Sini, duduk di sebelahku. Apa menu duka kita hari ini? Apakah ada air mata dalam komposisinya?
Sini, duduk di sebelahku. Kita sama-sama menunggu takdir datang mengantarkan pesanan. Ajal, katanya.
Sini, duduk di sebelahku. Kita bergandengan. Jangan terlalu erat, takut tidak bisa merelakanmu pergi.
Sini, duduk di sebelahku. Matahari terbenam. Kita menua dan jiwa kerdil kita ketakutan.
Sini, duduk di sebelahku. Istirahatlah sejenak, kita mulai letih. Masih banyak jarak harus ditempuh.
Sini, duduk di sebelahku. Sesekali kita kalah. Jangan berpikir untuk menyerah.
Sini, duduk di sebelahku. Malam mulai merayap dan kamu tetap membisu. Nafasmu hilang.
Sini, duduk di sebelahku. Mimpi buruk mulai datang, kita enggan terpejam. Realita terasa menyakitkan.
Sini, duduk di sebelahku. Berapa banyak lagi luka masa lalu yang harus kita jahit? Sama menyakitkan.
Sini, duduk di sebelahku. Matahari mulai terbit lagi. Kita masih saja tenggelam di masa lalu yang sama.
Sini, duduk di sebelahku. Aku hanya meminta hidup tetap utuh. Apakah terlalu banyak?
Sini, duduk di sebelahku. Sudah berapa purnama berlalu tanpa kita saling tatap memahami?
Sini, duduk di sebelahku. Betapa kita tahu kata tak pernah cukup, dan diam adalah jawaban.
Sini, duduk di sebelahku. Kadang hari terasa penat, betapa berbagi rasa terasa melegakan.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak cukupkah kita hanya menjadi milikNya?
Sini, duduk di sebelahku. Berapa tangga nada lagi yang harus kujadikan sumbang agar kau tertawa?
Sini, duduk di sebelahku. Dunia terbalik. Kita tangisi memori indah dan tertawakan kepiluan lalu.
Sini, duduk di sebelahku. Tak perlu menghitung waktu, biar kita saling menikmati keberadaan.
Sini, duduk di sebelahku. Kita akan nikmati kenangan yang sama. Suka yang sama. Duka yang sama.
Sini, duduk di sebelahku. Kadang nyanyian tak hanya lagu, aku cinta lirik. Tidakkah kau lihat sayapku?
Sini, duduk di sebelahku. Aku mulai lelah, kehilanganmu meninggalkan jurang curam. Sementara ego terlalu angkuh memintamu kembali.
Sini, duduk di sebelahku. Ketika pahit manis hidup menggerogoti napasmu, tinggalkan saja. Secangkir kopi cukup melegakan.
Sini, duduk di sebelahku. Saling mengisi kehadiran satu sama lain cukup untuk satu dekade tanpa dirimu.
Sini, duduk di sebelahku. Berapa duka yang kulewatkan? Berapa suka yang kau reguk sendiri?
Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memaafkan kalau saling mencintai tak pernah cukup untukmu.
Sini, duduk di sebelahku. Siapa tahu api amarahmu redam oleh air mata kesedihanku.
Sini, duduk di sebelahku. Hanya duduk saja. Tidak apa kalau kau tak paham.
Sini, duduk di sebelahku. Hening bisa menyembuhkan. Ketimbang kau lelah meminta penjelasan.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa jika kita saling menyakiti dengan kejujuran. Kita tidak lagi saling mencintai.
Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa. Hanya duduk saja. Pelan-pelan kita menjadi asing satu sama lain.
Sini, duduk di sebelahku. Kita sama terasing. Kita sama tercela. Lalu kita akan memulai dari awal, saling mengenal dan mulai mencintai.
Sini, duduk di sebelahku. Aku akan diam. Dunia hanya akan mencacimu. Aku cukup untukmu kan?
Sini, duduk di sebelahku. Kita terasing. Terpaksa harus saling memahami. Tak sengaja saling menyakiti.
Sini, duduk di sebelahku. Tak mengubah apapun. Hanya saja, kita akan berlomba dengan hari. Siapa yang akan menyentuh senja terlebih dulu.
Sini, duduk di sebelahku. Jari mulai lelah. Mata mulai terpejam. Bagaimana kalau kita berbaring saja?
Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memuaskan dahaga rindu.
Sini, duduk di sebelahku. Selama ini aku diam. Ketika jutaan kata meledak, ikhlaskah kau menampungnya?
Sini, duduk di sebelahku. Sekali saja. Bicara dari hati ke hati.
Sini, duduk di sebelahku. letakkan kebebalan logika kita. dengar, hati menangis.
Sini, duduk di sebelahku. biar kita saling membunuh dengan kebencian. siapa yang tetap hidup, ia yang paling banyak kehilangan.
Sini, duduk di sebelahku. kita saling menyiksa dengan keberadaan masing-masing. tak peduli, punggung kita kesepian.
Sini, duduk di sebelahku. mendengar detak jantung masing-masing. biar sunyi mencekam.
Sini, duduk di sebelahku. kita akan berkisah berapa kehilangan yang kita alami dan hanya berapa yang kita ikhlaskan.
Sini, duduk di sebelahku. kita sama-sama menunggu. kapan duka akan sirna.
Demikianlah repost tweet-nya. Dikira cuma beberapa, tahunya banyak juga. Hope you like it, guys (whoever read this post)!