Jumat, 26 Agustus 2011

Doa Hari Ini

Doa Hari Ini

Dalam sajaklah kuiringkan doaku
doa-doa yang melantunkan harapan
Tuhanku,
hanya padaMu-lah aku berserah
Sandarkan letihku dalam kasih sayangMu
Mantapkan langkahku dalam jalan kebenaranMu
Biarlah kusyukuri setiap berkat
yang mengalir dalam darah dan hembusan nafasku
Biarlah kurasakan kehangatanMu dalam sinar mentari
Tegarkanlah kiranya diriku, Tuhanku.
Sekalipun dengan air mata membasuh luka di hati
Berikan hikmat kebijaksanaanMu
Hingga tak sekalipun aku menjauh dariMu
Biarkan suka dan duka itu silih berganti
agar aku tak pincang berdiri dalam tonggak kedewasaan
dan memahami arti sejatinya
Sungguhpun, oh, Tuhanku...
aku bukanlah pribadi yang sempurna
Kaulah yang melengkapiku
dan sempurnalah semua dalam waktuMu...
Amin...

12 Maret 2008


Note: gue menemukan puisi ini di dalam agenda 2008 yang masih gue simpan. Saat gue menulis puisi ini, 40 hari kemudian gue menghadapi UAN (iyeee, bukannya belajar, gue malah bikin puisi).

Doa gue di hari ini adalah: Tuhan, jangan sampai aku hanya mengingat dan datang padaMu, di saat aku sedang susah saja... Amin.

Rabu, 10 Agustus 2011

Mati Rasa

Siapa yang tega menjadikan kau sebagai nyawa sekaligus pusara rasa sakit?
Jahanamnya aku jika mengutuk Tuhan.
Betapa inginnya menjauh...
Seharusnya kau adalah segala obat, tapi kerap kali kau menyakitiku.
Sekalipun tak ada yang baik dariku untuk kau tinggikan, tolong jangan hina aku.
Aku tidak ingin jadi pemberontak. Aku juga tak ingin menelan kata-kata pahitmu.
Aku penasaran.
Damaikah hatimu ketika kerap kali kau menyalahkan aku atas kesalahan orang lain yang tidak pernah aku buat?
Legakah hatimu setiap kali kau maki aku untuk hal-hal yang tidak dapat kau lakukan?
Apakah kau merasa sukacita setiap kali kau berhasil menemukan puluhan makian yang kau rasa pas untukku?
Jika tidak, apakah itu salahku juga?
Kau tahu, betapa aku membenci diriku sendiri setiap kali aku menyadari bahwa kata dan perilakuku persis seperti dirimu? Ya. Aku takut pelan-pelan aku berubah menjadi seperti dirimu.
Berapa banyak lagi orang yang akan terlibat dalam lingkaran setan kita?
Betapa aku lihat sebenarnya kita selalu bisa lebih baik, tapi selalu saja aku tidak pernah lebih baik bagimu.
Apakah aku benar-benar tidak memiliki kebaikan apapun, sehingga setiap kesalahan karena khilafku membuat hancur hidupmu?
Dalam setiap amarahmu, selalu saja kau katakan seharusnya hidupmu bisa lebih baik bila aku tidak ada.
Apakah kau ingin malam ini aku berdoa agar Tuhan mengembalikan masa lalu sebelum aku ada?
Kau tahu, aku benci kalah. Aku terlalu angkuh untuk meminta Tuhan mengeluarkan aku dari permainan kehidupan ini. Aku tidak ingin menjadi lemah.
Aku egois kan? Itu yang selalu kau katakan. Aku tidak pernah tahu kau akan terpuaskan oleh hal-hal apa saja. Maka aku biarkan diriku memenuhi standarku sendiri.
Kekurangan orang lain yang kau timpakan padaku, bagaimana aku bisa mengubahnya? Maka aku memilih menjadi egois, karena aku tidak mampu mengubah orang lain sesuai dengan keinginanmu.
Maafkan aku jika aku harus mematikan semua inderaku atas dirimu. Karena aku tidak tahu berapa lama lagi aku sanggup bertahan menelan pil pahit darimu.












Tuhan, maafkan aku. Tuhan, ampuni aku...

Selasa, 09 Agustus 2011

Ternyata Aku Merindumu

Dalam diam, ternyata aku merindumu. Siapa sangka aku bisa jatuh cinta, sekalipun tanpa objek. Banyak yang bisa kubagikan. Hanya saja, aku tahu kau tak akan pernah memintanya. Sudah berapa lama rentang jarak membuat kita hanya dapat saling memimpikan?

Gambaranmu. Jika warna dapat dilumat pandang, mungkin kini ia telah habis tertelan kenangan. Bahkan aku ingat setiap lengkung senyummu. Hanya saja, hangat pelukan tidak lagi terasa. Jarak yang kau buat memenjarakan pelukanku hanya sampai di hati saja.

Uluran tangan tak kau sambut. Kau bilang kau sanggup sendiri. Kemudian pergi. Terlalu angkuh untuk menoleh ke belakang. Terlalu bodoh untuk menyadari, aku mengikuti jejak air matamu.

Cuma aku yang bisa merasakan kelegaan rindu dalam pertemuan yang canggung. Pertemuan itu nikmat bagiku. Canggung, bagianmu, karena ternyata aku hanya orang asing bagimu.

Aku keras kepala. Menolak menangisi kepahitan. Untuk apa? Aku utuh dalam cinta. Bukan utuh karena memilikimu dengan alasan keegoisanku.

Kau bukan cintaku. Kau hanya sepotong rinduku.

Yang entah bagaimana, kubiarkan membeku dalam arus waktu. Kalau kau tak ingin menghangatkannya dalam pelukanmu, ku biarkan ia mengkristal.

Lihat, cantiknya rindu itu terpahat.

Ah, mengapa aku hanya membicarakan rindu?
Lalu kau?

Hanya rindu bagian dari dirimu yang aku punya, yang tak akan bisa kau renggut dari aku.



Kecuali...



Seandainya....



Misalkan.....



Kau mau....



Memelukku...



PS:
Kau tahu, air mata itu panas. Kristal rindu itu hanya akan mencair sementara. Kemudian mengajak air mata untuk membeku bersama lagi.

PSS:
Ternyata air mata dan rindu adalah kolaborasi yang menyakitkan.