Sabtu, 22 September 2012

Tangan Bertaut

Demikianlah kita.
Menelusuri jalan-jalan penuh kejutan yang disebut kehidupan.

Sesekali aku resah dan takut, kamu akan meremas tanganku. Menguatkan dan menunjukan bahwa kamu selalu berada di sampingku. Ya, kamu menuntunku dan tetap di sisi. Kamu memimpin perjalanan ini, tidak akan meninggalkan aku karena tergesa menjadi yang terdepan.

Sesekali kamu letih, aku akan meremas tanganmu. Menjadi tempatmu untuk pulang dan membasuh peluhmu. Ya, aku menopangmu tanpa berkeluh. Aku patuh dan hormat karena mencintamu, tidak akan melepas genggam tanganmu.

Dalam cintamu ada penghargaan, membuka kedua telinga dan tak pandang sebelah mata.
Karena itu, aku kan belajar menjadi yang bisa kamu andalkan. 

Kamu memelukku dengan tangan kirimu, mendekapku erat dekat di jantungmu, dan halau mara bahaya dengan tangan kananmu.
Karena itu, aku akan sejajar denganmu. Bukan untuk bersaing denganmu. Tetapi agar aku tepat berada di sisimu.

Kamu adalah ksatria pemberaniku.
Karena itu, akupun akan belajar untuk berani. Bukan untuk memberontak. Tetapi agar bisa saling melindungi.

Kamu menguatkan aku.
Karena itu, akupun akan menjadi kuat untukmu. Bukan untuk mengalahkanmu. Tetapi agar kita bisa saling menguatkan.

Tidak perlu berjanji untuk tidak membuatku menangis.
Terkadang aku sengaja memancing kejengkelanmu.
Tetapi,
Berjanjilah setiap konflik akan kita temukan jalan keluarnya dan kita akan semakin kuat karenanya, setelah itu genggam tangan ini akan semakin erat.

Doakanmu untuk kebijaksanaan.
Doakanku untuk kelemahlembutan.
Bubuhi humor segar di dalamnya.
Biar kita mencintai Tuhan dan menikmati kehidupan sebagai anugerahNya.
Dan semakin hari, kita semakin saling mencintai.

Rabu, 19 September 2012

"Kita"



Kalau terlalu berat untuk diakhiri, mungkin kita bisa sama-sama memulai awal yang baru. Di jalan yang berbeda. Aku dan kamu bisa masing-masing menyimpan bagian "kita" karena bergerak mundur untuk hilangkan jejak tidak akan mungkin.

Menyesali pernah terjadi terasa kurang tepat. Akan terasa lucu jika kita menangisi kebahagiaan yang lampau. Mungkin kita hanya menyayangkan apa yang baik tidak bisa kita rajut bersama-sama lagi.

Entah di suatu hari nanti, ketika kita tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan, kita boleh memiliki kebahagiaan kita masing-masing. Dan kita tidak perlu menunjukkan siapa yang paling bahagia. Kita bisa saling memaafkan dan bersyukur, kita pernah bahagia bersama.

Ada yang lebih lapang dari duka, ada yang lebih besar dari luka. Dengan damai yang kita rasakan, maka tidak perlu lagi saling menyakiti. Tidak perlu saling bunuh sosok dalam pikiran kita. Kenangan akan mengental dan melekat serta semakin tajam. Jika harus sakit, maka sakitlah. Biar sakit jadi bagian hari ini. Toh jika memang ada luka, maka ia butuh waktu untuk sembuh. Dan jika memang meninggalkan bekas luka, tidak perlu menjadi pahit. Toh ada lubang besar di hati yang kita biarkan kosong sejenak. Ya kan?

Mungkin kemarin kita mencintai. Hari ini, kita saling membenci. Semoga tidak butuh waktu lama untuk saling mengikhlaskan.

Kita sudah pernah melewati masa ketika diam pernah sama menyakitkan dengan hunusan pedang dan sama mematikan seperti racun. Air mata bahkan menjadi perisai patah yang tak berfungsi. Kau kira itu senjata? Lucu. Lihat bagaimana kata-kata logis sialanmu melukai. Itu bukan senapan berpeluru, tapi tetap ketika kau menembakkannya, tetap menembus hati.

Tidak, tidak. Kita tidak perlu menjadikan kenangan itu untuk membuat jurang pemisah semakin lebar dan curam di antara kita. Menanggung luka sendiri saja kita belum mampu.

Haruskah kita menyebutnya akhir? Ah, bukan. Relakah kita untuk menyebut kata 'akhir'? Mungkin kita bisa menyatakan cinta dalam bentuk yang lain. Seperti "terima kasih sudah hadir di hidup saya." Kemudian, kita harus membesarkan hati dan memulai untuk melangkah lagi. Memulai lagi.

Sekali, hati ini pernah singgah. Bukan berarti kali ini ia harus tertatih tertinggal dan mati-matian mengejar kehidupan. Mungkin akan terasa sedikit lebih berat. Beban ingatan yang membawa rasa. Tapi itu bagian kita, tidak peduli betapa menyakitkan.

Akan ada masanya, saat kita saling mengenang nanti, yang bisa tercipta hanya senyum atau gelak tawa. Dan jika luka ada salah satu cara membuat hidup ini utuh, maka ikhlaskan ia hadir. Toh waktu, teman yang setia, pasti menyembuhkan.

Mari melangkah untuk awal yang baru tanpa perlu saling melupakan. Kita sudah menjadi kaya dengan harta karun ingatan kita masing-masing.

Suatu hari nanti, bahagia akan menjadi bagianmu seperti ia menjadi bagianku. Sehingga kita bisa saling mendoakan untuk kebaikan kita.

Dan "kita" akan selalu menjadi kisah menarik untuk diceritakan. Bukan karena akhir yang duka, tapi karena keberanian untuk memulai lagi.