Selasa, 27 Desember 2011

Merry Christmas!

Iyaaa, ini udah tanggal 27, Natal emang udah lewat dua hari.
Tapi tetap aja, aku mau ngucapin:

SELAMAT NATAL!!!!!!!!

Kita selalu diingatkan, hidup boleh penuh perjuangan, tapi Tuhan nggak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk hidup kita.
Tuhan itu baik.
Tuhan itu setia.
Tuhan mengasihi kita semua.

Damai di hati, damai di bumi.


GOD BLESS US!!! :D :D :D

Kamis, 15 Desember 2011

Fascinate #2: Happy Birthday, Coco Lisa!!

Yeeeaaaayyy...!!!
Hari ini si Coco, sahabat saya di Psikologi UNJ, ulang tahun yang ke-21!!
Gue pengen menceritakan aib dia nih di post kali ini. Bersiaplah kau, Coco! :D

Nama panjang si Coco ini sebenarnya bagus. Freeco Lisa Lamhab Sari. Cuma kok ya ditilik-tilik dari kelakuannya, sebaiknya dia dipanggil Coco saja. Dia sih pernah minta dipanggil Lisa, tapi kok rasanya agak gimanaaa gitu yaaa... Hahaha... Bahkan kalo saya manggil dia kadang cuma "Com!" Nama akun twitter dia @c0combro. Tapi kalo cuma mengenal dari akun twitter tuh kurang! Kalian harus kenal dia langsung dan ngerasain keisengan si Coco! :D

Pertama kalinya saya menyadari sesosok Coco yang selalu ngumpul berempat sama Mia, Anggi, dan Ratna adalah saat dia berjalan masuk ke kelas sambil nunduk dan rambut panjang yang lurus banget itu mengingatkan saya sama Sadako di The Ring... Hahahahaha... Aku becanda doang, Co!
Dia jalannya pelan banget. Ngomong juga datar. Ekspresi secukupnya. Saat itu saya pikir ini anak kok aneh ya. Tidak terlintas kalau namanya awal kuliah di lingkungan baru pasti adaptasi dulu. Setelah kesini-sini saya baru sadar kalo sebenarnya si Coco ini isengnya bukan main! Saya juga tidak menyangka akan menjadi korban keisengannya. Si Coco ini memang santai ternyata. Untung nafas itu kegiatan yang tidak disadari ya, kalo disadari bisa gawat. Jangan-jangan si Coco bakal jarang nafas. :p
Pertama kalinya satu kelompok mengerjakan tugas dengan Coco adalah saat Psikologi Perkembangan 1. Tapi saya bahkan tidak begitu banyak berinteraksi dengan Coco. Saya lebih sibuk berkomunikasi dengan Mia.
Sampai suatu hari, ketika di lingkungan kampus saya merasa ada beberapa hal yang mengganjal, secara ajaib saya curhat ke si Coco. Waktu itu siang, si Coco mau menemani saya menunggu jam 3 di kampus (biasa, lah, jadwal kereta.) Sekarang sih... Beugh! Si Coco mengakui bahwa dia lebih memilih tidur siang daripada persahabatan. Dan tampaknya kalimat itu sudah menjadi jargon terkenal Coco di kelas saya. Nah. Sejak saat itulah kami mulai dekat dan banyak berbagi cerita bersama-sama. Rasanya, saya bisa menceritakan apa saja ke si Coco. Mulai dari hal-hal remeh yang membuat si Coco suka mengeryitkan keningnya sampai hal-hal besar yang kadang direspon dengan tidak tepat atau bahkan dia tidak merespon, tapi bagaimanapun juga saya merasa didengarkan.
Coco bukanlah orang yang akan menepuk pundak saya saat saya sedang dirundung masalah, alih-alih memberikan jalan keluar dia malah menyuruh saya buang air besar. Katanya sebagian besar kegalauan itu diakibatkan oleh kita yang belum buang air besar. Serius. Dia pernah kasih advice seperti itu. Tapi di saat itulah saya merasa dia punya caranya sendiri untuk menunjukkan kepeduliannya.
Di beberapa situasi, ketika saya merasa berang terhadap sesuatu dan bertindak impulsif, dan si Coco jauh duduknya dari saya, dia akan terlihat santai seperti biasa. Namun, setelah saya dan Coco sedang megobrol bersama dan menceritakan kejadian yang saya alami dia selalu berkata "Nah, pikiran kita sama berarti. Tadinya gue juga mau begitu." di saat itulah saya merasa mendapatkan dukungan.
Saat saya menangis, dia tidak pernah menunjukkan empatinya. Dia malah mengingatkan saya tentang cerita lucu dan membuat saya tampak gila karena terbahak saat mata saya basah. Emang nih si Coco! Tapi itu adalah cara yang tepat bagi saya.

Saya dan Coco sangat bertolak belakang. Saya cenderung impulsif dan dia... hh, luar biasa santai. Saya mudah panik, dia... hh, santai banget. Dia pernah tidak membawa bahan presentasi saat jadwalnya kita presentasi. Saya memang kesal saat itu, tapi saya juga sudah terbiasa memaklumi sikap santainya. Dan saat itu dosennyapun tidak datang. Tapi saya merasa harus tetap menegur dia. Saya sudah memberi tahu bahwa si Coco ini intuisi bersenang-senangnya sangat kuat, belum? Tiap kali dia memiliki dorongan yang kuat untuk bereha-leha dan memutuskan untuk menunda tugas misalnya atau berangkat telat, biasanya yang terjadi adalah tugas memang diundur dan dosen tidak masuk. Luar biasa kan? Saya iri banget sama kemampuan dia yang satu ini. Sementara saya sendiri punya kecenderungan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang buruk, hal ini suka bikin saya sewot. Hahahaha...

Coco itu suka bandel. Saya akan membuat list:
1. Suka narik rambut saya
2. Suka ninggalin saya kalo saya masih ribet dan dia pengen makan siang duluan.
3. Mengganggu saya kalo lagi main game
4. ngetawain orang yang ketiban sial
5. ngambil makanan saya
6. lebih pilih tidur siang daripada persahabatan
7. ngobrak-ngabrik tas saya terus ngomong "ini tempat sampah ya?"
8. berusaha merebut tempat duduk saya
9. suka ngetawain kalo saya lagi diare. katanya itu penyakit rakyat jelata.

Dia sendiri tahu kalo dari kecil dia bandel. Hahahha...

Tapi si Coco ini adalah orang yang akan memberikan saya bantuan saat saya butuh. Suatu hari saya pernah tidak masuk kuliah sehingga saya tidak tahu tugas yang diberikan dosen dan saya jadi panik saat tahu tugas itu cukup sulit. Coco langsung sms yang bunyinya "Pasti lagi panik karena tugas. Besok gue mau ke perpumda. Mau ikut nggak?" Dia mengajak saya ke perpus UI untuk mencari bahan skripsi. Bukan untuk ditemani loh, dia mau menjemput saya di Pasar Rebo, dan membantu saya mencari buku. Dia juga mengajak saya dan membantu untuk mendapatkan tempat magang (dan menghasilkan kebodohan lagi). Hal-hal seperti ini yang membuat saya santai saja saat dia lagi iseng dan menjadikan saya sebagai korbannya. Kenapa? Karena senista-nistanya Coco ngeganggu anak orang, dia masih lebih peka ketimbang orang lain.

Coco memiliki pemikiran dan cara mengungkapkan pemikiran itu "unik". Dia bisa mengatakan sesuatu yang kadang bertentangan dengan saya namun tidak berkesan menggurui atau menyalahkan saya. Kata Galih "Coco itu thinking out of the box. Cuma ga tahu boxnya yang mana." Hahahhahahahaha....

Satu hal lagi yang saya dan Coco sepakati. Sahabat itu nggak harus saling mengintil dan ngekor kemana-mana. Nggak harus kemana-mana bersama. Misalnya saat Coco mau makan gado-gado dan saya mau makan pecel ayam, kita akan berpisah (kenapa contohnya harus makanan ya?). Persahabatan itu tidak perlu dikonkretkan dengan kehadiran fisik selalu. Ada saatnya kita punya kesibukan masing-masing dan ga bisa selalu bareng, tapi kita selalu tahu sahabat itu selalu ada. Tapi di satu sisi, kita juga tahu setiap kebersamaan itu sangat berharga dan berusaha untuk tidak pernah melewatkannya. Persahabatan tidak perlu diumbar, ketika kita saling memahami dan tak pernah meninggalkan satu sama lain saat itulah kamu tahu siapa orang itu dan rasanya tepat untuk menyebutnya sebagai sahabat kamu.

Jadi, akhir kata saya mau mengucapkan:
SELAMAT ULANG TAHUN, FREECO LISA!!!
SEMOGA SETIAP KEINGINAN BAIKMU DIKABULKAN TUHAN.

ah, ucapan ulang tahunnya klasik. Hahahaha...
Tapi ya sudahlah. Coco ulang tahun atau nggak saya selalu berharap dia mendapatkan yang terbaik, semoga berkat Tuhan nggak ada habisnya melimpah di kehidupannya. Walaupun saat melakukannya saya sambil mengelus dada lihat keusilannya... Hahahaha...

and the most important thing that I should tell her is: "calling you as my best friend feels so right." :)

Minggu, 06 November 2011

Fascinate #1: Mengetuk Pintu Surga

Post kali ini, gue mau nunjukkin satu karya teman gue, Galih Ismoyo Yantho.
Galih adalah teman sekelas gue di Psikologi Reguler 2008. Hobbynya menulis juga. Sama kayak gue. Tapi, gue jarang banget baca tulisannya Galih. Terus ya, cita-cita Galih itu jadi peternak ayam, masa'? Ya nggak apa-apa sih. Semoga ilmu Psikologi-nya bisa digunakan ya. XD
Jadi, hari Jumat (4/11) kemarin, gue meminta Galih untuk menulis puisi, dan gue bilang mau diposting di blog ini. Siapa tahu Galih terinspirasi untuk bikin blog juga. Ya nggak, Galih? :p
Galih-pun bersedia menulis sebuah puisi. Ini dia puisinyaaaaa....!!


Mengetuk Pintu Surga

Sebenarnya bukan kesenangan - kebahagiaan
Tapi lantunan proses di Samudera dunia yang diresapi tiap waktu
Kemudian terucap syukur
Perjumpaan - tertinggal
Mengukur perasaan dan pikiran. Autokritik.
Muncullah tujuan Hidup.
Apa itu?
Karena mati itu hanya awal dari kehidupan...
Artikan atau definisikan hidup ini dengan
pandangan yang kau tahu.

Doa diukir di rahim angin
melayang nusa, semoga ditangkap raga manusia.
Tak guna menangis, tak guna tertawa
Redalah - Reda...

Rabu, 05 Oktober 2011

Hampa

Peluk aku, Langit. Karena kau tak berbatas.
Aku ingin tenggelam dalam megah yang tanpa dasar itu.
Bahkan sudut mataku tak akan mampu menelanjangimu seutuhnya.
Terlalu besar hampa itu. Terlalu nyata.

Sudah berapa jarak yang kutempuh untuk dapat mencumbumu, Langit?
Kutinggalkan segala rasa.
Ingin segera meringkuk dalam relungmu.
Biarkan aku mendefinisikan hampa itu.

Aku mencintaimu, Langit.
Kau kokoh tanpa pilar, aku tak takut kelak kau meruntuh.
Sudah kunikmati duka itu hingga memudar.
Tapi hampa tetap singgah.

Langit, nyatakah engkau?
Semburat biru yang terkadang menggoda jingga
yang kerap kali membuatku semakin memujamu
tak kunjung teraih..

Kau biarkan aku hampa di bumi ini.

Langit, nyatakah engkau?
Atau kau hanya tempat bintang-bintang yang mengerling genit
menggodaku, mencemoohku...
Segala cinta itu hanya delusi.

Karena itulah, hampaku tak mau pergi.

Selasa, 13 September 2011

Kita Tidak Pernah Cocok

Damai itu kutemukan dalam gemerisik dedaunan yang digoda angin. Genit, katamu. Aku hanya tersenyum.

Damai itu kutemukan dalam heningnya malam. Kamu kesepian. Tapi aku merasa utuh.

Damai itu dapat aku ciptakan bahkan dalam hingar bingar gemerlap kota. Tapi kamu merasa tak aman dan terasing.

Aku menyukai detil-detil kecil, bagimu aku tidak pernah fokus.

Aku suka guratan kecil di matamu. Tanda senyummu menjejak di sana. Tapi bagimu, itu tidak berarti.

Kamu mengeluh akan hari-harimu, aku menghitung tiap gelak tawamu.

Kamu bilang aku lemah, sekalipun aku rela berdarah.

Kamu bilang aku tidak pernah memikirkan hari esok, padahal aku sedang menikmati tiap detik yang kuhabiskan denganmu.

Airmata itu cengeng bagimu, bagiku itu pembersih dengki.

Aku temukan bahagia dalam tiap dentingan musik, kamu malah sakit kepala mendengarnya.


Kamu pikir kamu hebat jika cinta tak bisa menyentuhmu? Lagi, aku hanya tesenyum.

Kamu pikir kamu hebat bertahan dalam sisi-sisi gelapmu? Cahayaku lebih hangat, tahu!

Kamu pikir aku senang dengan tingkah superhero-mu? Aku merintih untuk tiap rasa sakitmu.


Aku tak pernah tepat untukmu. Jadi, mengapa kita masih beriringan?



Silakan berdiri angkuh di sana, dengan mantel tebalmu, menunggu badai mereda dan mataharimu bersinar. Biarkan aku menari di tengah hujan.


Kamu jelek! xp

Jumat, 26 Agustus 2011

Doa Hari Ini

Doa Hari Ini

Dalam sajaklah kuiringkan doaku
doa-doa yang melantunkan harapan
Tuhanku,
hanya padaMu-lah aku berserah
Sandarkan letihku dalam kasih sayangMu
Mantapkan langkahku dalam jalan kebenaranMu
Biarlah kusyukuri setiap berkat
yang mengalir dalam darah dan hembusan nafasku
Biarlah kurasakan kehangatanMu dalam sinar mentari
Tegarkanlah kiranya diriku, Tuhanku.
Sekalipun dengan air mata membasuh luka di hati
Berikan hikmat kebijaksanaanMu
Hingga tak sekalipun aku menjauh dariMu
Biarkan suka dan duka itu silih berganti
agar aku tak pincang berdiri dalam tonggak kedewasaan
dan memahami arti sejatinya
Sungguhpun, oh, Tuhanku...
aku bukanlah pribadi yang sempurna
Kaulah yang melengkapiku
dan sempurnalah semua dalam waktuMu...
Amin...

12 Maret 2008


Note: gue menemukan puisi ini di dalam agenda 2008 yang masih gue simpan. Saat gue menulis puisi ini, 40 hari kemudian gue menghadapi UAN (iyeee, bukannya belajar, gue malah bikin puisi).

Doa gue di hari ini adalah: Tuhan, jangan sampai aku hanya mengingat dan datang padaMu, di saat aku sedang susah saja... Amin.

Rabu, 10 Agustus 2011

Mati Rasa

Siapa yang tega menjadikan kau sebagai nyawa sekaligus pusara rasa sakit?
Jahanamnya aku jika mengutuk Tuhan.
Betapa inginnya menjauh...
Seharusnya kau adalah segala obat, tapi kerap kali kau menyakitiku.
Sekalipun tak ada yang baik dariku untuk kau tinggikan, tolong jangan hina aku.
Aku tidak ingin jadi pemberontak. Aku juga tak ingin menelan kata-kata pahitmu.
Aku penasaran.
Damaikah hatimu ketika kerap kali kau menyalahkan aku atas kesalahan orang lain yang tidak pernah aku buat?
Legakah hatimu setiap kali kau maki aku untuk hal-hal yang tidak dapat kau lakukan?
Apakah kau merasa sukacita setiap kali kau berhasil menemukan puluhan makian yang kau rasa pas untukku?
Jika tidak, apakah itu salahku juga?
Kau tahu, betapa aku membenci diriku sendiri setiap kali aku menyadari bahwa kata dan perilakuku persis seperti dirimu? Ya. Aku takut pelan-pelan aku berubah menjadi seperti dirimu.
Berapa banyak lagi orang yang akan terlibat dalam lingkaran setan kita?
Betapa aku lihat sebenarnya kita selalu bisa lebih baik, tapi selalu saja aku tidak pernah lebih baik bagimu.
Apakah aku benar-benar tidak memiliki kebaikan apapun, sehingga setiap kesalahan karena khilafku membuat hancur hidupmu?
Dalam setiap amarahmu, selalu saja kau katakan seharusnya hidupmu bisa lebih baik bila aku tidak ada.
Apakah kau ingin malam ini aku berdoa agar Tuhan mengembalikan masa lalu sebelum aku ada?
Kau tahu, aku benci kalah. Aku terlalu angkuh untuk meminta Tuhan mengeluarkan aku dari permainan kehidupan ini. Aku tidak ingin menjadi lemah.
Aku egois kan? Itu yang selalu kau katakan. Aku tidak pernah tahu kau akan terpuaskan oleh hal-hal apa saja. Maka aku biarkan diriku memenuhi standarku sendiri.
Kekurangan orang lain yang kau timpakan padaku, bagaimana aku bisa mengubahnya? Maka aku memilih menjadi egois, karena aku tidak mampu mengubah orang lain sesuai dengan keinginanmu.
Maafkan aku jika aku harus mematikan semua inderaku atas dirimu. Karena aku tidak tahu berapa lama lagi aku sanggup bertahan menelan pil pahit darimu.












Tuhan, maafkan aku. Tuhan, ampuni aku...

Selasa, 09 Agustus 2011

Ternyata Aku Merindumu

Dalam diam, ternyata aku merindumu. Siapa sangka aku bisa jatuh cinta, sekalipun tanpa objek. Banyak yang bisa kubagikan. Hanya saja, aku tahu kau tak akan pernah memintanya. Sudah berapa lama rentang jarak membuat kita hanya dapat saling memimpikan?

Gambaranmu. Jika warna dapat dilumat pandang, mungkin kini ia telah habis tertelan kenangan. Bahkan aku ingat setiap lengkung senyummu. Hanya saja, hangat pelukan tidak lagi terasa. Jarak yang kau buat memenjarakan pelukanku hanya sampai di hati saja.

Uluran tangan tak kau sambut. Kau bilang kau sanggup sendiri. Kemudian pergi. Terlalu angkuh untuk menoleh ke belakang. Terlalu bodoh untuk menyadari, aku mengikuti jejak air matamu.

Cuma aku yang bisa merasakan kelegaan rindu dalam pertemuan yang canggung. Pertemuan itu nikmat bagiku. Canggung, bagianmu, karena ternyata aku hanya orang asing bagimu.

Aku keras kepala. Menolak menangisi kepahitan. Untuk apa? Aku utuh dalam cinta. Bukan utuh karena memilikimu dengan alasan keegoisanku.

Kau bukan cintaku. Kau hanya sepotong rinduku.

Yang entah bagaimana, kubiarkan membeku dalam arus waktu. Kalau kau tak ingin menghangatkannya dalam pelukanmu, ku biarkan ia mengkristal.

Lihat, cantiknya rindu itu terpahat.

Ah, mengapa aku hanya membicarakan rindu?
Lalu kau?

Hanya rindu bagian dari dirimu yang aku punya, yang tak akan bisa kau renggut dari aku.



Kecuali...



Seandainya....



Misalkan.....



Kau mau....



Memelukku...



PS:
Kau tahu, air mata itu panas. Kristal rindu itu hanya akan mencair sementara. Kemudian mengajak air mata untuk membeku bersama lagi.

PSS:
Ternyata air mata dan rindu adalah kolaborasi yang menyakitkan.

Selasa, 26 Juli 2011

Mencintaimu

Ini pertama kali diposting di Twitter. Daripada lama-lama ketindih sama tweet lain, jadinya gue copas ke blog. Enjoy!

apa aku harus memiliki alasan untuk setiap kata cinta yang terucap?
aku tidak ingin memegangmu terlalu erat. takut itu akan menyesakmu. dan melukaimu.
karena aku tidak berpikir keegoisanku akan membuatmu merasa nyaman.
aku hanya di sini, membiarkan waktu berlalu tanpa aku yang berusaha mengejarmu.
tapi aku ingin kau tahu, aku punya pelukan hangat. yang setiap saat bisa kau miliki ketika dunia terasa memusuhimu.
aku tidak akan mengemis perhatianmu. memaksamu untuk menatapku.
aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku juga dapat berbagi suka jika kau berkenan.
aku tidak menyalahkan airmatamu yang selalu membasahi pundakku.
aku akan meyakinkanmu, bahwa aku cukup kuat. Bahkan, saat kau tak menyadari, airmatamu itu berhasil menorehkan luka di hatiku.
bukan karena kau menyakitiku. ntah sejak kapan duka kita menyatu.
oleh karena itu, sungguh, aku tak menolak bahagiamu sekalipun itu bukan tentang aku.
aku tidak menuntutmu memilih. Aku, pelipur lara? atau Dia, pemberi kebahagiaan? Aku menelan rasa sakit itu, tahu bahwa kau butuh keduanya.
sungguh sempurnanya senyummu. sekalipun dengan kesempurnaan itu, aku rela tidak utuh. berapa banyak kepingan hati yang kuberikan untukmu?
berharap dengan kepingan hatiku, kau bisa menyusun kehidupan utuh dengan aku menjadi bagiannya.
aku tidak ingin kau membuangnya dalam masa lalumu. sekalipun tak bisa jadi bagian dalam hidupmu, aku tak ingin kau kembalikan kepingan itu.
simpanlah kepingan hatiku, ntah di sudut berdebu hatimu. Tapi biarlah. Sekalipun kini kau tidak mengingatku, tapi aku menunggumu.
aku menunggumu menyelami hatimu sendiri. menemukan aku dan mengingatku kembali. sekalipun dalam sosok lusuh.
sosok lusuh yang paling tahu betapa mahalnya harga airmatamu. betapa bernilainya senyumanmu.
kau tidak akan memungkirinya. aku tahu. akulah tempat ternyaman. ketika hatimu lelah dan ingin bersinggah dalam dekapku.
siapa lagi yang bisa tersenyum di sela tangis? aku. Airmata itu kuresapi sendiri. Biar senyum itu menjadi bagianmu.
aku tidak akan berbagi dukaku denganmu. Aku takut kau melukai diri sendiri. karena kaulah duka itu. duka yang kupertahankan.
tapi cinta yang begitu besar kepadamu mengalahkan segalanya. maka kukatakan, tak butuh alasan untuk mencintaimu.
cintalah detak jantungku, senyummu adalah pelangi. aku sanggup bertahan dalam badai tanpa pelangi.
aku di sini. menatap kepingan hati yang kau bawa pergi. berharap itu cukup untukmu.
aku tidak bisa mengejarmu, jika kau terlalu jauh untuk kugapai. bukannya aku tak ingin. memilikimu tidak pernah menjadi hakku.
aku hanya berharap kau mau kembali menyapaku. jika lelah itu datang dan kau tak punya tempat bersandar.
tapi jika kau tak ingin kembali, berbagi air mata denganku, cukupkah kepingan hatiku menjadi pelipur laramu?
maafkan aku jika kepingan itu tidak lengkap. jika kuberikan semua kepadamu, dengan apa lagi aku harus mencintaimu?
jangan khawatir, cinta ini tidak akan membebanimu. aku tidak ingin kau menganggap cintaku sebagai kewajibanmu.
mungkin ia kelabu dan terkoyak. tapi bisakah kau lihat pelangi ketulusan di sana? aku bisa. karena aku mengenal keikhlasan.
dan jika dengan cinta sebesar ini, kau masih menganggap aku tak layak untuk kau pertahankan, aku tidak mengemis padamu.
aku hanya akan mencintaimu dalam diam. berharap ia yang menjadi pemberi kebahagiaanmu bisa menjadi pelipur laramu juga.
ntah mengapa. mencintaimu tak pernah terasa pahit, sekalipun segala kenangan manis tak pernah kau izinkan untuk kucicipi.

Selamat malam, Cinta. Biarkan siang yang telah menceriakanmu mengalah pada malam yang mendamaikanmu. Mimpimu selalu jadi nyata.




PS: aku punya banyak cinta. tiap kali kau ingin mengecapnya melalui bibirku, aku tidak pernah kehabisan persediaan. Kapan kau kan merinduku?

Sabtu, 09 Juli 2011

Rindu dan Cappuccino

Senja meredup, mengalah pada malam yang merindukan bintang. Berapa ribu rotasi bumi telah membunuh waktu tanpa kehadiran kalian? Langit masih sama. Tidak terjamah. Tidak mampu mengikis rindu yang perlahan meruntuhkan ego-ku.

Aku ingin berlari menghampiri kalian. Mereguk secangkir cappuccino hangat yang meleburkan sekujur lelah. Melenyapkan letih dalam gelak tawa yang riang.

Tahukah betapa angkuhnya aku berdiri, menantang matahari yang menguasai hari, tertawa congkak pada hidup dengan nyawa kian meredup? Aku berlari menyangkal rasa lelah, meredam air mata di sudut hati. Dunia tidak akan melihatku ringkih, terpaku dalam derita.

Kerap kali aku memaki sunyi, berharap ia pergi karena dikalahkan rindu. Rindu yang terlalu besar, mengisi semua kekosongan tanpa harus menyisakan sunyi. Tapi sunyi kerap kali mengetuk pintu hatiku dan membuatku berpikir tentang kalian yang membuat rindu semakin menyiksa, menyesak nafasku.

Aku ingin memeluk langit, biar hampa dalam genggamanku. Atau izinkan sayap-sayap memelukku. Dapatkah kehangatan menyingkirkan rindu?

Tapi

Ntah mengapa, tiap kali aku terjatuh dan ingin mengakhiri semua, semburat tipis memori memenuhi kepalaku. Tersentak karena rindu bisa membuatku bertahan. Melintasi jarak, perjalanan waktu hanya dapat mendekatkan kita.

Di dalam penatnya hari, bekunya rintik hujan, panas menyengat, dan hirur pikuk yang membosankan... mereka yang kurindukan itu membuat hari berakhir dalam senyum damai, yang meskipun terburu-buru, tapi aku tahu dahaga itu akan dipuaskan.

Merekalah tempatku untuk pulang...
Mengikis rindu yang terasa konyol...
Menertawakan pahitnya hidup...
Menghitung tiap keping berkat...
Betapa duka tak ada artinya lagi...

Di penghujung hari, dalam hangatnya secangkir cappuccino, mengalir cerita yang tak akan pernah habis. Ketika seluruh rasa seolah bagian dalam prosa, hidup hanyalah alunan dongeng.

Betapa aku menyukainya. :)

I'm just Human Being #1 : Mahasiswi Psikologi

Sejauh ini, gue masih terus berpikir. Apakah "Gue cuma manusia biasa" adalah sekadar pembenaran diri yang menyedihkan atau memang begitu adanya. Well...

Sumpah, gue deg-deggan mau posting beginian.

Pertama kalinya gue jatuh cinta pada Psikologi adalah saat gue masih kelas 1 SMP, gue membaca sebuah novel karya Sidney Sheldon yang judulnya "Tell Me Your Dreams" yang mengisahkan tentang kepribadian ganda. Baca deh! Bagus. Saat itu juga gue memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi kalau nanti kuliah. Alasannya adalah gue pengen ngelihat orang dengan kepribadian ganda. Cuma ngelihat aja. Sepele banget ya? Hahahahaha... Secara gue juga merasa kurang mampu untuk kuliah kedokteran dan mengambil spesialis kejiwaan. Jadinya ke Psikologi saja deh.

Begitu masuk jurusan Psikologi (sebenarnya kisah ini juga penuh liku, kalau niat gue pasti bahas.) WOW!!! Gue benar-benar suka dan gue merasa ini jalan gue! Ini tempat gue berada.

Gue akui, sebelum gue masuk jurusan Psikologi gue sangat senang kalau ketemu dengan orang-orang yang mendalami Psikologi. Sebenarnya sampai saat ini juga masih suka. :D
Tapi sesukanya gue, se-excited-nya gue dengan mereka, gue nggak pernah berpikir 'bagaimana mereka seharusnya dengan ilmu Psikologi mereka'.

Sampai gue sendiri bingung sama nyokap gue yang suka banget ngomong "kamu kan psikolog (aminin aja..), kok gini..." sampai suatu ketika gue menjawab "Ih, Mama gimana sih, mama tuh nyekolahin (iyeee, tahu, seharusnya kuliah) aku tuh di Psikologi, bukan di sekolah kepribadian. Psikologi itu mempelajari orang apa adanya." eh, tapi nyokap gue tetap mengomel sambil ngungkit Psikologi.

Gue sampai berpikir, kasihan ya Psikologi, terjebak dalam pencitraan baik hati, ramah tamah, memahami, bisa baca pikiran orang (eh?)...
Gue nggak ada niat menjelek-jelekkan sesuatu apapun, serius.
Tapi, terkadang tidak mudah menghadapi orang-orang yang selalu menuntut bagaimana lo seharusnya, padahal lo juga butuh diterima apa adanya.

Pertama kali gue menjejakkan diri di Psikologi, gue ngambil mata kuliah Psikologi Umum yang pada saat itu memang udah dipaketkan mata kuliahnya.

Satu kejadian yang gue ingat sampai detik ini adalah ketika seorang teman menanyakan satu hal ke dosen gue "Bu, gimana cara ngatasinnya jika ibu sebagai psikolog harus memahami orang lain padahal ibu juga ingin dipahami?" eh, dosennya nyengir loh. Terus dia menjawab dengan mengatakan bahwa ia adalah anak bungsu yang pengennya dimanja dan di lingkungan keluarganya sudah maklum dan memahami dia. Gitu jawabannya. Kesimpulannya, dia bisa jadi psikolog dan bisa jadi dirinya yang apa adanya.

Entah kenapa gue jadi memisahkan 'bagian diri' gue seperti itu juga. Yang pertama gue sebagai mahasiswa psikologi, yang kedua gue sebagai diri gue yang apa adanya. Bukan berarti gue gangguan kepribadian ganda. Ini seperti sisi objektif dan subjektif yang gue yakin setiap orang pasti punya. Tapi sama halnya dengan orang lain, objektif dan subjektif itu suka ngeblur jadi satu.

Bukti konkretnya adalah saat gue dan teman-teman gue lagi ngegossipin orang. Eitss! Gossip itu baik untuk kesehatan mental, tapi bikin moral porak-poranda... Haha! Jadi begini ceritanya, ketika kita lagi ngegossipin artis...
A: Eh parah! Si artis ini kan gini... gini... gini...
B: Serius lo? Kok bisa ya?
C: Eh, dia kan dari keluarga broken home, emaknya bla... bla... bla...
D: Kasian yaaa...
E: Pantesan dia kayak gitu. Tapi kan orang itu seharusnya ada system belief... blaaa... blaaa...
F: Oh, iya yaa. Ditambah lagi id dia... ego dia... super ego dia...
Semua: Iya bener yaaa...
Gue: Yak... jadi kapan kita bisa ngegossip dengan tenang tanpa harus menganalisis?
Semua: (nyengir)

KITA LUPA GIMANA CARA NGEGOSSIP SESUAI KAEDAHNYA!!!


Gue ingat salah satu tweet teman sekelas gue, Rury a.k.a. Uwi, yang bilang "bukan karena psikolog berarti harus jadi pribadi yang sempurna kan? :-)"

Coba cari, siapa sih di dunia ini yang selalu hidup aman sentosa terus-terusan? Nggak pernah punya masalah? Hidup lempeng aja terus... Nggak ada yang dipikirin... Kalau ada, sini bawa ke hadapan gue! Biar gue ketawain "eh, boring banget ya hidup lo!" hahahaha!

Salah satu dosen gue pernah bilang kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang bisa menerima sisi negatifnya. Karena nggak ada orang yang benar-benar sempurna kepribadiannya. Semua orang punya sisi inferior di diri mereka. Mereka bisa memilih untuk tenggelam dengan kelemahan mereka atau berjuang untuk mencapai superioritas mereka.

Nggak jarang gue temukan orang yang suka menyalahkan orang lain untuk apa yang tidak bisa atau telah ia lakukan. Paling sebal kalau gue yang dijadikan sasaran. Gimana caranya mau membenahi diri kalau belum bisa melihat dan menerima kekurangan diri sendiri? Teman sejurusan gue, Galih, pernah bicara "Kalau nggak tahu apa masalahnya, gimana mau ditembak pake solusi?"

Nggak penting siapa elo, apa jurusan lo, bokap lo gajinya berapa, elo masih sodaraan sama Justin Timberlake atau nggak, pacar lo anak gaul taman lawang atau taman suropati, kakek lo pencetus perang dunia ketiga atau bukan... Tuh kan! Gue ngelindur...
Berbahagialah kalau lo memiliki orang yang mencintai dan menerima lo apa adanya. :)
Tapi yang terpenting, bersyukurlah kalau lo udah mampu menerima kekurangan diri lo apa adanya tanpa harus nyelekit kalau membela diri dan lo udah bisa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.

Salah satu perkataan dosen gue yang gue kutip dari tweetnya Uwi (@ruriirurii):
meskipun kita belajar psikologi dan tahu bagaimana individu yang ideal itu, tapi jangan sampai merubah & memaksa diri kita menjadi ideal dan baik. Karena kita adalah kita, dengan segala keunikan, tidak apa-apa mempunyai kekurangan asal kita bisa berdamai dengannya,tidak apa-apa jika kita merasa lemah asal mau mengakui. Jadilah diri sendiri, bukan menjadi kumpulan teori. Karena tahukah anda mengapa saya selalu ceria, karena saya tau Psikologi untuk anda, bukan untuk saya... Hehe...

Sepenggal lirik favorit gue dari lagu Superman-nya Five for Fighting
Even heroes have the right to bleed...

Mungkin kita cuma manusia biasa, tapi tetaplah berusaha menjadi yang terbaik yang kita bisa dengan menerima kekurangan kita dan berusaha menakhlukkannya. Sebagai seseorang yang mempelajari Psikologi, saya juga sedang berusaha... :)

Minggu, 03 Juli 2011

Sepi

Apakah gelak tawa selalu bisa mengisi kekosongan hatimu?

Aku tahu

Kau selalu mencari ia yang telah pergi

Kau selalu memanggilnya walau kau tahu ia tak akan pernah datang

Berapa banyak air mata? Kau selalu tahu, kehilangan tak akan pernah habis

Merengkuhmu bukanlah hakku

Karena aku mengerti

Ribuan tak akan ada artinya

Tak akan pernah menyesakkanmu

Berapa banyak tangis? Aku harap duka itu luruh

Berbagi canda, memendam duka

Kau biarkan ruang itu kosong

...

...

Aku ingin dicintai sebesar itu

Rabu, 29 Juni 2011

Bersyukur di Atas Penderitaan Orang Lain

Bahagia di atas penderitaan orang lain tuh katanya dosa ya?
Kalo bersyukur di atas penderitaan orang lain gimana?

Sumpah...

Akhir-akhir ini gue mempertanyakan hal ini.

Terkadang kita mendengar berbagai cerita sedih yang membuat kita jadi berpikir, "Thank God, kejadian itu nggak menimpa gue."
Gue nggak menganggap itu sesuatu yang salah. Tapi apa yaaa...? Nggak tahu. Layak nggak sih kita mengucapkan ucapan syukur setelah melihat orang lain ketimpa musibah atau kurang beruntung dan kita masih baik-baik saja?

Bagi gue, ini menyedihkan dan kurang pantas.
Gue membayangkan, andaikan suatu hari gue mengalami kecelakaan dan tangan gue diamputasi (Tuhan, jangan sampai kejadian beneran, please...) terus gue dengar ada orang yang bicara "Syukur, anggota tubuh gue masih lengkap."
Kalau gue adalah seorang pemarah, gue pasti udah ngamuk habis-habisan.
Kalau gue adalah orang yang rendah diri, gue mungkin bakal nangis dan mempertanyakan kenapa gue yang harus 'dihukum' seperti ini.
Yaaah, apapun itu, berada di posisi 'seandainya gue...' ini memang nggak enak kok...

Hal seperti ini bahkan sering gue lakukan.
Melihat tunawisma, gue bersyukur masih punya tempat untuk tinggal.
Melihat bencana alam nun jauh di sana, gue bersyukur kejadian itu tidak menimpa gue.

Kenapa setiap rasa syukur itu baru terucap setelah gue melihat sesuatu yang tidak lebih baik dari apa yang gue miliki?
Kenapa setiap rasa syukur itu jarang sekali datang dari hati nurani gue, ketika gue benar-benar diberkati? Padahal setiap hari banyak berkat yang melimpah di kehidupan gue.
Kenapa harus ada komparasi, dan ketika kita berada 'di atas', baru mengucap syukur...?
How jerk we are... :'(

Apakah kita, sebagai seorang manusia, terlalu banyak menuntut? Sehingga, ketika kita melihat orang lain yang tidak seberuntung kita, barulah kita ingat untuk bersyukur.
Apakah kita terlalu fokus pada hal-hal yang besar, sehingga mengabaikan berkat yang sebenarnya terus menerus melimpah. Matahari, oksigen??? Emangnya itu bukan berkat?

Kesadaran ini menyakitkan gue. Ternyata selama ini gue bersyukur di atas penderitaan orang lain.

Gue mencoba mengingat kembali, kapan saat-saat dimana gue benar-benar bersyukur. Bersyukur yang dimana gue benar-benar menghargai apa yang gue miliki, bukan bersyukur karena ternyata milik gue 'lebih banyak' dari orang lain.
Bersyukur karena gue memang ingin bersyukur, bukan bersyukur karena gue habis 'ditegur' kalau gue adalah orang yang beruntung.

Mungkin bisa gue mulai dari sekarang.

Menghitung berkat. Apa yang Tuhan sudah berikan untuk gue.
Jadi ketika orang lain menderita, gue selalu tahu, yang harus gue lakukan bukanlah bersyukur karena gue masih beruntung, tapi berempati dan melakukan apapun yang bisa gue lakukan untuk membantu mereka.
Dan melalui cara ini, kasih Tuhan bisa menjadi nyata dalam hidup gue.
Guepun nggak perlu mempertanyakan: bersyukur di atas penderitaan orang lain, dosa atau nggak?