Sabtu, 27 Desember 2014

Selaras dengan Realita

sekali waktu aku terbangun di tengah malam. meratapi mereka yang sudah pergi, atau lebih tepatnya meratapi diriku sendiri yang ditinggal pergi, sejadi-jadinya yang aku bisa, sehabis-habisnya... agar aku tidak perlu memelihara duka terlalu lama. apa wujudnya duka? menetap terlalu lama, sehingga ada saat aku bersembunyi atau segenap usaha menyembunyikannya, tidak sadar cahayaku meredup. semakin kuresapi, semakin kusesali. logika berisik, mewanti-wanti, masih kudengarkan agar aku tetap waras.

kadang-kadang hening melegakan. memberiku cukup waktu untuk mengurai kata-kata kusut yang menumpuk di kepalaku, yang tidak bisa kuucapkan atau tidak sempat karena kadang aku terlalu sibuk mendengarkan. atau kadang kutahan, kata-kata itu bermuatan emosi, takut si penerima tidak bisa menghadapinya.

aku masih butuh waktu untuk diriku sendiri, entah sejak kapan aku suka menganalisis diri sendiri. mengapa sekali waktu aku duka, mengapa tawa yang ini sekali terkesan dipaksa, apa nama untuk emosi seperti ini. mungkin dengan memahaminya, dengan mengetahui namanya, aku bisa menemukan cara mengatasinya.

berkali-kali kupikir, semakin kupikir, aku takut dengan ketakutanku sendiri dan aku takut mengakui bahwa aku takut. aku tidak cukup kuat, bahwa terkadang seolah aku serahkan semua pada suratan, bahwa ini yang memang harus terjadi.... ah, bukan seolah, memang itu yang kulakukan. tapi tetap saja aku tidak cukup kuat. kesadaran akan realita yang memang sudah kusadari, dengan angkuhnya aku berjalan bersama waktu, tidak mengizinkan diriku sendiri untuk memberi ruang untuk semua yang kurasakan dan mencoba menatanya.

Aku memang diam. mereka pikir aku tidak punya hati. aku tidak peduli jika mereka pikir begitu. bahwa ternyata diamku dianggap tanpa perasaan, itu terserah mereka. tidak sekalipun aku menatap keangkuhan mereka dan berpikir untuk menarik perhatian mereka, menungguku meminta pertolongan agar mereka tampak seperti pahlawan dengan rasa simpatik besar dan sejuta nasehat yang mereka pikir bisa untuk menyelamatkanku. aku muak. bukan itu yang kubutuhkan.

aku hanya butuh waktu untuk menyendiri. memaknai diri sendiri. menyediakan waktu bagi kesadaranku agar selaras dengan realita. menyediakan ruang untuk rasa kehilanganku. Dengan tabah menghadapi bahwa kali ini, dukalah bagianku dan itu tak mengapa.

Tidak mengapa jika aku harus mengenal duka, hanya untuk memahami bahagia.
Tidak mengapa sekalipun aku merasa takut, karena sesungguhnya menjadi pemberani adalah dengan cara mengatasi rasa takut.


Simpan simpati dan kata-kata bijak kalian, kali ini adalah perjuanganku sendiri.