Rabu, 04 Juli 2012

Hanya Sebuah Nama




Hallo, apa kabar?




Aku sedang merindukanmu saat ini. Ah, lebih tepatnya aku selalu merindukanmu. Waktu dan jarak tidak hanya memasung pelukanku tetapi juga membiarkan rinduku terus menyiksa pemiliknya. Seperti gila. Kadang aku menangis, tak jarang tertawa lepas. Mengingat apapun yang pernah kita nikmati bersama. Sampai detik ini, kau tahu, aku punya banyak kisah yang ingin aku bagikan. Tapi takdir selalu saja membuat kita memijak tanah yang berbeda. Sungguh. Terkadang aku merasa keberuntungan pilih kasih. Ia tidak adil padaku. Jutaan pecinta sedang bergandengan tangan dan aku malah sibuk mengingat detil-detil kerut di bibirmu yang membentuk senyuman. Supaya aku tidak lupa akan senyum itu, aku selalu menciptakan proyektor imajiner jadi aku bisa melihatnya untuk kunikmati sendiri. Ahh, aku tidak pernah lelah merindukanmu seperti aku yang tidak pernah lelah mencintaimu. Hanya saja kadang rindu tak dapat kutahan ketika sedang membuncah, sama seperti cinta juga, bukan? :)

Mau tahu apa yang menarik dari hari-hariku yang sibuk dan sering merindukanmu? Aku menyebut namamu berkali-kali. Hey, tentu saja aku lebih sering menyebut nama Tuhanku! Kau tidak perlu merasa besar kepala seperti itu. Hahaha... Tapi aku tidak akan berbohong, kerap kali, ketika aku sedang berbicara pada Tuhan, aku selalu menceritakanmu. Berkali-kali. Cerita yang sama.

Hmmm... Ingat saat kamu bertanya mengapa aku tidak pernah memanggilmu dengan kata "sayang" atau "cinta"? Bukan karena aku tidak merasakan itu padamu, tetapi karena aku suka melafalkan namamu dari bibirku.

Rasanya seperti gulali yang menyentuh indra pengecapku. Manis.

Rasanya seperti merapalkan mantera yang mewujudkan mimpiku.

Rasanya seperti menaikkan puji-pujian atas penciptaanNya.

Sekali saja aku menyebutnya, lengkungan senyum yang tercipta bisa mengalahkan pelangi.

Sekali saja aku menyebutnya, awan-awan gelap di hariku menyingkir sekejap.

Sekali saja aku menyebutnya, dunia seolah jadi milikku.

Tentunya sekarang kau sudah mengerti alasanku, bukan? Jutaan kata sayang dan cinta bisa ditujukan pada siapa saja. Tetapi sekalinya aku menyebut namamu, pastilah itu adalah dirimu, untukmu, dan hanya kamu. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu ketika kamu adalah pusat revolusiku? Aku ingin tetap menyebutkan namamu berkali-kali sambil saling menggenggam jemari dalam masa depanku nanti. Tapi kita tidak akan mendahului Tuhan apalagi mendesakNya, karena apa yang Ia rencanakan untuk kita adalah demi kebaikan kita.




Aku suka menyebut namamu. Kerap kali kuucapkan saat lutut bertelut, kepala tertunduk, dan tangan terlipat. Aku mungkin jauh, tapi Tuhan selalu memelukmu.

0 komentar:

Posting Komentar