Kalau terlalu
berat untuk diakhiri, mungkin kita bisa sama-sama memulai awal yang baru. Di
jalan yang berbeda. Aku dan kamu bisa masing-masing menyimpan bagian
"kita" karena bergerak mundur untuk hilangkan jejak tidak akan
mungkin.
Menyesali pernah
terjadi terasa kurang tepat. Akan terasa lucu jika kita menangisi kebahagiaan
yang lampau. Mungkin kita hanya menyayangkan apa yang baik tidak bisa kita
rajut bersama-sama lagi.
Entah di
suatu hari nanti, ketika kita tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan, kita
boleh memiliki kebahagiaan kita masing-masing. Dan kita tidak perlu menunjukkan
siapa yang paling bahagia. Kita bisa saling memaafkan dan bersyukur, kita
pernah bahagia bersama.
Ada yang
lebih lapang dari duka, ada yang lebih besar dari luka. Dengan damai yang kita
rasakan, maka tidak perlu lagi saling menyakiti. Tidak perlu saling bunuh sosok
dalam pikiran kita. Kenangan akan mengental dan melekat serta semakin tajam.
Jika harus sakit, maka sakitlah. Biar sakit jadi bagian hari ini. Toh jika
memang ada luka, maka ia butuh waktu untuk sembuh. Dan jika memang meninggalkan
bekas luka, tidak perlu menjadi pahit. Toh ada lubang besar di hati yang kita
biarkan kosong sejenak. Ya kan?
Mungkin
kemarin kita mencintai. Hari ini, kita saling membenci. Semoga tidak butuh
waktu lama untuk saling mengikhlaskan.
Kita sudah
pernah melewati masa ketika diam pernah sama menyakitkan dengan hunusan pedang
dan sama mematikan seperti racun. Air mata bahkan menjadi perisai patah yang
tak berfungsi. Kau kira itu senjata? Lucu. Lihat bagaimana kata-kata logis sialanmu
melukai. Itu bukan senapan berpeluru, tapi tetap ketika kau menembakkannya,
tetap menembus hati.
Tidak, tidak.
Kita tidak perlu menjadikan kenangan itu untuk membuat jurang pemisah semakin
lebar dan curam di antara kita. Menanggung luka sendiri saja kita belum mampu.
Haruskah kita
menyebutnya akhir? Ah, bukan. Relakah kita untuk menyebut kata 'akhir'? Mungkin
kita bisa menyatakan cinta dalam bentuk yang lain. Seperti "terima kasih
sudah hadir di hidup saya." Kemudian, kita harus membesarkan hati dan
memulai untuk melangkah lagi. Memulai lagi.
Sekali, hati
ini pernah singgah. Bukan berarti kali ini ia harus tertatih tertinggal dan
mati-matian mengejar kehidupan. Mungkin akan terasa sedikit lebih berat. Beban
ingatan yang membawa rasa. Tapi itu bagian kita, tidak peduli betapa
menyakitkan.
Akan ada
masanya, saat kita saling mengenang nanti, yang bisa tercipta hanya senyum atau
gelak tawa. Dan jika luka ada salah satu cara membuat hidup ini utuh, maka
ikhlaskan ia hadir. Toh waktu, teman yang setia, pasti menyembuhkan.
Mari
melangkah untuk awal yang baru tanpa perlu saling melupakan. Kita sudah menjadi
kaya dengan harta karun ingatan kita masing-masing.
Suatu hari
nanti, bahagia akan menjadi bagianmu seperti ia menjadi bagianku. Sehingga kita
bisa saling mendoakan untuk kebaikan kita.
Dan
"kita" akan selalu menjadi kisah menarik untuk diceritakan. Bukan
karena akhir yang duka, tapi karena keberanian untuk memulai lagi.
selalu tersentuh kalau baca ini.. :')
BalasHapus