Kamis, 12 Juli 2012

Sini, Duduk di Sebelahku

Ini sebenarnya beberapa tweet gue beberapa bulan yang lalu (kurang kerjaan ya ngubek-ngubek timeline sendiri... :| ) sayang banget kalau harus berlalu begitu saja. Hehehehehe... Jadi, gue sajikan di blog lagi ah.


Sini, duduk di sebelahku. Apa menu duka kita hari ini? Apakah ada air mata dalam komposisinya?

Sini, duduk di sebelahku. Kita sama-sama menunggu takdir datang mengantarkan pesanan. Ajal, katanya.

Sini, duduk di sebelahku. Kita bergandengan. Jangan terlalu erat, takut tidak bisa merelakanmu pergi.

Sini, duduk di sebelahku. Matahari terbenam. Kita menua dan jiwa kerdil kita ketakutan.

Sini, duduk di sebelahku. Istirahatlah sejenak, kita mulai letih. Masih banyak jarak harus ditempuh.

Sini, duduk di sebelahku. Sesekali kita kalah. Jangan berpikir untuk menyerah.

Sini, duduk di sebelahku. Malam mulai merayap dan kamu tetap membisu. Nafasmu hilang.

Sini, duduk di sebelahku. Mimpi buruk mulai datang, kita enggan terpejam. Realita terasa menyakitkan.

Sini, duduk di sebelahku. Berapa banyak lagi luka masa lalu yang harus kita jahit? Sama menyakitkan.

Sini, duduk di sebelahku. Matahari mulai terbit lagi. Kita masih saja tenggelam di masa lalu yang sama.

Sini, duduk di sebelahku. Aku hanya meminta hidup tetap utuh. Apakah terlalu banyak?

Sini, duduk di sebelahku. Sudah berapa purnama berlalu tanpa kita saling tatap memahami?

Sini, duduk di sebelahku. Betapa kita tahu kata tak pernah cukup, dan diam adalah jawaban.

Sini, duduk di sebelahku. Kadang hari terasa penat, betapa berbagi rasa terasa melegakan.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak cukupkah kita hanya menjadi milikNya?

Sini, duduk di sebelahku. Berapa tangga nada lagi yang harus kujadikan sumbang agar kau tertawa?

Sini, duduk di sebelahku. Dunia terbalik. Kita tangisi memori indah dan tertawakan kepiluan lalu.

Sini, duduk di sebelahku. Tak perlu menghitung waktu, biar kita saling menikmati keberadaan.

Sini, duduk di sebelahku. Kita akan nikmati kenangan yang sama. Suka yang sama. Duka yang sama.

Sini, duduk di sebelahku. Kadang nyanyian tak hanya lagu, aku cinta lirik. Tidakkah kau lihat sayapku?

Sini, duduk di sebelahku. Aku mulai lelah, kehilanganmu meninggalkan jurang curam. Sementara ego terlalu angkuh memintamu kembali.

Sini, duduk di sebelahku. Ketika pahit manis hidup menggerogoti napasmu, tinggalkan saja. Secangkir kopi cukup melegakan.

Sini, duduk di sebelahku. Saling mengisi kehadiran satu sama lain cukup untuk satu dekade tanpa dirimu.

Sini, duduk di sebelahku. Berapa duka yang kulewatkan? Berapa suka yang kau reguk sendiri?

Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memaafkan kalau saling mencintai tak pernah cukup untukmu.

Sini, duduk di sebelahku. Siapa tahu api amarahmu redam oleh air mata kesedihanku.

Sini, duduk di sebelahku. Hanya duduk saja. Tidak apa kalau kau tak paham.

Sini, duduk di sebelahku. Hening bisa menyembuhkan. Ketimbang kau lelah meminta penjelasan.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa jika kita saling menyakiti dengan kejujuran. Kita tidak lagi saling mencintai.

Sini, duduk di sebelahku. Tidak apa. Hanya duduk saja. Pelan-pelan kita menjadi asing satu sama lain.

Sini, duduk di sebelahku. Kita sama terasing. Kita sama tercela. Lalu kita akan memulai dari awal, saling mengenal dan mulai mencintai.

Sini, duduk di sebelahku. Aku akan diam. Dunia hanya akan mencacimu. Aku cukup untukmu kan?

Sini, duduk di sebelahku. Kita terasing. Terpaksa harus saling memahami. Tak sengaja saling menyakiti.

Sini, duduk di sebelahku. Tak mengubah apapun. Hanya saja, kita akan berlomba dengan hari. Siapa yang akan menyentuh senja terlebih dulu.

Sini, duduk di sebelahku. Jari mulai lelah. Mata mulai terpejam. Bagaimana kalau kita berbaring saja?

Sini, duduk di sebelahku. Kita saling memuaskan dahaga rindu.

Sini, duduk di sebelahku. Selama ini aku diam. Ketika jutaan kata meledak, ikhlaskah kau menampungnya?

Sini, duduk di sebelahku. Sekali saja. Bicara dari hati ke hati.

Sini, duduk di sebelahku. letakkan kebebalan logika kita. dengar, hati menangis.

Sini, duduk di sebelahku. biar kita saling membunuh dengan kebencian. siapa yang tetap hidup, ia yang paling banyak kehilangan.

Sini, duduk di sebelahku. kita saling menyiksa dengan keberadaan masing-masing. tak peduli, punggung kita kesepian.

Sini, duduk di sebelahku. mendengar detak jantung masing-masing. biar sunyi mencekam.
Sini, duduk di sebelahku. kita akan berkisah berapa kehilangan yang kita alami dan hanya berapa yang kita ikhlaskan.
Sini, duduk di sebelahku. kita sama-sama menunggu. kapan duka akan sirna.



Demikianlah repost tweet-nya. Dikira cuma beberapa, tahunya banyak juga. Hope you like it, guys (whoever read this post)!

Senin, 09 Juli 2012

Fascinate #5: Tick Tock


Hai,
Hari ini aku sedang memikirkan kalian, mereka-reka siapa yang sedang gelisah saat ini. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kalian mengobrol ringan tentang hal-hal kecil seperti saat kita menghabiskan waktu bersama. Tapi aku tidak ingin mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Sudah. Sudah.
Aku... Sebenarnya ada hal lain yang lebih penting dikerjakan ketimbang menulis blog. Tapi... Ada yang ingin aku sampaikan sebenarnya saat ini. Betapa sebenarnya aku ingin mengganggu kalian dengan pesan-pesan singkat melalui telepon genggam, seperti yang biasa aku lakukan. Tapi aku kan tidak bisa mengganggu kegelisahan kalian. Hahahaha... Ya ampun aku tidak bisa berhenti meledek.
Aku memutuskan untuk mengosongkan kotak masuk pesan singkat yang ada di telepon genggamku. Semua pesan yang ada harus kupilah, mana yang penting untuk disimpan dan yang bisa dihapus. Kebanyakan pesan singkat itu berasal dari kalian. Banyak yang membicarakan tugas akhir dan lebih banyak lagi membicarakan hal-hal tidak penting. Lucu sih buatku. Kenapa kita selalu menyebutnya dengan kata-kata "tidak penting", padahal hal-hal itu yang kerap kali aku kenang bahkan bisa membuat aku tersenyum lagi. Di dalam telepon genggamku, aku membuat sebuah kotak berisi pesan-pesan kalian yang tidak ingin aku hapus. Aku menamainya "Thesemakelifebrighter&warmer". Ya. Karena memang itu efek yang kudapatkan dari pesan-pesan yang kalian berikan. Hari-hari yang aku lewati lebih cerah dan hangat. Jadi kubaca lagi semua pesan itu satu persatu. Semua ingatan tentang apa yang kita bicarakan menyeruak kembali ke permukaan. Benar-benar menghibur dan menyenangkan.
Aku jadi berpikir. Empat tahun itu seharusnya waktu yang lama. Tetapi entah mengapa terasa cepat sekali berlalu. Seseorang pernah berkata kepadaku "Jika waktu terasa cepat berlalu, berarti kita benar-benar menikmatinya." Ya. Kita menikmatinya. Padahal tidak semua dari hari-hari itu kita isi dengan kegembiraan, gelak tawa, atau lelucon. Sebagian besar waktu kita tentu saja untuk menimba ilmu. Waktu senggang-pun kerap kali membahas bahkan mengerjakan tugas kelompok. Jarang sekali, bukan, tanggung jawab bisa dinikmati. Dan saat kita benar-benar bisa menikmati waktu bersama adalah hal sangat menyenangkan. Kita bersenda gurau. Bertukar gosip (dan kita sering berkata "ini bukan gosip. Cuma diskusi evaluatif." [ok, ini aku yang ngomong]). We enjoy every single little silly conversations. Wait, what conversation? We 're just busy mockin' each other. Hahahaha... Aku tidak hanya menikmati waktu yang kita habiskan bersama-sama, saling bicara dan mendengarkan dalam jumlah banyak. Tapi aku juga menikmati pembicaraan dengan kalian secara individu. Saat itulah kita justru meluruskan banyak hal dan saling mengenal satu sama lain. Ah, kalian... Kita. Masing-masing memiliki ciri khas yang menghibur di sebagian besar waktu.
Empat tahun, tidak semuanya tentang tugas dan hal-hal menyenangkan. Pertengkaran. Situasi-situasi yang meresahkan dan membuat kita tidak nyaman. Sebagian menyeruak ke permukaan. Sebagian lagi dibiarkan terkubur karena merasa tidak nyaman jika harus dibicarakan. Salah paham. Kesedihan yang timbul setelahnya. Kekecewaan. Belum lagi api penyulut membuat jurang yang sesungguhnya adalah ilusi hadir di antara kita. Seharusnya kita hidup dalam harmoni yang sempurna saling berbahagia saling mendukung saling menyemangati saling berbagi saling...saling...saling...saling...saling... terlalu banyak "saling yang seharusnya" dan akhirnya saling menikam. Saat itu sulit sekali rasanya untuk memahami kalau tidak ada satupun dari kita yang benar-benar sama. Persepsi kita, bagaimana kita saling menerima, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah. Make it better or make it worse. Semuanya memiliki caranya masing-masing. Lalu apa yang salah dengan perbedaan? Apa yang tidak tepat dari perbedaan? Sibuk mencari-cari masalah apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, kita lupa bahwa kita sedang bertumbuh bersama. Pelan-pelan, kita belajar untuk berkompromi, mengalah, dan saling menerima. Tidak perlu menjadi sama dalam segalanya. Bukankah ini yang namanya harmoni sempurna? Kita tidak perlu menghilangkan ingatan tentang hal-hal yang tidak menyenangkan. Reframe. Sehingga saat mengingatnya kita bisa menertawakannya. Kita muda dan bodoh saat itu (serasa tua ya mamen nulis kalimat ini).
Empat tahun yang banyak mengubah kita. Sayangnya tidak semua hal merekatkan kita. Ada yang menjauh. Pernah mendengar istilah "people grow apart"? Berbahagialah mereka yang tumbuh dan berhasil melewati badai namun tetap saling memegang tangan. Sehingga saat kita menua nanti, masing-masing dari kita tidak perlu menjadi wajah tanpa nama. Atau nama tanpa wajah. Atau sama sekali menjadi asing. 'Tidak ada yang sia-sia'. Siapa yang bisa jamin? Seharusnya, jangan disia-siakan. Sudahlah, ini hanya pemahamanku saja.
Ah... Kenangan-kenangan berkelebat. Tidak peduli seberapa sibuknya kita menjalani hari, kita tidak akan melupakan satu sama lain. Aku sangat suka saat kita bisa bersama, saat kalian rela meluangkan waktu untuk berbagi makanan denganku. Memang terlihat seperti buang-buang waktu berharga kalian, aktivitas tak berguna bagi kalian, tapi kesediaan meluangkan waktu kalian yang membuat keyakinan bahwa persahabatan kita memang memiliki arti dan penting bagi kita. Waktu untuk mendengarkan, waktu untuk saling memahami. Kehadiran satu sama lain berharga, bukan?
Kalian bagian dari hidupku, yang ikut menentukan siapa diriku saat ini. Terima kasih untuk mata yang memerhatikan, terima kasih untuk mulut yang menghibur (atau mencela?), terima kasih untuk tangan yang merangkul. Aku sayang sekali pada kalian. Tidak tahu apakah aku pernah mengatakannya sehingga kalian mengetahuinya. Aku kan pemalu. Susah mengatakan, lebih mudah menulis. Hahahaha... Semoga kalian tahu, semoga kalian membacanya. Semoga sayangnya tersampaikan. Kalau tidak... Setidaknya tulisan ini akan selalu di list blogku. Semoga Blogger jaya terus, untung terus, nggak perlu ditutup. Jadi tulisanku akan terus ada. 10 tahun lagi. 20 tahun lagi. 30 tahun lagi. Halaaahahahaha... Tapi "KITA" selamanya dalam ingatan walau bertahun-tahun kemudian mungkin jarang di-recall. Hahaha... Pada akhirnya kita memang akan menapaki jalan kita masing-masing. Tidak ada pula yang menjamin kelekatan bisa melampaui jarak dan tidak dirayapi waktu. Hari ini dekat, besok menjadi orang asing. Tapi semua hal yang kita lewati bersama adalah apa yang membentuk kita saat ini. Tegakah kita melupakan sebagian dari diri kita?

 

Aku ingat pernah mengirimkan pesan cuplikan lagu Journey:
When pride build me up till I can't see my soul, will you break down this wall and pull me through?

Banyak jawaban, yang paling kuingat adalah:
Nope. I will climb that wall joining you and we will show off our pride together.

How could I ask for more? Hahahahaha...
Satu lagi, salah satu pesan yang kuterima di hari-hari aku harus pulang larut:
Lu naek kereta jam brp? Ati2 naek ancotnya. Kalo ketemu eksebisionis, katain aja tititnya kecil.

Hahahaahahahahahaha..... Sampe sekarang aku masih ketawa baca pesan ini. Please nggak usah ditanya siapa pengirimnya. X))
Bagaimana hari-hariku tidak penuh warna? Ahh, banyak kebodohan lainnya yang seharusnya kuceritakan. Tapi, sungguh, lebih baik kalian yang membaca blog-ku berkenalan dengan mereka semua. Apa keuntungan kenal dengan mereka? Aduuuh apa ya? Hahahaha... well, saya terberkati dengan banyak hal. Dan mereka adalah salah satu berkat yang Tuhan berikan. Kenapa kita harus menolak berkat, ya kan?
Semua kebaikan bisa menutupi kekurangan. Bukankah lebih penting kita bisa saling melengkapi?
Aku selalu berharap semoga berkat dan kebaikan melimpah-limpah dalam hidup kita serta kesuksesan dan kerendahan hati menjadi teman baik kita.
Tidak peduli seberapa jauh nanti jarak tidak memungkinkan kita bergandengan tangan, kita kan masih bisa saling mendoakan yang terbaik. Ya?

Rabu, 04 Juli 2012

Hanya Sebuah Nama




Hallo, apa kabar?




Aku sedang merindukanmu saat ini. Ah, lebih tepatnya aku selalu merindukanmu. Waktu dan jarak tidak hanya memasung pelukanku tetapi juga membiarkan rinduku terus menyiksa pemiliknya. Seperti gila. Kadang aku menangis, tak jarang tertawa lepas. Mengingat apapun yang pernah kita nikmati bersama. Sampai detik ini, kau tahu, aku punya banyak kisah yang ingin aku bagikan. Tapi takdir selalu saja membuat kita memijak tanah yang berbeda. Sungguh. Terkadang aku merasa keberuntungan pilih kasih. Ia tidak adil padaku. Jutaan pecinta sedang bergandengan tangan dan aku malah sibuk mengingat detil-detil kerut di bibirmu yang membentuk senyuman. Supaya aku tidak lupa akan senyum itu, aku selalu menciptakan proyektor imajiner jadi aku bisa melihatnya untuk kunikmati sendiri. Ahh, aku tidak pernah lelah merindukanmu seperti aku yang tidak pernah lelah mencintaimu. Hanya saja kadang rindu tak dapat kutahan ketika sedang membuncah, sama seperti cinta juga, bukan? :)

Mau tahu apa yang menarik dari hari-hariku yang sibuk dan sering merindukanmu? Aku menyebut namamu berkali-kali. Hey, tentu saja aku lebih sering menyebut nama Tuhanku! Kau tidak perlu merasa besar kepala seperti itu. Hahaha... Tapi aku tidak akan berbohong, kerap kali, ketika aku sedang berbicara pada Tuhan, aku selalu menceritakanmu. Berkali-kali. Cerita yang sama.

Hmmm... Ingat saat kamu bertanya mengapa aku tidak pernah memanggilmu dengan kata "sayang" atau "cinta"? Bukan karena aku tidak merasakan itu padamu, tetapi karena aku suka melafalkan namamu dari bibirku.

Rasanya seperti gulali yang menyentuh indra pengecapku. Manis.

Rasanya seperti merapalkan mantera yang mewujudkan mimpiku.

Rasanya seperti menaikkan puji-pujian atas penciptaanNya.

Sekali saja aku menyebutnya, lengkungan senyum yang tercipta bisa mengalahkan pelangi.

Sekali saja aku menyebutnya, awan-awan gelap di hariku menyingkir sekejap.

Sekali saja aku menyebutnya, dunia seolah jadi milikku.

Tentunya sekarang kau sudah mengerti alasanku, bukan? Jutaan kata sayang dan cinta bisa ditujukan pada siapa saja. Tetapi sekalinya aku menyebut namamu, pastilah itu adalah dirimu, untukmu, dan hanya kamu. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu ketika kamu adalah pusat revolusiku? Aku ingin tetap menyebutkan namamu berkali-kali sambil saling menggenggam jemari dalam masa depanku nanti. Tapi kita tidak akan mendahului Tuhan apalagi mendesakNya, karena apa yang Ia rencanakan untuk kita adalah demi kebaikan kita.




Aku suka menyebut namamu. Kerap kali kuucapkan saat lutut bertelut, kepala tertunduk, dan tangan terlipat. Aku mungkin jauh, tapi Tuhan selalu memelukmu.