Selasa, 01 Mei 2018

I'm Just Human Being #4: Change

Halo!

Gue melewatkan 2017 begitu saja tanpa satu tulisanpun.
Jadi kayaknya gue harus minta maaf ke diri sendiri. Kudu belajar untuk punya komitmen dan disiplin yang tinggi supaya bisa persisten dan selalu bikin improvement. Not always being and doing the same shit everyday... Nggak cuma fokus sama yang seru dan habis itu dibuang begitu saja. And suddenly you lost your self in the process. Loh, kok jadi depresi gini.... :D

Okay. Just so you know, yes you! Whoever always reading my blog, kalau dilihat dari judulnya sudah pasti postingan ini berisi pemikiran gue yang hampir nggak pernah penting dan bermanfaat.

Jadi, gue nggak selalu melaporkan apapun yang terjadi di dalam keseharian gue di media sosial. Apakah karena gue sangat menjaga privasi gue? Nggak, lah! Hahahaha... cuma kan apapun yang terjadi sama gue nggak selalu menjadi hal yang signifikan buat hidup orang lain. Sama kayak apapun yang terjadi sama lo, belum tentu itu penting buat gue juga ya kan? :p

Sampai di sini, bagi yang ingin menutup tulisan ini dipersilakan. Hahahahaha...

Berubah. Masa-masa remaja dengan egosentrisme imaginary audience sudah menghilang dalam hidup gue. Menurut ngana aja, remaja maksimal itu 24 tahun and I'm 28 years old already. Ketika semua omongan dari orang lain udah hampir nggak selalu penting lagi buat gue. Apakah semakin tua semakin bebal? Nggak, lah. Cuma disaring aja. Sakit hati juga milih-milih kali, ah.

Jadi kemana semangat dan optimisme yang selalu digadang-gadang? Hilang, tergerus waktu dan zaman dimakan rutinitas 9 am - 9 pm.

Hehehehe...

Nggak kok. Gue masih suka Disney sampai sekarang. Did I really lose myself? Nggak juga. Jadi gini, seperti yang gue mention sebelumnya, banyak yang terjadi. Perspektif gue dalam memandang sesuatu menjadi berubah, prioritas gue berubah, cara gue menangani sesuatu berubah, mungkin gue sedikit lebih rasional, agak skeptis dan cenderung sinis. :'D Surem ya...

Gue melihat banyak orang. Ini yang pertama. Nggak dalam posisi untuk membangun hubungan pertemanan yang tulus, tapi terkait data dan analisis... oh yes I'm gudging you so hard! Hahaha... Banyak hal. Gue jadi tahu prinsip hidup orang lain, gimana cara mereka berpikir, dan menyelesaikan masalah. Jadi ya, udah lupa gimana caranya temenan tanpa perlu nebak-nebak ini orang tipe MBTI-nya apa... Lebay... :D
Mungkin gue harus cari lingkar pertemanan yang baru. Yang nggak ada hubungannya sama rutinitas gue saat ini. Tapi sebagai seorang INTJ, I hate people... X)) Nggak kok, tapi baca novel itu lebih menyenangkan. Tapi bahkan baca novel juga gue jadi tebak-tebakan tipe MBTInya. Surem yaaa... Kayaknya gue butuh detox.

Okay.

Tapi sesungguh dan sebenarnya, melihat segala sesuatu dari perspektif berbeda itu benar-benar mencerahkan. Dalam beberapa kasus, ketika gue berkenalan dengan seseorang di saat terakhir di tempat yang sama dengan gue (kalo ngawang-ngawang gini absurd yaaaah...XD), betapa gue berharap kenapa gue nggak kenal lo dari dulu ya... ngobrol dan bertukar pikiran kayaknya gue bakal nambah pinter.

Yang kedua.
Tahun kemarin, lupa detil waktunya kapan. Dengan sok tahunya gue bilang bahwa manusia tidak diciptakan untuk tetap berada di dalam kehidupan yang aman dan nyaman. Kita harus bisa berdamai dengan masa lalu, fokus terhadap saat ini, punya tujuan, dan harus mampu menghadapi tantangan. Itulah yang bikin kita tetap hidup sampai hari ini.

Bicara soal aman dan nyaman. Gue nggak pernah ngerasa Tuhan membiarkan gue berlama-lama dalam kondisi tersebut. Di sekali waktu ada kalanya gue merasa hal itu berat. Tapi di lain waktu, terkadang gue menguji... ok lebay, menilai diri gue sendiri. Apakah gue harus terus begini? Atau gue yang nggak bersyukur? Nggak jarang gue bikin peperangan di dalam diri sendiri. Apakah gue harus mencoba hal baru? Tapi at some point there's a feeling says that I'm not good enough.

Kadang gue merasa bagai kapal yang jangkarnya lagi di dalam laut, bahkan dengan segala ombang-ambing ombak gue nggak terseret kemanapun, karena jangkar itu yang bikin kapalnya tetap stay. It's comforting me and makes me safe. Tapi yaaah... di detik ini gue merasa, bukankah sudah waktunya untuk gue angkat jangkar itu? Udah waktunya gue berlayar? Karena seperti kata-kata jutaan quote yang gue search di Pinterest, bahwa tujuan utama kapal adalah untuk berlayar, bukan ngendep anteng di tepi pantai. Gue ngerasa jadi kayak Moana.

Hah... gue jadi ingat pembicaraan gue dengan boss gue "Ishy,". "Ya, Pak?" "Kamu kayak Korea yaaa..." ujarnya. Gue diam dulu sesaat kemudian bertanya "Drama?" berbarengan dengan boss gue berkata "Drama.". Sumpaaah ngakak... X))) Gue bertekad bakal mengatakan hal yang sama kalo ada yang berani-beraninya jadi drama queen di sekitar gue.

Yaaah, ini doa dan perjuangan gue saat ini sih. Sebut aja drama yang gue ciptain sendiri. Hahhahaaha... Tapi kan kalau lo butuh untuk mengembangkan diri gimana... tapi tapi tapi tapi... tapi-nya banyaaaaakkkk....

Ketiga. As times go by.... Gue belajar, walaupun gue nggak tahu apakah gue udah lulus dalam ujiannya atau nggak :D, it's okay to cut people from your life. Bukannya gue declare di koran harian bahwa gue memutuskan hubungan dengan orang-orang tertentu dan dengan segala hal yang berkaitan dengan orang itu sudah tidak menjadi urusan gue lagi. Emang sih katanya... kenapa orang-orang zaman dulu hubungannya lebih langgeng and less drama, karena pada saat ada masalah mereka memperbaiki masalah itu, bukan membuang dan mencari yang baru. Tapi kesini-sini, gue lebih bisa berdamai bahwa nggak semua hal dan nggak semua orang keadaannya harus sebagaimana mestinya, yes some of them are assholes dan gue nggak bisa berbuat banyak terhadap hal itu, termasuk memperbaikinya. Ketika gue marasa itu racun buat hidup gue, lebih baik gue jauhin. Kenapa gue harus stay kalo itu nggak bikin gue happy? Kalau itu cuma jadi sakit kepala doang? Nggak serta merta kalau ketemu orangnya gue bakal buang muka dan ngeludah juga sih. Tapi serius deh. Ketika seseorang bikin lo kehilangan kata-kata makian dan cercaan... dan lo cuma bisa memasang ekspresi muka datar dan menjerit dalam hati "FUNGSI LO DI DALAM HIDUP GUE TUH APA SIK???" Walaupun gue tahu, seganggu apapun orang itu, dia bisa tetap jadi role model.. bad role model... jangan sampai gue kayak dia. Hahahaha... Prove me that I am wrong.

Nggak usah dihitung ya. Udah kayak orang bener aja.

BERTANGGUNG JAWAB SAMA APA YANG LO UCAPKAN DAN APA YANG LO LAKUKAN!
Reaksi yang lo berikan terhadap aksi apapun yang lo terima, please, itu tetap tanggung jawab lo! Karena elo yang melakukan itu! Dan elo yang punya pilihan!
Kenapa emosi banget? Yah iyalah, tipe orang yang nyalahin orang lain untuk hal yang dia lakukan sendiri itu ngeselin.
Ketika sesuatu hal yang tidak menyenangkan terjadi, atau ketika dalam kesulitan, menyalahkan kondisi dan/atau orang lain terasa lebih mudah dan aman. Padahal nggak mau mengakui bahwa kita bertanggung jawab pada apa yang terjadi terhadap diri sendiri itu merendahkan diri sendiri.
Kita selalu punya pilihan; mau terus menerus merasa jadi korban dan mengasihani diri sendiri, menyalahkan kondisi atau orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita, atau menyadari bahwa kita punya kekuatan untuk memperbaiki hal yang salah dan mengubah keadaan.
Ngomong gampang nggak, Shy? Gampang dong. Dilakuin? Ya susah. Tapi kan ya gimanaaa... elo salah, terus nolak disalahin, nggak ngaku salah, dan jadi nggak tahu kalo lo salah? terus kalo nggak tahu apa yang salah, gimana mau memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi? You will always be the same shit like you were yesterday.
Ya gue juga belajar sih... Tahu nggak susah banget buat bilang "Ini salah gue. Next time nggak akan kejadian lagi. Gue perbaiki."? Padahal yaaa.... si A, B, dan C turut berpartisipasi buat kekacauan itu dan pelaku sebenarnya adalah si D. Padahal pengen banget bilang "Si D nih bangke banget jadi orang gitu doang masa bisa salah...". Tapi kenapa kita harus memikul kesalahan itu? Halah. Drama. Karena sebelum kejadian itu jadi bencana, kita punya pilihan untuk mencegah itu. Double check kek, apa kek... tapi nggak kita lakukan. Yaaahhh human error bisa dimaklumi selama nggak jadi kebiasaan. Dan sumpah gue nggak mau play victim. Ego gue terlalu besar buat bertindak seperti itu. I'm just human being... masih pembelaan diri yang menyedihkan.

Apalagi yaaa... sebaik-baiknya nasehat adalah teladan. Gue sadar kalau gue bisa menentukan peraturan ke orang lain dan bahwa gue punya hak untuk tidak memberlakukan hal itu ke diri gue sendiri. Dengan berbagai macam alasan termasuk gue punya kewajiban sendiri yang berbeda. Tapi dari apa yang gue pelajari dari buku Psikologi Perkembangan, bahwa pada akhirnya seorang anak akan melakukan apa yang dilakukan oleh orangtuanya, bukan apa yang dinasehatkan kepada dirinya. Coba buku Santrocknya dibaca lagi ya. Hahahaha...
Gue juga merasa bahwa tidak memaksakan orang lain melakukan sesuatu yang  baik karena gue juga belum bisa melakukan hal itu rasanya nggak tepat. Jadi mengapa tidak bersama-sama saja kita saling mendukung untuk melakukan hal yang benar?
Tapi mungkin ini hanya keangkuhan gue, ego gue... kadang-kadang hidup tuh adalah game. Gue menolak untuk melanggar peraturan, pokoknya dengan aturan main apapun, gue akan memastikan bahwa gue bisa keluar sebagai pemenang dan gue bisa mendapatkan apa yang gue mau karena gue hebat. :)

Tahu teori apel busuk? Satu apel busuk dimasukkin ke satu dus apel-apel segar. Maka semua apel segar itu jadi busuk. Gue bukan apel. Gue orang. Karena orang lain salah, bukan berarti jadi sah buat gue untuk melakukan hal tersebut. Lo mikir kalau gue nyusahin diri sendiri? Emang. Hahahahaha....

Selanjutnya... jangan percaya hoax. Please. Rasanya memang menyenangkan ketika lo menemukan sesuatu yang mendukung apa yang lo percaya. It feels so right padahal nggak. Di dunia yang sinting ini apa salahnya sih mempertanyakan segala sesuatu yang lo baca atau dengar? Cari lebih dari 2 sumber tentang hal itu. Demi kewarasan lo sendiri.

Tapi ada kejadian lucu tentang hoax di group Whatsapp keluarga. Nyokap sharing sesuatu tentang berita hoax, dan sesegera mungkin gue langsung kirim berita benarnya. Terus suatu hari ada sms dari Menkominfo untuk regristrasi nomor HP. Ketika gue kasih tahu bahwa kita harus regristasi disuruh Menkominfo, nyokap nyahut "Ah, hoax itu..." Mom, please... -.-

Gue juga akhirnya benar-benar menyadari betapa pentingnya melihat dari berbagai sudut pandang dan belajar objektif. Nggak peduli lo punya kesan apapun terhadap sesuatu. Ada saatnya lo harus buang penilaian lo terhadap seseorang agar demi supaya lo bisa objektif. Nggak peduli bahwa dari sisi satunya persepsi lo itu match banget. Karena tetap aja... lo belum lihat semuanya... lo belum dengar semuanya.

Ada satu lagi yang pengen gue omongin. Tapi itu hanya bisa dicontohin dengan kata-kata Dr. Strange ke Iron Man di Infinity War. Tapi ntar dikira  gue spoiler lagi...


Just in case you wonder tulisan gue ini kayak orang bener, apa yang gue tulis ini "perjuangan menuju" gue ya. Gue masih belajar untuk berubah. Cuma pengen ditulis aja. Habisnya gue belum nemu orang tipe N yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul gini. Hahahaahaha.... wtf Ishy...

Mungkin dua tahun dari sekarang, gue bakal mikir "yawlah tulisan apakah ini...".

Tapi mungkin sebaiknya, gue nggak boleh lupa... bahwa banyak perubahan yang terjadi di dalam kehidupan gue. Gue menyaksikan banyak hal. Bahwa di usia gue yang sekarang gue melihat orang datang dan pergi... bertemu orang baru, perpisahan, pernikahan, kelahiran yang baru, kematian merenggut orang-orang yang gue kasihi. Di saat semuanya sibuk merencanakan hidup mereka dengan melanjutkan studi atau membangun keluarga atau mengembangkan karir, ada seseorang yang terbaring memperjuangkan hidupnya. Dan ketika kehendak Tuhan ingin dia kembali kepada penciptaNya... Gue belajar bahwa semua rencana itu nggak ada artinya ketika maut menjemput. Gue belajar bahwa duka nggak pernah sirna. Gue hidup dengan hal itu. Gue harus bisa merayakan hidup gue dengan membawa duka itu, dengan cara bersyukur bahwa gue punya saat-saat yang membahagiakan dengan mereka. Gue harus bisa hidup dengan tetap membawa semangat mereka.
Hidup gue harus berlanjut. Gue nggak bisa di situ-situ aja buat bersedih.


Suatu hari, salah satu teman gue ngajak ketemuan di salah satu mall di BSD karena dia mau ngasih undangan pernikahannya. Ketika pulang (udah pulang aja ceritanya...), kami melewati satu restoran yang sepi. Gue menunjuk tempat itu dan berkata "Next time kita ngumpul di situ aja. Biar nggak rame banget..." Padahal harusnya gue curiga ya kalau sepi siapa tahu tempatnya nggak enak. :D Teman gue inipun menyahut "Boleh.". Gue berkata lagi "Ah, tapi kan bentar lagi lo mau nikah. Mungkin lo nggak bakal kongkow sama kita lagi sampai malam gini. Prioritas pasti udah beda." Dia ketawa, "Ya masih bisa mainlaaaah gueeeee.... tapi mungkin akan ada jamnya..."

"Things change." ujar gue lirih. Dia mengangguk. "Yes. Things change."

Hening.

"Hukum I Newton." ujarnya tiba-tiba. And I was like... WHATTTT??? "Gaya sama dengan nol?" gue susah payah mengingat itu tentang apa. Gue tahu dia emang jenius, tapi apakah kita harus memasukkan ilmu Fisika dalam urusan ngerumpi ini???

"Hukum kelembaman." ujarnya lagi. Tapi itu nggak menjelaskan apapun ke gue.

"Gue tahunya Hukum III Newton. Aksi sama dengan reaksi. Hukum karma." Kata gue. Mencampurkan teori dengan drama kehidupan. Dia menatap gue nyureng, "Bener juga lo."

"Jadi maksud lo apaan?" tanya gue nggak sabaran. "Benda yang bergerak akan selalu bergerak. Kayak kita, nggak pernah hanya diam di satu fase. Selalu bergerak. Selalu berubah." jelasnya.

Gue mengangguk menyepakati.

Seiring waktu, jargon klise murahan yang sebenarnya kenyataan itu adalah "satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri".

Banyak hal berubah. Kadang gue bersyukur kadang gue harus beradaptasi. Kadang gue dituntut untuk ngerti, bahwa perubahan itu baik. Dan kadang gue dipaksa buat mastiin sendiri bahwa gue berubah atau bergerak ke arah yang lebih baik.

Bahwa kadang berubah adalah suatu keharusan.




Serpong, May 1st 2018

Senin, 07 Maret 2016

Dalam Lagu Aku akan Menghilang

Maaf, Tuan dan Puan. Anda semua tertipu.
Tak usah sibuk warnai aku, tak usah lelah coba mencetakku.
Segala tak ada guna.
Bahkan semua ujimu tak satupun mendefinisikan aku.
Jadi, biarkan saja aku nihil.
Toh segenap dayaku tak berarti.
Segala peluhku tak sebanding dengan keluhmu.
Jika aku tak layak untuk kasihmu, ya jangan paksakan. :)
Jangan berpikir aku suka menuntut yang bukan jadi hakku.
Keadilan itu bukan di tanganmu. Bagiankupun bukanlah mengemis untuk itu.
Ini bukanlah untukmu. Nilaiku jauh lebih luas.
Sayang hatiku kurang lapang.
Tuan dan Puan, kepalaku tak akan tertunduk.

Maaf, Tuan dan Puan. Anda semua tertipu.
Senyum simpul yang tak pernah palsu.
Tunduk hormat bukanlah semu.
Ini bukanlah untukmu. Nilaiku jauh lebih luas.
Jika memang bukanlah bagianku, maka ikhlaskan untuk kulepas.
Salahku dimana jika kau merasa diejek oleh kebahagiaanku?
Bahagia adalah yang kupilih. Ya, aku memilihnya. Kenapa tidak kau ambil pilihan yang sama?

Derita tak perlu mengajak kawan.
Sila bernyanyi, bahkan dalam nada yang paling sendu.
Tak usah repot menuntutku mengerti.
Toh kau tidak bisa menyelipkan kata "saling".
Biar kita hilang dalam lagu.
Mungkin sekali kita bisa berada dalam satu suara.

Kalaupun tidak, sungguh, biarkan aku menghilang...

Sabtu, 27 Desember 2014

Selaras dengan Realita

sekali waktu aku terbangun di tengah malam. meratapi mereka yang sudah pergi, atau lebih tepatnya meratapi diriku sendiri yang ditinggal pergi, sejadi-jadinya yang aku bisa, sehabis-habisnya... agar aku tidak perlu memelihara duka terlalu lama. apa wujudnya duka? menetap terlalu lama, sehingga ada saat aku bersembunyi atau segenap usaha menyembunyikannya, tidak sadar cahayaku meredup. semakin kuresapi, semakin kusesali. logika berisik, mewanti-wanti, masih kudengarkan agar aku tetap waras.

kadang-kadang hening melegakan. memberiku cukup waktu untuk mengurai kata-kata kusut yang menumpuk di kepalaku, yang tidak bisa kuucapkan atau tidak sempat karena kadang aku terlalu sibuk mendengarkan. atau kadang kutahan, kata-kata itu bermuatan emosi, takut si penerima tidak bisa menghadapinya.

aku masih butuh waktu untuk diriku sendiri, entah sejak kapan aku suka menganalisis diri sendiri. mengapa sekali waktu aku duka, mengapa tawa yang ini sekali terkesan dipaksa, apa nama untuk emosi seperti ini. mungkin dengan memahaminya, dengan mengetahui namanya, aku bisa menemukan cara mengatasinya.

berkali-kali kupikir, semakin kupikir, aku takut dengan ketakutanku sendiri dan aku takut mengakui bahwa aku takut. aku tidak cukup kuat, bahwa terkadang seolah aku serahkan semua pada suratan, bahwa ini yang memang harus terjadi.... ah, bukan seolah, memang itu yang kulakukan. tapi tetap saja aku tidak cukup kuat. kesadaran akan realita yang memang sudah kusadari, dengan angkuhnya aku berjalan bersama waktu, tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memberi ruang untuk semua yang kurasakan dan mencoba menatanya.

Aku memang diam. mereka pikir aku tidak punya hati. aku tidak peduli jika mereka pikir begitu. bahwa ternyata diamku dianggap tanpa perasaan, itu terserah mereka. tidak sekalipun aku menatap keangkuhan mereka dan berpikir untuk menarik perhatian mereka, menungguku meminta pertolongan agar mereka tampak seperti pahlawan dengan rasa simpatik besar dan sejuta nasehat yang mereka pikir bisa untuk menyelamatkanku. aku muak. bukan itu yang kubutuhkan.

aku hanya butuh waktu untuk menyendiri. memaknai diri sendiri. menyediakan waktu bagi kesadaranku agar selaras dengan realita. menyediakan ruang untuk rasa kehilanganku. Dengan tabah menghadapi bahwa kali ini, dukalah bagianku dan itu tak mengapa.

Tidak mengapa jika aku harus mengenal duka, hanya untuk memahami bahagia.
Tidak mengapa sekalipun aku merasa takut, karena sesungguhnya menjadi pemberani adalah dengan cara mengatasi rasa takut.


Simpan simpati dan kata-kata bijak kalian, kali ini adalah perjuanganku sendiri.

Jumat, 18 Juli 2014

Pada Akhirnya Aku Hanya Berpegang Erat pada Kenangan

Mit,

Mataku udah kayak keran bocor.
Hal pertama yang kulakukan ketika tersentak bangun adalah cek hp dan dapat berita ternyata kamu udah pergi jauh. Pengen banget untuk nggak percaya. Aku langsung sibuk cek socmed dan akhirnya Coco telepon aku, dan aku emang harus nerima kenyataan kan?

Ada rindu yang menyesak tiba-tiba. Rindu yang aku tahu nggak bakal pernah kesampaian lagi. Rindu yang ditambah dengan duka, duka mendalam karena kehilangan.

Semua yang pernah kita lewatin bersama tiba-tiba menyeruak kembali ke permukaan. Semua yang aku ingat itu tentang masa-masa menyenangkan. Menyenangkan, Mit. Menyenangkan. Tapi aku malah menangis mengingatnya.

Aku nggak ngerti kenapa kamu terobsesi banget sama Spiderman. Suatu hari saat kuliah dulu, kamu pernah duduk di sebelahku. Pulpen kamu jatuh. Aku masih cuek nyatet bahan kuliah. Tiba-tiba aku dengar suara "pssst... pssst... pssst...", akhirnya aku nengok ke kamu. Kamu lagi sibuk ngarahin tangan kamu ke pulpenmu dengan jari tengah dan jari manis ditekuk ala Spiderman. Aku bingung. Akhirnya kamu beranjak dari kursimu dan mengambil pulpen itu sambil ngomong ke aku "duh... benangnya abis nih..." dan kejadian kamu niru-niru Spiderman gitu nggak cuma sekali. Hahahaha....

Dan kamu tuh selalu bangga jadi warga Tangerang. Kamu suka nyamber tangan aku terus ngomong "Eh, kita kan ATANG!" Keningku berkerut, "Apaan deh ATANG?" "Anak TANGerang!" Mit, sumpah itu singkatannya nggak kece banget! Hahahahaa.... Eh, skor kita impas ya, Mit. Aku udah main ke TangCity, kamu udah main ke WTC Serpong.

Kamu tuh orangnya gelian. Dipegang tengkuknya aja kegelian. Sampai suatu hari kamu nanya ke aku mau nggak aku setiap hari meluk kamu supaya gelinya bisa hilang pelan-pelan. Aku iyain permintaan aneh kamu itu, kamu pake acara nyebutnya "terapi pelukan" segala lagi. Oh please deh, Mit, kayak ada hubungannya sama ilmu Psikologi aja. Hahahaha.... Suatu waktu akhirnya kita absen pelukan, kamu nyamperin aku, "udah lama kita nggak terapi pelukan." Jadi kita berpelukan deh dan aku sekalian megang tengkukmu supaya kamu kegelian. Hahahahaha... Ngaruh nggak sih terapi buatanmu ini?

Kapan terakhir kali kita pelukan, Mit? Sekarang aku nggak bisa meluk kamu lagi.

Aku selalu menganggap kalau kamu akan menjadi ibu yang luar biasa kalau udah punya anak nanti. Aku selalu kagum sama perhatian kamu buat keluarga kamu, terutama buat adikmu yang paling kecil itu. Usaha kamu untuk mengisi peran seorang Ibu, karena mama kamu sudah menghadap Tuhan duluan. Bayangkan dong obrolan kamu sama aku soal pendaftaran SMP. Obrolan ibu-ibu banget deh Mit. Hehehe.... Tapi, sekalipun aku nggak bakal lihat kamu punya anak, aku selalu menganggap kamu memang luar biasa.

Support kamu juga yang nggak bisa aku lupain! Kamu bantuin aku saat aku nggak sadar kalau aku sebenarnya butuh bantuan, kamu mau negur aku karena kamu peduli. Mit, sukacita rasa syukur yang besar kepada Tuhan karena aku punya teman kayak kamu.

Aku selalu tahu kalau kamu itu perempuan tanggung, pejuang.... Tapi ini memang sudah saatnya kamu beristirahat, Mit. Istirahat setelah perjuangan yang panjang. Singkirkan letihmu ya, Mit. Nikmati saja kedamaian itu, karena itu adalah bagianmu.

Jangan turut serta dalam dukaku, karena air mata adalah tanda cinta untukmu.

Mungkin, seharusnya aku tidak perlu menangis karena kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Maaf ya, Mit, izinkan sekali ini saja aku berduka untuk kehilanganku, kehilangan teman yang luar biasa.

Aku janji setelah ini, aku simpan bagianmu yang ceria, bagianmu yang sehat. Itulah yang akan aku kenang. Aku janji setiap kali aku mengenang kamu nanti, aku akan tersenyum, aku akan bersyukur kalau aku punya teman seperti kamu.

Thank you for everything, Mit.
Thank you for laughter.
Thank you for caring.
Thank you for your support.
Thank you for always trying to deal with my neurotic side and my insanity.


Selamat jalan, Paramita Swasti Indah Rini. Kamu akan selalu hidup di hati kami dan akan selalu hadir dalam setiap kenangan.


Salam hangat dari sesama ATANG,


ISHY

Rabu, 19 Maret 2014

I'm Just Human Being #3: Hari Ini, Setahun yang Lalu

Hai!!!

Eh, udah lama ya nggak posting di sini. Ada yang kangen, nggak?
Hehehehehe...

"cuma manusia" lagi nih. Masih merasa pembelaan diri menyedihkan deh.

Setahun yang lalu (atau dua tahun yang lalu?), gue sibuk berkutat dengan skripsi. Tema hidup gue saat itu skripsi. Mulai dari bulan Februari 2012 sampai gue disidang dan dinyatakan lulus pada tanggal 21 Januari 2013 dan resmi jadi sarjana 19 Maret 2013. Kalau ditanya senang nggak sih jadi sarjana, boleh jawabnya 'biasa aja' nggak? Nggak tahu kenapa, tapi gue memang merasa begitu, biasa aja. Ntah karena selama ini gue udah ngerasa 'pahit' sama proses skripsi ini jadi gue merasa nggak ada lagi yang manis, jadi, yes, gue tinggalin semua itu di belakang, termasuk "i could have do it better" feeling. Karena mungkin, gue nggak mau balik lagi ke masa itu sekalipun ada kesempatan. Hehehehehe... Udah kerasa belum depresinya? :D Kenapa kok lebay banget? Mungkin karena setahun itu pikiran gue benar-benar cuma ke skripsi, urusan hidup gue cuma skripsi. Gue nggak punya pengalih perhatian, selain games. Selain itu, gelar sarjana menuntut pertanggungjawaban, dude. Nggak cuma gue layak jadi sarjana karena udah makan bangku kuliah selama kurang lebih 4,5 tahun, tapi habis ini mau diapain itu gelar? Tapi semenyebalkan apapun skripsi, gue menolak untuk bilang "cuma skripsi" dan "cuma syarat untuk keluar dari kampus". Karena, menurut  gue, kalau sampai keluar pernyataan itu dari mulut gue, atau terbersit sedikit aja di pikiran gue, maka DEM! semua yang gue kerjain bakal benar-benar sia-sia.

Yang paling nge-hits selama gue ngerjain skripsi adalah gue terserang TIFUS dan CACAR! Awesome. Hahahahaha... Selama 3,5 tahun gue kuliah, LINTAS PROVINSI hampir setiap hari, berangkat pagi dan pulang malam, paling banter tuh sakit pilek, batuk, dan diare. Giliran ke kampus paling seminggu sekali, nggak banyak aktivitas berarti, gue malah sakit berat. Hadeuh... Kata Coco, kalau kita kena cacar, itu disebabkan oleh orang lain yang membakar celana dalam kita. Aneh, bukan? Iya. Tapi kita semua harus memaklumi informasi sengawur apapun selama itu berasal dari Coco. Kemudian saat gue lagi sakit tifus, si Coco lagi nih! Dia menelepon gue begitu tahu gue sakit dan berkata "Kalo dirawat di rumah sakit, kasih tahu ya, ntar kita mau datang sekalian mau main ke BSD." Benar sekali saudara-saudara, menjenguk gue bukanlah motif utama Coco. (Ya ampun, Co, lo hina dina banget ya di postingan ini. Hahaha... Peace ah!) Tapi ya, sesungguhnya dibalik ucapan "get well soon, Ishy" dari teman-teman gue, ada tawa congkak menghina "HAHAHAHA... UDAH 22 TAHUN, TAPI MASIH KENA CACAR???". *bakar*

Ketika gue sembuh dari cacar, hari pertama gue datang ke kampus, walau awalnya berniat ketemu dengan Bu Felli tapi ternyata Bu Felli nggak ada, akhirnya gue mengedarkan games yang baru gue download selama gue sakit ke teman-teman (yang seharusnya ngerjain skripsi juga, sama kayak gue). Terus gue juga ngopy film dari Dudu dan Taufik. Lalu bagaimana respon Bu Felli setelah gue sembuh dari cacar? Beliau menghadang gue sebelum masuk ruang dosen, "Tunggu dulu! Kamu yakin udah sembuh?" dan gue jawab "Udah, Bu." sambil nyengir karena sebenarnya masih ada satu cacar nyempil yang belum meletus di belakang telinga kiri gue. Hehehehe...

Oh! Satu cacar gue nongol pas banget di tahi lalat di kening kiri gue! Pas cacarnya sudah mengering dan mengelupas, ia membawa serta sebagian besar tahi lalat gue! Tahi lalat gue menghilang! Dan seketika gue merasakan krisis jati diri. Tahi lalat itu selalu ada di situ sedari gue kecil. Gue udah nggak kenal lagi siapa diri gue... :( (Yakali, Ishy!).

Terus selama proses ngerjain skripsi itu, gue stress banget karena tidak berhasil menemukan buku referensi yang gue cari. Ini pernah gue tulis di profil blog, loh. Hehehe... Gue sangat berterimakasih sama Bang Doli yang baik banget mau ngirimin buku itu untuk gue. Sempat deg-deggan juga tuh gue, bukunya nggak sampe-sampe juga udah 2 minggu. Di minggu ketiga akhirnya bukunya sampe di rumah! Horeee! pas gue kasih tahu ke si abang kalo bukunya udah sampe, si abang berkata "Oh, syukurlah. Abang kira bukunya hilang dimakan ikan. Habisnya nyampenya lama." Hahahaha...

Yang paling ngeselin itu ya, ada tetangga yang anaknya sebaya gue dan udah lulus, ngomong begini "Ishy udah selesai kuliahnya? Anakku udah selesai tuh. Udah kerja." setelah dia pulang, emak gue ngomel-ngomel "Lihat tuh si X udah lulus. Bla bla bla... " Pusinglah gue. Belum ada seminggu itu tetangga ngomong gitu, dateng lagi dong dia ngomong gini "Kok Ishy nggak lulus-lulus sih!" Serius. Emosi loh. Kata-katanya tuh negatif. Ngapain dia yang ribet sih, bapak gue ini yang bayar kuliah gue! Akhirnya gue curhat sama Ripka, si Ripka cuma bilang "Lah... Itu orang kan emang kayak gitu. Pokoknya gue tunggu kabar baik, ya, dari elo." Terus gue merasa semangat lagi. Terima kasih Ripka!

Menjelang deadline, gue merasakan kecemasan. Kalo diskala-in dari level 1 sampai level "Eyang Subur beneran jadi presiden RI", kecemasan gue berada di level "semoga 21 Desember 2012 kiamat beneran". :D Iya, cemas banget broh! Sampai deadline pengumpulan skripsi, skripsi gue (nggak gue doang sih) masih ada revisi dong. Kelar-kelar udah jam enam sore gitu. Terima kasih kepada Galih yang sudah rela mengantarkan gue cari tempat jilid. Ketika sedang menjalani sidang sih gue nggak panik, lebih panik bikin skripsinya sih.  Atau mungkin lebih tepat dibilang panik gue udah abis stocknya, dipake buat skripsian. Gue ingat ketika gue selesai sidang, gue disamperin sama Iflah, Mita, Pipit, dan Indri. Terus girang bareng-bareng deh kita! Padahal ya, si Pipit, Mita, dan Iflah sidangnya 2 hari lagi, tapi mereka menyempatkan diri datang.

Sidang gue itu dicepatin biar nggak perlu istirahat. Seharusnya mulai jam satu siang, jadi jam dua belas siang. Ketika selesai sidang, gue menghubungi nyokap dan kata nyokap: "Oh, kau sudah selesai sidang? Lulus? Okelah. Good luck ya! Eh, good luck nya itu namanya?" gue ketawa. Gue tahu nyokap mau bilang congratulation, tapi dia lupa. Tapi gue iya-in aja. Mungkin untuk ke depannya, gue membutuhkan keberuntungan. :) Gue juga bersyukur punya orangtua yang selalu berjuang mati-matian untuk anaknya yang bandel dan susah diatur ini. Orangtua gue selalu bisa menyediakan apapun yang gue butuhkan, terutama untuk pendidikan gue. Ada juga si Tante Otto dan Tulang Josep, yang sepanjang gue kuliah di saat-saat gue penat, mereka selalu jadi tempat kabur yang menyenangkan dan mengenyangkan. Hahahaha...

Manusia itu suka menghibur diri sendiri dengan berkata 'everything happens for a reason' atau 'selalu ada hikmah dibalik peristiwa'. Kadang sih gue mikir, ya udah sih terima aja, sometimes we're just fucked up by life, and yes, we're ended up being nothing in nowhere. Nggak, nggak! Jangan dengerin gue.

Kalau lagi ngomongin skripsi, selain dosen pembimbing skripsi gue yang awesome to the max itu tentunya ( I really really respect her!), pasti nggak akan lepas dari rekan satu dosen pembimbing! Yes! They're Indri, Pipit, and Erik. Mari kita ceritakan satu persatu. Indri, seperti yang pernah gue ceritakan di sini, dia nggak bisa bedain makanan bagus dan makanan basi, tapi pengakuan dia ke gue beberapa waktu lalu, dia udah bisa ngebedainnya (thank God!). Pipit, setiap kali dia mensyen gue di Twitter dengan kalimat "cek dm" yang kesannya sangat serius itu dan gue melakukan apa yang diminta, gue pasti menemukan tulisan pembuka "maaf shy aku nggak ada pulsa". Erik, komika yang kudu rajin sungkem sama emaknya untuk minta ampun karena senang bikin joke tentang si nyokap di stand up comedy atau di Twitter. Demikianlah saudara-saudara, ketiga teman saya ini. Hahahahahaha... (bukan itu yang harusnya diceritain, Ishy!)

Indri itu adalah teman bicara yang apapun lo bicarakan, lo pasti jadi lebih paham, jadi lebih lega, dan jadi lebih senang. Cukup satu kalimat itu aja sih buat mendeskripsikan Indri, tapi buat gue itu sih udah banyaaaaaak bangeeeeeeeettt artinya. Jadi ingat saat-saat ketika kita di penghujung semester 8, menghibur diri dengan kata-kata "sometimes it's hard to do the right things, but still, we're doing it right. our right time is not about right now." dan kemudian di ujung semester itu Bu Felli ngasih izin Indri turun ke lapangan. Indri menelepon gue "Gue kepikiran kata-kata lo, Shy. Right time is not about right now." and I was like "INDRI, LO JANGAN DENGERIN GUE!" Hahahahahaha... Indri sangat menolong sekali dalam satu tahun terakhir ini.

Pipit itu selalu melontarkan kalimat saktinya ke gue yaitu "Skripsi tuh jangan dipikirin, tapi dikerjain" yang gue respon dengan tatapan nyureng, sinis, melengos, ngomel, ketawa, kebal, dan sampai akhirnya gue melakukan saran itu. Gue memutuskan untuk tidak memikirkan skripsi gue saat gue sedang memberanak-pinakkan sims gue sampe 4 turunan (eh, tapi yang 4 turunan ini udah 'kiamat'.). :D Pipit nggak betah kalau nggak dengar kabar progres skripsi gue. Dalam kurun waktu 6 jam gue nggak menghubungi Pipit, dia pasti sms nanyain skripsinya udah gimana. Udah kayak reminder abis lah si Pipit mah... Hahahaha... Pipit juga selalu bisa mengurai benang kusut di pikiran gue. Setiap kali gue ribet, secara ajaib si Pipit bisa bikin semuanya jadi simpel.

Erik itu ntah pernah ngerasain emosi negatif atau nggak, yang jelas, dia selalu menyebarkan energi positifnya kemana-mana dan kadang-kadang itu bikin gue silau. Hahahaha... Erik itu optimis banget... seems like he never let anything to bring him down. Erik pernah cerita ada yang nyamperin dia sambil ngomong "hah? lo masih bab sekian Rik? Lo kan bikin skripsinya dari semester 7." dan dengan gaya a la motivator Erik berkata "nah, yang kayak gini nih Shy yang bikin kita nge-down. Tapi tetep kita harus semangat." dan saat itu gue bimbang antara pengen nyari dan memaki orang yang ngomong gitu ke Erik atau ngegoncang-goncangin kepala Erik kenapa dia masih bisa tetap positif gitu. Erik tuh ya... Berapa orang sih yang bisa berbesar hati ngebercandain dirinya sendiri di acara inagurasi soal niat dia kuliah 3,5 tahun tapi jadi 4,5 tahun? Nah itu tuh si Erik! Dan satu hal lagi yang seharusnya orang tahu sebelum nanya progress skripsi si Erik, Erik itu nggak pernah berhenti usaha! 

Salah satu kebahagiaan gue adalah kami berempat selalu saling mendukung, membantu, dan menguatkan dari awal ke pertengahan... sampai akhirnya bisa sama-sama wisuda. Thank you for being a great teamwork, buddies!

Gue juga sangat berterima kasih kepada Coco yang mau nganterin gue fotokopi skala segitu banyaknya keliling Depok, malam-malam. Kalau ingat, sampai sekarang masih terharu. Coco tuh nggak banyak komentar, tapi kelar aja tuh fotokopian. Gue baru selesai bikin bentuk skala yang benar sehari sebelum ambil data. Dan gue harus bikin fotokopian sebanyak 600-an set. Dan saat itu udah jam 3 sore! Duh kalo ingat ketar-ketirnya saat itu... Dan orang tuanya Coco juga sangat welcome ke gue, si oom bahkan menawarkan gue untuk tinggal di rumah mereka sampai skripsi gue selesai! SERIUS OM MAU NAMPUNG SAYA SELAMA SATU SETENGAH BULAN? OM TAU NGGAK MAKAN SAYA BANYAK??? X)) Makasih juga buat Dhado! Yang bersedia menemani dan ngangkat skalanya. Jadi, ya, waktu kita lagi nunggu fotokopian itu, si Coco dan Dhado joget-joget gitu, saat itu aku tahu bahwa aku bukan satu-satunya orang yang lagi stress. :D She bought me coffee and chocolate while we were waiting. Katanya biar relax. Hehehehe... Makasih loh usahanya, Co. Biar gue tetap ketar-ketir saat itu, tapi yang begini ini (yang nggak gue perhatiin) tetap lo perhitungkan, that means a lot.

Gue juga berterima kasih sama Mita. Saat-saat gue lagi ribet nyusun skala per-kelas dan udah nggak kepikiran harus ngapain lagi, Mita ngehubungin gue, menawarkan bantuan untuk ngangkut skala-skala itu. Dan Mita juga yang nyari-nyari teman yang bisa ikutan ngebantuin gue. Mita nolongin gue tanpa gue minta dan walaupun gue nggak tahu bahwa sebenarnya gue butuh ditolong. Hahahaha... Serius itu skala berat banget! Gue bener-bener bersyukur. Banget.

Terus ada Iflah dan Teh Fitri, yang gue kintilin dari minta tanda tangan Bu Winda, beli buku (Teteh sebagai juru tawar), sampe segala perintilan kecil yang bikin gue grasak-grusuk... mereka berdua ini nih turut gue susahin! Hahahaha... Ada Anti sama Ita juga yang rajin banget, pengen segala administrasi cepat kelar, jadi kalo ada apa-apa mereka tahu duluan. Ingat si Anti yang bolak-balik ke rental komputer - perpus gara-gara format PDF kudu gini kudu gitu. Terus ya, gue yang gede gini aja nyebrangnya lewat jembatan penyebrangan, si Anti, yang jauh lebih kecil dari gue, nekad lewat bawah loh, gara-gara takut perpus keburu tutup. Dari jembatan penyebrangan, gue lihatin lah si Anti udah nyebrang setengah jalan terus lari balik ke pinggir karena ada truk gede. Antara pengen ketawa sambil geleng-geleng kepala laaah gue ngelihatnya. :D Tapi akhirnya si Anti sampai di seberang dengan selamat. Beda lagi sama si Jay. Santai ajaaaa gitu, belum ngumpulin skripsinya ke perpus... Seloooowwww... Orang lain mah pengen buru-buru cepat selesai.

Dan masih ada lagi teman-teman yang setia mendukung dan mengingatkan (mereka: skripsi udah gimana? skripsi udah gimana? skripsi udah gimana? | gue: aaaaaaaaaaaaaaaaaaggghhhh.........). Hahahahaha... Serius deh saat-saat lagi berkutat sama skripsi, segala sesuatu yang mengingatkannya itu bikin bete. Gue sih bukan tipikal yang suka menghibur diri sendiri dengan ngeganti skripsi jadi "skripsweet", atau kebawa bete sampe nyebut "skripshit". Ya udah sih, bok, skripsi mah skripsi aja. Ada lagi yang nyaranin "anggap aja skripsi  itu pacar kita." Blah. Maksudnya tiap hari gue ngetikin mukanya gitu?

Mikirin setahun yang terserok-serok itu... there were times when i refused to be happy and keep optimist. Tapi satu yang pasti sih, gue selalu punya keyakinan skripsi itu pasti selesai. Jadi ya emang gue nggak mau capek-capek menghibur dan menyemangati diri sendiri saat itu. Selama ada keyakinan, mau babak belur kayak apa juga, tujuan pasti tercapai. Gue yakin sama diri gue sendiri. Cuma itu yang penting.

Setahun.

Tapi gue punya waktu empat setengah tahun yang membahagiakan, yang patut disyukuri. Saat-saat gue dikasih kesempatan kenal banyak orang. Teman-teman asik di saat senang dan sebagian dari mereka yang masih tetap setia di saat-saat ribet (gue tahu gue nyebelin banget kalo lagi panik), entah buat nyemangatin, menenangkan, atau noyor gue supaya sadar. Hahahahaha... Dosen-dosen yang luar biasa, staff TU yang baik-baik. Berkat-berkat yang masih gue hitung saat ini dan gue syukuri karena, hey, Tuhan itu baik!

Gue akan selalu mengenang saat Coco nyanyi OST Tarzan di depan kandang beruang kebun binatang Ragunan sambil memandangi beruang itu. Begini liriknya: "WELCOME TO OUR FAMILY TIME!" dan gue ngakak. Baru tahu si Coco sodaraan sama... ah... sudahlah. :))

Gue ingat suatu hari saat kuliah Psikologi Komunikasi. Coco dan Kharis ngelirik ke arah gue sambil bisik-bisik berdua, saat ada statement di slide: "Wanita menarik perhatian lelaki dengan menggerak-gerakkan alisnya." Selesai kuliah, mereka nyamperin gue "Kita kan abis ngegosipin elo di depan" (seolah gue gak tahu aja!), "Iya. Lo nggak bakal bisa flirting ke cowok. Lo kan nggak punya alis." Whaaaaattttt??? X))) Gue punya alis kok! Biar tipis juga.

Kemudian, saat pertama kali gue berbicara serius dengan Galih. Jadi waktu itu kami ada tugas kelompok. Gue kirim pesan teks ke Galih dan nggak sadar kalau Galih udah membalas pesan gue. Dan akhirnya Galih nggak masuk kelompok deh. Demikian pembicaraan kami, di tempat Emak (waktu itu Emak masih jualan)
Gue: iyaaa, Gal. Gue nggak tahu kalo elo bales sms gue *ngunyah pisang goreng*
Galih: *menerawang jauh* yaaah... gue... ngerasa... bahasa halusnya sih gue "bingung" kenapa elo nggak bales sms gue.
Gue: BAHASA HALUS? OH, JADI KALO BAHASA KASARNYA ELO "MARAH" GITU? *ngunyah pisang goreng* *nyeruput kapucino*
Galih: uhmmm... iya... gitu.
Gue: JADI, ELO MARAH SAMA GUE? *ngambil bakwan jagung*
Galih: *tampak lega*..... iya.
Gue: OH. *ngunyah bakwan jagung* *udah gitu aja responnya* ~ladies and gentlemen, present, the most insensitive girl on the earth~

Awal semester tuh Galih tampak hati-hati banget kalo mau ngomong, semacam cemas kalau orang jadi tersinggung. jadi ya kalo ngomong gitu, pake acara bahasa halus - bahasa halus. Terus ntar gue yang terjemahin bahasa kasarnya :D. Tapi itu cuma sementara, kesini-sini si Galih suka bilang gue ngeselin, dan ngomongnya tuh dari hati banget. Hahahahaha.....

Gue juga bakal ingat saat-saat gue suka nongkrong di HMJ ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ngetan wulon sama teman-teman. Ntah apalah  yang kita bahas.
Suatu hari Jumat, saat tinggal gue, Alwin, dan Kharis di HMJ. Waktu itu kita udah mau pulang. Seonggok jaket reg08 tergeletak di lantai.
Gue, Alwin, dan Kharis berdiri di depan pintu sambil memandang jaket itu.
Gue: Itu jaket siapa sih? *agak kesal karena merasa jaket itu disia-siakan pemiliknya*
Alwin: jaket lo kali?
Gue: jaket gue di tas.
Kharis: paling jaket Adith. Ya udahlah biarin aja. Senin juga diambil.

Kami-pun pulang.
Sesampainya di kereta dan gue mau pake jaket, ternyata jaket gue nggak ada. Yaaa ampuuun yang di HMJ itu ternyata jaket gue, sodara-sodaraaa sekaliaaannn...

Seninnya, gue nyamperin Alwin,
Gue: eh, ternyata yang di HMJ itu jaket gue, Win.
Alwin: *menatap gue dengan tatapan penuh emosi selama 15 detik* GUE UDAH NANYAIN KE SEMUA ANAK REGULER, NGGAK ADA YANG NGAKU ITU JAKET PUNYA SIAPA! UDAH MAU GUE BAKAR, TAUUUK NGGAK???
Gue: *ngakak karena nggak ngerti kenapa si Alwin emosi banget*

Suatu hari gue berdiskusi dengan Alwin mengenai Kharis yang jadi subjek penelitian gue di mata kuliah Psikologi Kepribadian. Gue harus kasih tahu ini, Bu Zarin, dosen mata kuliah itu pernah bilang ilmu psikologi itu semacam rekonstruksi kepribadian gitu deh. Jadi kepribadian seseorang dibongkar dulu, kemudian kita susun lagi. Kalo istilah yang pernah dikasih tahu sama Pak Gume itu namanya "reframing". Jadi Bu Zarin menugaskan kita ngasih intervensi supaya reframing gitu.
Jadi, niat gue curhat ke si Alwin ini karena Alwin kan significant othernya Kharis. Tapi apa yang gue dapatkan? "Ya udah, Shy. Lo 'bongkar' aja si Kharis. Nggak usah 'disusun' lagi, ntar juga dia bisa 'nyusun' sendiri kok.". Ris, kalo lo baca ini, gue cuma ngasih tahu aja, ya. :p Eh, tapi waktu itu sih respon gue adalah ngakak, antara pengen melakukan saran si Alwin dan kasian sama Kharis. Hahahahaha....

Gue juga bahagia punya teman kayak Mia dan Mpok Rima yang jago masak makanan enak. Eh, mereka berdua itu seksi konsumsi waktu PKMJ tahun 2010. Salah satu yang gue ingat tentang kisah PKMJ (selain diceburin ke kolam yang nggak pernah dibersihin, tentunya) adalah kebiasaan gue yang konsisten manggil Rima dengan sebutan "mpok". Ternyata beberapa orang yang mendengarnya membuat asumsi sendiri kalo si Mpok lebih tua dari kita semua. Saat gue sedang mengantre makanan, si Mpok nyamperin gue dengan tampak jutek kemudian berkata "Gara-gara elo manggil gue 'Mpok', si Zahid jadi manggil gue 'kakak'!!!" dan gue-pun ketawa ngakak.

Gue suka saat-saat gue, Uwi, Ajeng, Indri, Coco, Fyryn, Fitri, Jay, Anti, Mia, dll, nongkrong ngemil dan ngobrol di penghujung hari. Entah apa aja yang diobrolin.
Udah kerja kayak sekarang gini benar-benar kangen suasana itu. Berkumpul seperti itu benar-benar menghilangkan penat nggak peduli betapa capeknya gue.
Tapi bagian yang paling nggak bikin kangen adalah saat Coco menghadap ke arah lain membawa serta makanannya menjauh dari kerumunan supaya makanannya nggak diminta. hahahaha....

Gue jadi mengumbar aib.

Akhir kata, sekalipun gue enggan untuk mencari-cari makna di balik peristiwa, pada akhirnya gue tetap mempelajari beberapa hal, yaitu bystander of bullying itu ada 4; sidekicks, reinforcers, defenders, dan outsiders. hehehehe...

Ada saat-saat ketika beban kehidupan (tsaaah...) membuat kita seakan nggak pernah bahagia, melupakan semua kegembiraan yang sebenarnya nggak pernah menjauh dari kita. Mau sedih ya silakan saja. Kalau stress apa boleh buat. Tapi tolong sisakan saja sedikit ruang bagi pengharapan, untuk keyakinan, keteguhan, dan kepercayaan, bahwa seberat apapun masalah yang harus kita tanggung, rintangan apapun yang yang harus kita hadapi; semua itu akan berlalu. Selalu ada masa depan cerah yang memang sudah kita miliki, hanya menunggu saat yang tepat untuk menikmatinya. Dan nggak peduli, apakah selama perjuangan itu kita babak belur, luluh lantak, diterpa angin yang memaksa kita untuk berhenti melangkah dan malah jadi mundur; tolong, tetaplah berjuang. Mau sambil menangis, silakan saja, tapi jangan lupa hapus air mata.

Semangat itu nggak selalu teriakan lantang, menggebu-gebu, dan berapi-api. Jangan dipaksain semangat, nanti teriakannya malah bikin suara kita habis, yang menggebu-gebu malah bikin akhirnya capek, yang berapi-api malah jadi padam.
Semangat itu bisa merupakan bisikan lirih di sudut hati kita yang berbisik "besok kita coba lagi" saat menjelang tidur; atau mungkin berupa "tendangan bayangan" yang nyepak bokongmu setiap pagi untuk beranjak dari tempat tidur dan bersiap agar tidak telat datang bimbingan.

Kalau sobat-sobat lo bukan cuma asyik diajak kongkow aja, tapi juga asyik buat diajak diskusiin pelajaran atau mata kuliah, bertukar pikiran, nggak ninggalin lo di saat lo lagi nyebelin banget, selalu mendukung, tetap setia ngomelin dan mengingatkan hal-hal yang baik........ Bersyukur! Mereka tuh harta karun berjalan. Hehehehe....

Nggak peduli sebanyak apapun duka, rasa syukur tetap nggak akan pernah putus ketika kita menyaksikan mereka yang di hati itu ternyata berdiri tepat di sebelah kita, bukan cuma mendukung tapi juga ikut berjuang dengan kita, saling menguatkan di arena kehidupan ini.

Setahun yang lalu hal-hal itu terasa berat, tetapi sekarang gue mengenangnya dengan rasa syukur, mengingat wajah-wajah yang setia mendukung gue. Banyak nama yang belum gue sebutkan di sini, bukan berarti gue nggak ingat, tapi lihat kan ujung-ujungnya ngumbar aib juga... Hahahaha....

Atas seluruh kasihNya, untuk segala cinta, keluarga, dan persahabatan... Dengan semua itu yang menjadi pilar-pilar penopang kehidupan kita, mari rayakan hari-hari kita dengan sukacita sambil menghitung berkat yang tak pernah putus.

I love you, all.



Serpong, 19 Maret 2014

Kamis, 28 Februari 2013

Pulang


Lukisan senja tak perlu kau pahat dalam ingatanmu,
Sekalipun ronanya ditelan malam, kerap kali senja kembali.
Hari ini, bagimu ia cantik, esok mungkin tidak.
Sekalinya ia mengagumkan, perhatianmu meluputkannya.
Tetapi bagiku, senja selalu berhasil menciptakan momentnya sendiri.
Tak peduli apakah ia indah bagimu atau hanya semburat membosankan.
Senja adalah saat yang tepat bagi rindu untuk menyiksaku dengan jarak
Senja yang menghembuskan angin dingin mengingatkanku bahwa aku jauh dari pelukmu

Adakalanya aku memejamkan mata,
Berharap gurat kabur senyummu menajam dalam ingatanku.
Tapi semakin kulumat pandang ingatan warnamu, semakin ia habis dalam kenangan.
Betapa inginnya aku berada di sisimu.
Betapa rindu aku dalam dekapmu.

Tugasku belum selesai, kau tahu, bukannya aku menyerah.
Tapi lihatlah, piala-pialaku mulai berdebu, kilaunya memudar.
Medali-medaliku tidak mengerling lagi.
Aku rindu binar di matamu.
Aku hanya ingin kembali, membawa pulang rindu yang semakin mengental.

Keangkuhanku mulai usang, keyakinanku kalah dalam pertaruhan
Aku hanya ingin meletakkan egoku sejenak
Kemudian menemukan kembali lengkung senyum yang meneduhkan itu
Sekadar mencoba menikmati damai yang kerap kali kau tawarkan dalam secangkir kopi
Aku ingin tertawa dan menangis bersamamu lagi

Mengembara dalam waktu dan menjelajahi kota yang tak pernah tidur
Hanya menggerogoti nafasku perlahan
Jika hanya kota tertidur aku bisa menapaki pekarangan rumahmu,
Maka selamanya aku hanya akan merindukan punggung hangatmu untuk kurengkuh.

riuh rendah pesta, gegap gempita perayaan, kesenangan yang dijanjikan tak pernah habis
aku bisa menciptakan tawa palsu dari kesemuan ini
tapi kehangatan dari pertemuan terakhir kita, itu yang mengukir senyum tulus.

Biar ku letakkan beban di pundakku
Biar ku simpan amunisiku
Biar ku rebahkan tubuh lelah ini

Aku akan memejamkan mataku, menikmati alun senandungmu,
Merasakan kehadiranmu di sekitarku, dan aku akan tahu
Bahwa aku telah pulang...

Jumat, 14 Desember 2012

Perjalanan Ini Aku, Pelajaran Ini Milikku

sentakkan aku dari lamunan
ada yang harus aku lakukan
kembalikan aku pada realitas
ada tanggung jawab yang harus kupikul

kupikir hanyalah aku sendiri
lupa jika mereka ada
dan kerap kali aku menjadi pikun
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku

kupikir hanyalah aku sendiri
dan, ya, di atas kakiku sendiri
tapi kegelisahanku kelaparan
kecemasanku butuh makan
lupa, mereka tidak akan pernah kenyang

aku berharap mereka ada
dan mereka memang ada
tapi aku kan bukan pusat tata surya?

sekalipun tak pernah habis
keluh sungguh tak ada guna
peluh bukannya membanjir
seberapa besar rupanya usahaku?

sulit sekali ya, bagiku
mengakui aku tidaklah sempurna
lebih mudah mencari kesalahan orang lain
aku tahu, tapi tak mau tahu

aku diam, tapi ingin mereka mengerti
sebenarnya, jika angkuhku boleh bicara
aku mampu sendiri
sebenarnya, jika kerapuhanku merintih
aku tidak mau sendiri

jiwaku sibuk ketakutan
imajinasiku mengerikan
aku merasa kerdil terkepung
tidak tahu harus bagaimana

banyak yang harus kumengerti
agar bisa membuat mereka mengerti
oh, sulitnya ketika aku melangkah karena insting
sementara setiap langkah harus diperhitungkan

sudah cukup, diriku sayang!
kita cuma menakuti diri sendiri
antara tahu dan tidak tahu
apa yang akan dihadapi

jangan sampai pikiranku buntu
karena sibuk memanjakan rasa takut
jangan sampai melumpuh
karena membiarkan cemas menggeroggotiku

jangan meminta lebih banyak
dari yang kubutuhkan
aku sendiri tidak bisa jamin
jika waktu bisa diulang, aku tak akan
jatuh di lubang yang sama

ikhlaskan terjadi, apapun itu
aku tidak punya waktu untuk berhenti
aku tidak bisa memutarbalikkan waktu
aku tidak bisa lari dari kenyataan
aku tidak bisa mundur lagi

aku izinkan diriku menghadapi semua
dengan sukacita, dengan tabah
aku izinkan diriku meraih kebahagiaanku
aku izinkan diriku meraih kesuksesan
aku izinkan diriku menjadi kuat

karena,
perjalanan ini aku
pelajaran ini milikku

Senin, 05 November 2012

Terlambat

Kata-kataku habis maknanya. Sementara kau tak kunjung paham.

Nada-nada menjadi tuli, mereka tidak mengenal lagi diri sendiri.

Maka apalagi yang harus kulagukan?

Halaman rumahku menggersang. Debu-debu mengotori teras.

Tanah sudah terbiasa dengan dahaganya.

Sebentar lagi aku yang mati.

Kita sudah terbiasa menjadi pahit, getir, dan lelah.

Tidak terpikir untuk berhenti.

Sudah terbiasa berduka.

Rusak.

Berdarah.

Seolah bukan masalah sehingga tidak perlu diperbaiki.

Kita berteriak satu sama lain.

Suara ternyaring adalah pemenangnya, sampai sebuah tamparan mendarat tepat di pipi.

Setiap kemarahan harus ditebus dengan rasa sakit.

Pikiran membuntu.

Semakin marah, semakin dengki, semakin ingin menyakiti.

Kemudian kau bingung.

Tanah menggumpal-gumpal kering tak akan bisa menutup rapat aku.

Kau takut orang-orang tahu aku membusuk.

Maka kau tanami atas ku dengan melati, bunga kesukaanku.

Terlambat, aku tak akan bisa melihatnya di dalam sini.

Terlambat, karena aku sudah tak bernapas untuk menciumnya.

Terlambat. Semuanya terlambat.

Selasa, 09 Oktober 2012

I’m Just Human Being #2: Ngawur


Well,

Masih menganggap "cuma manusia biasa" sebagai pembelaan diri yang menyedihkan.
Mau mulai darimana ya? Bingung.

Gue pernah ingat seorang teman yang pernah bilang, "Kita punya hak mengatakan 'tidak' untuk mengerjakan kerjaan kita." Nggak, ini bukan alasan yang gue pake buat berhenti bekerja. Tapi, hanya sekadar ingin menyisihkan waktu sejenak buat nulis. Ngeluh itu enak loh, walau nggak ngurangin beban dan malah bikin makin capek. Haha.... Gue selalu yakin kok bisa mengatasi apapun yang terjadi ke gue, hanya saja pilihan selalu ada di tangan gue kan ya? Pilihannya adalah gue mau nambahin drama di masalah gue atau nggak. :D Shit.

Terusss...

Beberapa hari yang lalu, ada kebaktian remaja di rumah gue. Gue hanya duduk-duduk unyu aja dengerin mereka diskusi dan kerap kali keluar dari topik diskusi, sampai-sampai pada lupa apa yang seharusnya dibahas dan ketika gue tanya lagi bahas apa, bener! Nggak nyambung. Selesai kebaktian, setelah para remaja itu (eh, serius deh! Nulis "remaja" dan gue bukan bagian dari kata itu ngebuat gue merasa tua. Banget.) ngobrol sebentar sama bokap, gue ikutan ngobrol bareng mereka, menceritakan tentang pengalaman gue waktu ikut kebaktian remaja dan event-event apa saja yang pernah gue ikuti. Gue nggak bisa menceritakan satu event dengan tuntas tanpa disela minimal tiga kali dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. :D :D Oh, gue bukan mau mengkritik kemampuan nggak nyambung mereka. Tapi, beneran deh, gue tercengang melihat remaja-remaja itu dengan ide-ide yang loncat-loncat kayak gitu.
Dan dengan kebaktian kayak gitu, cerita-cerita masa-masa gue aktif, gue jadi mengenang lagi semua momen-momen yang mengisi hampir seluruh masa remaja gue (oh, sial. Gue bener-bener ngerasa tua sekarang.). Ahh, kangennya. Boleh kan ya, sesekali melihat ke belakang. Bagaimana dulu gue labil. Kenapa dulu gue gini dan nggak gitu aja, keputusan-keputusan yang seandainya bisa gue ubah. Dan mungkin sekarang akhirnya berbeda? Bukan mau menyesali sih, cuma peringatan aja, cuma pembelajaran. Mau berubah jadi lebih baik ya bagus. Tapi lucu gak sih, saat itu lo menikmati hari-hari lo, tapi ketika semua berubah jadi masa lalu, kebanyakan "seharusnya dulu gue gini, gue gitu".

Sebenarnya, gue nggak niat bahas ini. Haha. Kalo dibiarin ngalir, tuh, malah jadi ngalor ngidul ya.
Jadi, di antara semua topik random luar biasa dan nggak tahu bersumber darimana, tiba-tiba Psikologi mengalir ke permukaan. Gue benar-benar nggak ingat bisa ngebahas Psikologi karena apa. Flight of Idea. Pokoknya tiba-tiba aja si Josh mengatakan bahwa gue mahasiswi Psikologi. Setelah mereka tahu gue belajar Psikologi, ada yang berkomentar "Gue juga pengen jadi psikolog!", "Teman gue juga pada pengen ngambil Psikologi!", dan "Kakak gue pengen masuk Psikologi." Dan pertanyaan "kenapa Psikologi" naik ke permukaan. Macam-macam sih. Yang gue ingat sih "Soalnya pengen bisa ngebaca kepribadian orang". Jawaban itulah yang bikin gue pengen, seandainya bisa dan kelihatan, menaikkan sebelah alis gue. Bikin gue pengen tanya balik, "Terus kalo lo bisa baca kepribadian orang, lo mau apa?" Terus, mereka nanya ke gue "Kalo Kakak masuk Psikologi karena apa?". Gue jawab sambil nyengir "Berobat jalan." Mereka diam dong. Yup! They didn't get my joke! Bahahahahahahahangke.

Beberapa waktu lalu, ada teman nyokap yang nanya perkuliahan gue. Dan gue jawab lagi nyusun skripsi. "Berarti semua mata kuliah udah selesai?" tanya beliau. "Sudah, Tante." Jawab gue. "Berarti udah bisa baca wajah orang dong?" tanya beliau lagi. Di sinilah gue ngakak dan dia kelihatannya merasa terhina dengan respon gue. Situasipun menjadi canggung dan gue memutuskan pergi ke dapur.

Terus, sepupu gue: "Lo belajar Psikologi ya? Wah, harus waspada gue!"
Teman main gue: "Om gue bilang kita harus hati-hati sama orang yang belajar Psikologi. Soalnya mereka bisa baca kita." Did that mean we can not be friend anymore? :D

Kenapa harus takut pikiran lo bisa dibaca orang, sih, hm? :) Kenapa harus khawatir kepribadian lo yang sebenarnya terkuak? Yang nggak habis pikir, dapat ide darimana orang yang belajar Psikologi saingan sama dukun atau paranormal? Woy!! X)) Coba dibahas pertanyaannya deh. Kenapa takut hayooo? Kenapa khawatir? Apakah karena pikirannya sibuk di hal-hal seperti merencanakan pembalasan dendam (tsaaah...), atau mikirin gimana caranya dapat uang jajan tambahan, atau mikirin negara, atau pikirannya kebanyakan ngabisin waktu di comberan jadinya takut tertangkap basah? :D atau gak pernah mikir sama sekali? :) Kepribadian nih sekarang! Kenapa? Pakai topeng ya? :D Iya, topeng. Or whatever you name it. Manner, sopan santun, faking good or bad, muka dua. Kita mencoba menutupi sesuatu, misalnya kekurangan kita, supaya gak ada yang tahu. Yang mereka tahu cuma kita sempurna. Gitu ya? :) Sampai beberapa orang yang sadar sepertinya ada yang nggak natural dari tingkah laku lo, ketika lo menjaga sopan santun seperti mencoba bersimpati dan orang berpikir simpati lo nggak tulus? Sedih, ya. Padahal menurut lo yang lo lakukan adalah apa yang seharusnya lo lakukan. Atau lo harus kelihatan bagus karena orang lain menuntut demikian? Topeng lagi. Jadi lirik lagu Peterpan yang sekarang ganti nama jadi Noah: "Tapi kudapat melangkah pergi, bila kau tipu aku di sini~... buka dulu topengmu~... biar kulihat warnamu~..." terasa menyudutkan? Siapa yang menipu, kan itu tuntutan. Gimana dong? :) Ketika harapan orang lain berlebihan terhadap kita, dan kita berjuang untuk memenuhinya, di sisi lain kok rasanya 'bukan gue banget, ya?'. Atau suka-suka lo mau jadi apa, hidup kan punya sendiri-sendiri, atur masing-masing dong! Ketika lo udah jalani hidup sesuai yang lo mau, orang-orang yang lo anggap rese menjauh perlahan, dan seketika lo ngerasa hampa di saat lo mengecap kebebasan. Feels like you want to escape from freedom. Contoh lainnya, ketika tanpa sengaja 'topeng'nya terlepas, lo merasa 'telanjang'; nggak punya perisai; ketakutan bakal dijatuhin orang. Ketika nggak sengaja ada orang yang berhasil menemukan celah kelemahan lo, lo berubah jadi defensif atau bahkan balik menyerang.

Atau gini nih. Ketika lo nggak bisa menerima kenyataan; ketika lo ngelampiasin kemarahan lo ke objek lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan masalah lo; ketika lo dilanda masalah berat dan yang lo lakukan adalah naik ke kasur ortu lo, tidur di tengah-tengah mereka, seperti yang lo lakukan waktu berusia 5 tahun di malam-malam mimpi buruk; ketika lo takut setengah mati, tapi lo pura-pura berani sampai mau mati sebenarnya; ketika lo maki-maki orang lain padahal lo lebih layak dapat makian itu; ketika lo lebih sering menyanyikan lagu galau karena lebih bisa diterima ketimbang nangis di pojokan kamar setelah lo diputusin cewek lo, padahal sedihnya udah kayak ditinggal mati.

Defense mechanism.

Nah, coba dibandingkan dengan:
Ketika lo yang melihat ada orang yang pura-pura nggak peduli gossip santer yang bilang pacarnya selingkuh?
Ketika lo dimarahin habis-habisan, setelah itu orang yang marahin lo curhat mobilnya baru aja diserempet motor?
Ketika lo lihat tetangga lo pulang ke rumah ortunya setelah berantem dengan istrinya? :D
Ketika lo nanya sama teman lo "Lo naksir X, ya?" dan dia menjawab dengan histeris "NGGAK KOK! NGGAK MUNGKIN GUE NAKSIR X! DIA TUH NYEBELIN WALAUPUN JAGO RENANG, JAGO BAHASA SWAHILI, IKUT OLIMPIADE SAINS, SUKA BERCANDA, KALO SENYUM JADI CAKEP, SUARANYA SEREK-SEREK SEXY, JAGO MAIN OKULELE, TANGGAL LAHIRNYA 30 FEBRUARY, MAKANAN FAVORITNYA TEMPE MENDOAN, SUKA WARNA KUNING!! SUMPAH, GUE NGGAK NAKSIR! DEMI TUHAN! KENAL DIA SEKARANG AJA GUE NYESEL KENAPA NGGAK DARI DULU... Eh."

Ketika lo yang dimaki-maki, tapi kok yang maki-maki kayak lagi pengakuan dosa?
Ketika lo mendengar lagu-lagu Glenn Fredly yang galau karena putus itu?


Tahu nggak gimana rasanya ketika lo paham apa yang memotivasi seseorang melakukan berbagai macam hal tapi lo nggak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya?; ketika lo tahu alasan mereka dan mengerti tetapi orang lain menghujat dan lo nggak bisa mengatakan yang sebenarnya?; ketika lo yang menjadi sasaran kemarahan seseorang hanya karena ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan yang bersangkutan?; ketika lo tahu banget seseorang butuh pertolongan tapi masih sok kuat? Apalagi lo tahu mereka butuh seseorang yang membantu dan cara yang tersedia itu adalah ikut terseret masalah. Lo tahu harus melakukan hal yang benar tapi kok rasanya berat banget?

Kadang mengenal diri sendiri kok terasa sulit, gimana bisa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya?
Manusia emang kompleks sih ya. Namanya juga manusia.

Gue jadi pusing.

Oh iya, kalo ketemu orang ngapain awal-awal langsung pengen tahu kepribadiannya? Menurut gue sih, kadang kita menemukan teman yang langsung klik justru lewat pembicaraan santai misalnya punya minat sama. Kalo gue udah ngomongin Disney mana gue peduli orangnya kayak apa kalo minatnya sama? Definisi teman yang asik juga subjektif. Dan agak sulit buat gue untuk menjalin pertemanan yang apa adanya saat gue mulai menganalisis. Kalo berinteraksi dengan orang tanpa penasaran sama masa kecilnya, masa remajanya, trauma event, precipitatinghalah... surprised sendiri dengan hal-hal kecil yang "ih! Lo gini toh aslinya! :D". Jadi udahlah yaaa, apa adanya saja.

Dan... nggak. Gue nggak punya jawaban untuk semua kemengapaan 'ketika-ketika' itu. Kalaupun gue tahu, gue nggak akan kasih tahu. Itu yang harus kita selesaikan sendiri. Karena orang-orang akan selalu ada di sekitar kita untuk membantu, tetapi pelajarannya selalu menjadi milik kita. Kalo nggak salah, ini kata-katanya Melody Beatie (gini bukan tulisannya?). Punya keberanian untuk menerima kenyataan dan menghadapi masalah langsung aja udah hebat banget sih menurut gue.

Gue nggak tahu lagi bahas apaan nih.

Jadi, "manusia biasa" mungkin pembelaan diri yang menyedihkan, tapi akan benar-benar menyedihkan kalau kita nggak pernah melakukan yang terbaik.

Dan soal baca kepribadian, percayalah, kepribadian itu termanifestasi dalam perilaku dan kita belajar mempertajam observasi dan wawancara. Sekian. :)

 

*sementara itu Freud dan Fromm berdentam-dentam di kepala gue. Akur ya.*

Senin, 01 Oktober 2012

Puisi Sebelum Tidur

Hilanglah, lelah. Aku tidak menginginkanmu, walau kutahu kau sayang ragaku.
Enyah, air mata. Aku tampak cengeng, walau kutahu kau menjernih mata dan bersihkan hati.
Pergi, jenuh. Masih banyak yang harus kukerjakan, walau kutahu aku butuh menenangkan diri.
Aku berlari hingga kakiku mati rasa.
Pandanganku mengabur tapi aku semakin tajamkan penglihatan.
Otakku berputar, terus berputar.

Malam kelam, malam temaram.
Istirahatlah sejenak, bujuknya padaku.
Ia kecup keningku.
Esok masih ada.
Tapi tak akan sama, ujarku.
Aku cari-cari kebenaran.
Ia ada.
Kamu letih.
Aku tidak bisa berhenti.

Sibuk.
Sibuk menyesap gundah.
Keluh-keluhmu berkesah.
Amarah menggelegak.
Berhenti sejenak, Sayang.
Tidak. Waktu tergesa. Ia berlari.
Waktu temanmu, Sayang.
Benarkah?

Maka,
Sekali ini kubiarkan mata terpejam.
Kelam, hadiahnya.
Kuucapkan selamat pada malam.
Biar lelap, sesekali kutemukan damai.