ia kelabu dan terkoyak. tapi bisakah kau lihat pelangi ketulusan di sana? aku bisa. karena aku mengenal keikhlasan.
dan jika dengan cinta sebesar ini, kau masih menganggap aku tak layak untuk kau pertahankan, aku tidak mengemis padamu.
aku hanya akan mencintaimu dalam diam. berharap ia yang menjadi pemberi kebahagiaanmu bisa menjadi pelipur laramu juga.
ntah mengapa. mencintaimu tak pernah terasa pahit, sekalipun segala kenangan manis tak pernah kau izinkan untuk kucicipi.

Selamat malam, Cinta. Biarkan siang yang telah menceriakanmu mengalah pada malam yang mendamaikanmu. Mimpimu selalu jadi nyata.




PS: aku punya banyak cinta. tiap kali kau ingin mengecapnya melalui bibirku, aku tidak pernah kehabisan persediaan. Kapan kau kan merinduku?

Sabtu, 09 Juli 2011

Rindu dan Cappuccino

Senja meredup, mengalah pada malam yang merindukan bintang. Berapa ribu rotasi bumi telah membunuh waktu tanpa kehadiran kalian? Langit masih sama. Tidak terjamah. Tidak mampu mengikis rindu yang perlahan meruntuhkan ego-ku.

Aku ingin berlari menghampiri kalian. Mereguk secangkir cappuccino hangat yang meleburkan sekujur lelah. Melenyapkan letih dalam gelak tawa yang riang.

Tahukah betapa angkuhnya aku berdiri, menantang matahari yang menguasai hari, tertawa congkak pada hidup dengan nyawa kian meredup? Aku berlari menyangkal rasa lelah, meredam air mata di sudut hati. Dunia tidak akan melihatku ringkih, terpaku dalam derita.

Kerap kali aku memaki sunyi, berharap ia pergi karena dikalahkan rindu. Rindu yang terlalu besar, mengisi semua kekosongan tanpa harus menyisakan sunyi. Tapi sunyi kerap kali mengetuk pintu hatiku dan membuatku berpikir tentang kalian yang membuat rindu semakin menyiksa, menyesak nafasku.

Aku ingin memeluk langit, biar hampa dalam genggamanku. Atau izinkan sayap-sayap memelukku. Dapatkah kehangatan menyingkirkan rindu?

Tapi

Ntah mengapa, tiap kali aku terjatuh dan ingin mengakhiri semua, semburat tipis memori memenuhi kepalaku. Tersentak karena rindu bisa membuatku bertahan. Melintasi jarak, perjalanan waktu hanya dapat mendekatkan kita.

Di dalam penatnya hari, bekunya rintik hujan, panas menyengat, dan hirur pikuk yang membosankan... mereka yang kurindukan itu membuat hari berakhir dalam senyum damai, yang meskipun terburu-buru, tapi aku tahu dahaga itu akan dipuaskan.

Merekalah tempatku untuk pulang...
Mengikis rindu yang terasa konyol...
Menertawakan pahitnya hidup...
Menghitung tiap keping berkat...
Betapa duka tak ada artinya lagi...

Di penghujung hari, dalam hangatnya secangkir cappuccino, mengalir cerita yang tak akan pernah habis. Ketika seluruh rasa seolah bagian dalam prosa, hidup hanyalah alunan dongeng.

Betapa aku menyukainya. :)

I'm just Human Being #1 : Mahasiswi Psikologi

Sejauh ini, gue masih terus berpikir. Apakah "Gue cuma manusia biasa" adalah sekadar pembenaran diri yang menyedihkan atau memang begitu adanya. Well...

Sumpah, gue deg-deggan mau posting beginian.

Pertama kalinya gue jatuh cinta pada Psikologi adalah saat gue masih kelas 1 SMP, gue membaca sebuah novel karya Sidney Sheldon yang judulnya "Tell Me Your Dreams" yang mengisahkan tentang kepribadian ganda. Baca deh! Bagus. Saat itu juga gue memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi kalau nanti kuliah. Alasannya adalah gue pengen ngelihat orang dengan kepribadian ganda. Cuma ngelihat aja. Sepele banget ya? Hahahahaha... Secara gue juga merasa kurang mampu untuk kuliah kedokteran dan mengambil spesialis kejiwaan. Jadinya ke Psikologi saja deh.

Begitu masuk jurusan Psikologi (sebenarnya kisah ini juga penuh liku, kalau niat gue pasti bahas.) WOW!!! Gue benar-benar suka dan gue merasa ini jalan gue! Ini tempat gue berada.

Gue akui, sebelum gue masuk jurusan Psikologi gue sangat senang kalau ketemu dengan orang-orang yang mendalami Psikologi. Sebenarnya sampai saat ini juga masih suka. :D
Tapi sesukanya gue, se-excited-nya gue dengan mereka, gue nggak pernah berpikir 'bagaimana mereka seharusnya dengan ilmu Psikologi mereka'.

Sampai gue sendiri bingung sama nyokap gue yang suka banget ngomong "kamu kan psikolog (aminin aja..), kok gini..." sampai suatu ketika gue menjawab "Ih, Mama gimana sih, mama tuh nyekolahin (iyeee, tahu, seharusnya kuliah) aku tuh di Psikologi, bukan di sekolah kepribadian. Psikologi itu mempelajari orang apa adanya." eh, tapi nyokap gue tetap mengomel sambil ngungkit Psikologi.

Gue sampai berpikir, kasihan ya Psikologi, terjebak dalam pencitraan baik hati, ramah tamah, memahami, bisa baca pikiran orang (eh?)...
Gue nggak ada niat menjelek-jelekkan sesuatu apapun, serius.
Tapi, terkadang tidak mudah menghadapi orang-orang yang selalu menuntut bagaimana lo seharusnya, padahal lo juga butuh diterima apa adanya.

Pertama kali gue menjejakkan diri di Psikologi, gue ngambil mata kuliah Psikologi Umum yang pada saat itu memang udah dipaketkan mata kuliahnya.

Satu kejadian yang gue ingat sampai detik ini adalah ketika seorang teman menanyakan satu hal ke dosen gue "Bu, gimana cara ngatasinnya jika ibu sebagai psikolog harus memahami orang lain padahal ibu juga ingin dipahami?" eh, dosennya nyengir loh. Terus dia menjawab dengan mengatakan bahwa ia adalah anak bungsu yang pengennya dimanja dan di lingkungan keluarganya sudah maklum dan memahami dia. Gitu jawabannya. Kesimpulannya, dia bisa jadi psikolog dan bisa jadi dirinya yang apa adanya.

Entah kenapa gue jadi memisahkan 'bagian diri' gue seperti itu juga. Yang pertama gue sebagai mahasiswa psikologi, yang kedua gue sebagai diri gue yang apa adanya. Bukan berarti gue gangguan kepribadian ganda. Ini seperti sisi objektif dan subjektif yang gue yakin setiap orang pasti punya. Tapi sama halnya dengan orang lain, objektif dan subjektif itu suka ngeblur jadi satu.

Bukti konkretnya adalah saat gue dan teman-teman gue lagi ngegossipin orang. Eitss! Gossip itu baik untuk kesehatan mental, tapi bikin moral porak-poranda... Haha! Jadi begini ceritanya, ketika kita lagi ngegossipin artis...
A: Eh parah! Si artis ini kan gini... gini... gini...
B: Serius lo? Kok bisa ya?
C: Eh, dia kan dari keluarga broken home, emaknya bla... bla... bla...
D: Kasian yaaa...
E: Pantesan dia kayak gitu. Tapi kan orang itu seharusnya ada system belief... blaaa... blaaa...
F: Oh, iya yaa. Ditambah lagi id dia... ego dia... super ego dia...
Semua: Iya bener yaaa...
Gue: Yak... jadi kapan kita bisa ngegossip dengan tenang tanpa harus menganalisis?
Semua: (nyengir)

KITA LUPA GIMANA CARA NGEGOSSIP SESUAI KAEDAHNYA!!!


Gue ingat salah satu tweet teman sekelas gue, Rury a.k.a. Uwi, yang bilang "bukan karena psikolog berarti harus jadi pribadi yang sempurna kan? :-)"

Coba cari, siapa sih di dunia ini yang selalu hidup aman sentosa terus-terusan? Nggak pernah punya masalah? Hidup lempeng aja terus... Nggak ada yang dipikirin... Kalau ada, sini bawa ke hadapan gue! Biar gue ketawain "eh, boring banget ya hidup lo!" hahahaha!

Salah satu dosen gue pernah bilang kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang bisa menerima sisi negatifnya. Karena nggak ada orang yang benar-benar sempurna kepribadiannya. Semua orang punya sisi inferior di diri mereka. Mereka bisa memilih untuk tenggelam dengan kelemahan mereka atau berjuang untuk mencapai superioritas mereka.

Nggak jarang gue temukan orang yang suka menyalahkan orang lain untuk apa yang tidak bisa atau telah ia lakukan. Paling sebal kalau gue yang dijadikan sasaran. Gimana caranya mau membenahi diri kalau belum bisa melihat dan menerima kekurangan diri sendiri? Teman sejurusan gue, Galih, pernah bicara "Kalau nggak tahu apa masalahnya, gimana mau ditembak pake solusi?"

Nggak penting siapa elo, apa jurusan lo, bokap lo gajinya berapa, elo masih sodaraan sama Justin Timberlake atau nggak, pacar lo anak gaul taman lawang atau taman suropati, kakek lo pencetus perang dunia ketiga atau bukan... Tuh kan! Gue ngelindur...
Berbahagialah kalau lo memiliki orang yang mencintai dan menerima lo apa adanya. :)
Tapi yang terpenting, bersyukurlah kalau lo udah mampu menerima kekurangan diri lo apa adanya tanpa harus nyelekit kalau membela diri dan lo udah bisa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.

Salah satu perkataan dosen gue yang gue kutip dari tweetnya Uwi (@ruriirurii):
meskipun kita belajar psikologi dan tahu bagaimana individu yang ideal itu, tapi jangan sampai merubah & memaksa diri kita menjadi ideal dan baik. Karena kita adalah kita, dengan segala keunikan, tidak apa-apa mempunyai kekurangan asal kita bisa berdamai dengannya,tidak apa-apa jika kita merasa lemah asal mau mengakui. Jadilah diri sendiri, bukan menjadi kumpulan teori. Karena tahukah anda mengapa saya selalu ceria, karena saya tau Psikologi untuk anda, bukan untuk saya... Hehe...

Sepenggal lirik favorit gue dari lagu Superman-nya Five for Fighting
Even heroes have the right to bleed...

Mungkin kita cuma manusia biasa, tapi tetaplah berusaha menjadi yang terbaik yang kita bisa dengan menerima kekurangan kita dan berusaha menakhlukkannya. Sebagai seseorang yang mempelajari Psikologi, saya juga sedang berusaha... :)

Minggu, 03 Juli 2011

Sepi

Apakah gelak tawa selalu bisa mengisi kekosongan hatimu?

Aku tahu

Kau selalu mencari ia yang telah pergi

Kau selalu memanggilnya walau kau tahu ia tak akan pernah datang

Berapa banyak air mata? Kau selalu tahu, kehilangan tak akan pernah habis

Merengkuhmu bukanlah hakku

Karena aku mengerti

Ribuan tak akan ada artinya

Tak akan pernah menyesakkanmu

Berapa banyak tangis? Aku harap duka itu luruh

Berbagi canda, memendam duka

Kau biarkan ruang itu kosong

...

...

Aku ingin dicintai sebesar itu