Mencintai hujan yang meringankan tugas menyiram tanaman dan memuja terik matahari yang mengeringkan jemuran. Terlalu banyak yang harus disyukuri. Ya kan? :)
Aku sadar sepenuhnya. Kerap kali aku selalu terbelenggu di kenangan yang itu-itu saja. Mereka bilang aku tidak bisa melanjutkan hidupku karena terperangkap dalam bayang-bayangmu. Tidak pernah mengetahui betapa selama ini aku sibuk dengan hidupku sehingga tidak sempat memikirkanmu. Tapi sekali saja aku merebahkan kepalaku, saat itu jugalah aku sibuk memikirkanmu seolah tidak ada ruang untuk hidupku nanti.
Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk merelakan semuanya, sehingga peluhku tidak perlu terbuang hanya karena aku sibuk menoleh ke belakang berulang kali sampai aku lelah dalam tangis. Hidupku penuh dengan kata "seandainya". Bahkan ini lebih melelahkan lagi. Pun sangat sia-sia. Siapa yang dapat mengubah masa lalu? Ketika aku sudah kehabisan "seandainya", aku masih punya persediaan "seharusnya". Namun hasilnya selalu sama. Tidak ada yang berubah. Satupun.
Seandainya aku masih punya kesempatan, sekali saja, untuk bertemu denganmu. Aku pasti akan menatap jauh ke dalam matamu, berharap aku bisa melihat isi hatimu. Aku akan memeluk punggung yang selama ini diarahkan kepadaku, berharap aku bisa menghilangkan rasa rinduku. Sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya. Mungkin setelah itu kita bisa saling mengikhlaskan. Tapi... Mungkin saja saat ini kau sudah berada jauh kemana hidup telah membawamu, sementara aku masih di sini. Di pusara duka yang sama.
Aku takut jika suatu saat nanti napasku telah habis, aku tidak sempat meminta maaf padamu. Berapa banyak luka yang sudah kutorehkan? Bahkan kenangan akan wajahmu yang saat itu tampak terluka masih menyakitiku sampai saat ini. Maaf, sungguh... Aku minta maaf. Kadang aku berharap kau menatapku dan memakiku. Hina aku. Berteriak di hadapanku. Cecar aku dengan sejuta sumpah serapah. Kita akan bertengkar. Biarlah saling menyakiti. Tapi setelah itu kita bisa saling memaafkan, bukannya saling memunggungi, pergi, dan menjadi orang asing seperti ini. Meninggalkan bongkah kepahitan yang rasanya seperti beban yang harus dipikul sampai mati.
Tapi aku ragu. Seandainya kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali, mungkin kita hanya bisa tersenyum singkat, melambaikan tangan, dan berbasa-basi tanpa arti. Kemudian kembali pada hidup kita masing-masing, seolah tidak terjadi apapun di antara kita.
Menyisakan seorang aku di sini dengan kata maaf yang tak pernah berhasil melewati tenggorokanku.
Aku melewatkan bulan kemarin ya? Ada yang kangen padaku, siapapun? :)
Baiklaaaah...
Hari ini aku ingin menceritakan tentang Birthday Surprise Party si Indri di tahun ke-4 kami bersama.
The Birthday Girl :)
Sebenarnya aku ingin menceritakan aibnya juga, tapi berhubung aibnya nggak sebanyak si Coco, malah daftarnya hampir bersih, ya sudahlah yaaa... Nggak bisa digossipin juga ya jadi gimana dong? Eh, tapi ada deh. Indri nggak bisa bedain makanan bagus atau makanan basi. Hahahahahaha...
Lanjut!
Pertama kali aku ketemu Indri adalah saat ospek kampus. Waktu itu pemilihan Teh Psy dan Kang Edu, semacam abang-nonenya Jurusan. Yang kepilih jadi Teh Psy adalah Indri. Yang kepilih jadi Kang Edu adalah Budi. Jadi deh Indri dan Budi berdiri di depan ruangan memimpin latihan yel-yel. Saat itu, aku nggak tahu siapa yang mencolok. Budi yang gede atau Indri yang kecil. :D
Nah...
Sejak saat itulah si Indri selalu dipilih dan dipilih dan dipilih untuk jadi Ketua Kelas, jadi PJ Statistika I (waktu itu mata kuliah yang pertama), yang disuruh nyari-nyari informasi, yang ditanyain segala macem, yang nampung aspirasi, bikin alur jarkom. Pokoknya urusan repot tuh pasti Indri. Lama-lama curiga jangan-jangan Indri ditumbalin. :D :D :D
Indri adalah anak yang rajin dan cerdas (ini seperti narasi buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 SD, ya? Eh, tapi ini serius!). Aku suka merasa lega kalo menemukan diri sekelompok belajar sama Indri. Hahaha... Aku ingat pertama kali Indri berdiri di depan kelas menjelaskan Statistika karena saat itu kita akan menghadapi UTS. Enak nih punya teman kayak gini, kalo ada yang nggak ngerti bisa minta diterangin sampe ngerti. :D :D :D
Entah masih pada ingat atau tidak mengenai insiden mata kuliah Bahasa Inggris yang nggak pernah kesampaian itu (kapan-kapan kuceritakan (entah kapan)). Seingatku Indri yang mengusulkannya (tolong dikonfirmasi), aku nggak bisa lupa waktu Indri ngomong "Waktu SMA gue nggak pernah kayak gini." dengan penekanan pada setiap katanya. Yang waktu itu kupikirkan, ya udah sih Ndri, lo dulu badung juga nggak apa-apa.... :D Itu tuh kejadian yang untuk pertama kalinya Indri kelihatan manusiawi. Hahaha... (rajin dan cerdas nggak manusiawi ya?)
Nah, itu sekilas tentang Indri. Mari kita lanjut ke Pesta Kejutannya.
Dimulai dari si Uwi yang mengatakan bahwa dia ingin membuat kejutan untuk Indri yang sebentar lagi mau ulang tahun. Tahun ini adalah tahun terakhir kami semua bareng-bareng. Jadi kita harus bikin sesuatu yang spesial. Uwi emang memberitahukan rencananya ke aku, tapi dia tidak mengizinkan aku ikut karena saat itu aku kena cacar. Pokoknya habislah saat itu aku dicela dan didera serta dikucilkan.
Ini seharusnya si Uwi yang cerita!
Setelah si Uwi berhasil mengumpulkan massa (dalam kasus Uwi adalah
mangsa) untuk berunding, sampailah pada 3 pilihan yang memungkinkan dan akan
dipilih berdasarkan suara terbanyak. Informasi dikirimkan melalui email kelas.
Uwi tuh benar-benar niat sampai harus ganti password email kelas. Soal
totalitas, Uwi emang kudu diacungin jempol. Akhirnya setelah pemilihan suara
terbanyak dan pertambahan beberapa ide-ide (yang beberapa ngawur) diputuskan
untuk bikin acara kejutan dan makan siang di kampus. Sempat juga Jay
mengajukan ide sekalian aja ulang tahun si Indri kita rayain di KFC atau McD,
biar kayak bocah beneran. Tapi kata Uwi, budget kita tidak mencukupi. Padahal
kayaknya ide itu brilian banget! Bayangin, paling acara ulang tahun di tempat
begitu dari usia 1-5 tahun aja. Nah ini usia 22 tahun!! Keren kan???
(regresinya total!)
Kita berniat bikin tulisan... Kayak gini nih:
Edisi Cherrybelle harus ada:
Dan akhirnya pada hari Kamis (7/6) Uwi dan kawan-kawan membuat
persiapan. Sayangnya gue nggak bisa datang. Gara-gara cacar (ini lama-lama
cacar jadi penyakit sosial ya?). Indri datang juga saat itu. Aku sempat dengar
cerita dari Uwi, Anti, dan Ajeng yang bukan cuma heboh siapin acara, tapi juga
heboh ngehindar dari Indri. Sampai mau nanyain Galih yang lagi bareng Indri
lewat telepon, Galih cuma boleh jawab "iya" atau "nggak".
Indri tuh sempat mengalami pengucilan, ngapain sih dia datang hari itu. Tapi
Indri nggak ngerasa. :D :D :D
Sebenarnya ini lagi panik nunggu Indri datang, kan?
Uwi meminta kami untuk datang jam 9, berhubung aku ada
kegiatan lain di Rawamangun, jadinya aku datang jam 11.
Paginya (8/6), aku mengirimkan pesan ke Indri, karena dia minta
tolong diambilkan sertifikat TI. Aku ragu antara ingin mengucapkan selamat
ulang tahun atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengucapkannya.
Saat aku mau berangkat ke Halimun, Indri meneleponku untuk memberitahu apakah
aku ingin ke Halimun (soalnya kubilang aku tidak ada rencana ke Halimun) karena
dosen pembimbing skripsi kami ada hari itu. Ebuset! Gue mau ngasih surprise ke
dia, malah disuruh bimbingan skripsi! Sempat mau mengucapkan selamat ulang
tahun, tapi... ya sudahlah!
Akhirnya, berangkatlah aku ke Halimun dengan terburu-buru dan
sialnya ntah kenapa Transjakarta yang kutumpangi kena lampu merah terus, SEMUA
LAMPU MERAH SEPANJANG RAWAMANGUN-HALIMUN! Padahal, Uwi udah sms meminta kami
berkumpul karena Indri sudah tiba di kampus.
Sesampainya di Halimun, aku langsung ke kelas 306, tempat acaranya
nanti yang sudah dihiasi. Bukan ruangannya, tapi papan tulisnya yang dihiasi. Kondisi kalang kabut dengan segala aktivitas yang menghebohkan. Kemudian Pipit yang sudah datang langsung memberikan revisi skripsiku. Saat aku
sedang menatap nanar revisinya, Uwi meminta aku untuk menemani Ajeng yang saat
itu sedang bersama-sama dengan Indri untuk menghadang Indri agar tidak naik ke
lantai 3. Aku berniat untuk membahas revisiku, tapi dicegah Pipit karena Indri
tahunya Pipit tidak ke kampus hari itu.
Akhirnya aku turun ke bawah dan menemukan Ajeng dan Indri sedang
berjalan masuk ke kampus. Aku pura-pura bertanya ruang dosen ikut pindah ke
lantai 1 atau tidak dan ocehan lainnya yang lebih mirip babbling bayi. Kemudian Ajeng berkata “Eh, ucapin selamat ke Indri
dong, dia kan lagi ulang tahun.” Dan aku sempat bengong, ini sih kesannya gue
nggak tahu ulang tahun Indri. Masa’ ngucapinnya cuma gitu doang... Ah...
Kemudian aku mengucapkan selamat ulang tahun sambil lalu dan mengulurkan tangan
yang ditolak Indri (ucapan selamat macam apa itu!). Akupun menuntut Ajeng dan
Indri untuk mampir ke warung kopi. Mau minum cappucino. Kemudian aku ngoceh
nggak jelas soal skripsi. Setelah minumannya datang, aku sibuk minum dan Indri
sibuk mengobrol dengan Ajeng. Tak lama, Ajeng melempar kode ke arahku yang
tidak diketahui Indri untuk kembali ke kelas (padahal Cappucino-ku belum
habis). Ternyata sedari tadi Ajeng berkirim sms terus sama Uwi, karena takut
Indri ngebaca siapa yang sms Ajeng terus, akhirnya Ajeng mengganti nama Uwi
jadi “Intan”. Sebenarnya aku mau nanya, kenapa nggak ganti nama yang masih
mirip aja kayak “Hani” atau “Siti”. :D
Akhirnya kami kembali ke kelas dengan penuh perjuangan. Indri
dihadang banyak orang. Belum lagi si Mita ucuk-ucuk ngajak Indri ketemu Bu
Felli. Aku sama Ajeng heboh lari ke kelas. Dan disambut segerombol orang yang di kepalanya udah terikat karton bertuliskan berbagai macam frase di
belakang pintu dengan wajah panik dan bertanya-tanya “Indrinya mana? Indrinya
mana? Ini cokelat kuenya keburu meleleh. Lilinnya keburu habis. Panggil...
Panggil...” Akhirnya Indri-pun digeret ke kelas. Baru melihat kelasnya, belum
sampai masuk ke dalam, Indrinya udah nangis masaaaa.... Kemudian Indri masuk,
kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi genjrengan gitar Galih.
Kemudian Indri meniup lilin.
Lalu ada sesi potong kue, buka kado, nonton video ucapan dari
beberapa teman yang ikut persiapan (aku nggak ikut, aku kena cacar... ). Semua
itu dilakukan Indri dengan wajah merah dan air mata bercucuran. Ini nih video yang dibikin Uwi dkk:
Entahlah. Ekspresi Indri paling bagus tuh emang pas dia menangis
dengan wajah merah. Hahahahahahaha.... (ampun, Ndri...) Ulang tahunnya dua
tahun yang lalu pun dia nangis. Kado dua tahun lalu itupun warnanya hijau juga.
Hahahaha...
Kelakuaaaannn....
Setelah foto-foto, kami makan. Dan anak cowok pada sholat Jumat. Kiki
merangkai karet (sempat salah itu bikinnya) bersama dengan Mita dan Fitri. Habis
itu mereka main lompat karet bareng Ika dong. Kurang hebat apa gue masih bisa
waras sampe sekarang, temen-temennya gini semuaaaaa... Hahahhahaha...
Yang kurang dari acara itu mungkin kami nggak bisa hadir semua.
Tapi semoga yang hadir bisa mewakili yang tidak hadir, ya...
Soooooooooooooooo.......
HAPPY BIRTHDAY, INDRI JAYANTI!
Terima kasih karena selalu bersedia untuk kami repotkan. Terima
kasih karena bukan hanya selalu mempertimbangkan semua pendapat kami, tapi juga
selalu menampung protes kami.
Terima kasih untuk empat tahun ini. Semoga selalu ada empat tahun
ke depannya, dan empat tahun berikutnya lagi, dan untuk selamanya.
Mungkin yang harusnya kamu tahu, kamu adalah leader yang bukan
hanya bisa mengayomi kami, tapi kamu adalah leader yang dicintai teman-teman
sekelasnya.
We’re grateful to have you in our class. We’re grateful more to
have you in our lives.
Our Leader
THANK YOUUUU, LEADAAAAA!!!!
Ndri, nggak peduli gimana cara hidup atau orang-orang
memperlakukan kamu, kamu nggak akan pernah kekurangan hal-hal yang membuat kamu
tetap bisa menegakkan kepala. Kamu selalu punya alasan untuk bisa berdiri
tegak. Yang paling penting yang kamu harus sadari adalah: you deserve to be
loved. And of course FASCINATE LOVES YOU!!!
Gitu ceritanya... :) Makasih untuk Dessy yang bersedia nge-foto-in kita. Makasih buat Erik yang ngasih kabar ke Indri bahwa hari itu ada Bu Felli (padahal nggak ada, dan anehnya gue juga ikut ketipu).
Sampai jumpa di kisah Fascinate berikutnyaaaa.... :)