Enyah, air mata. Aku tampak cengeng, walau kutahu kau menjernih mata dan bersihkan hati.
Pergi, jenuh. Masih banyak yang harus kukerjakan, walau kutahu aku butuh menenangkan diri.
Aku berlari hingga kakiku mati rasa.
Pandanganku mengabur tapi aku semakin tajamkan penglihatan.
Otakku berputar, terus berputar.
Malam kelam, malam temaram.
Istirahatlah sejenak, bujuknya padaku.
Ia kecup keningku.
Esok masih ada.
Tapi tak akan sama, ujarku.
Aku cari-cari kebenaran.
Ia ada.
Kamu letih.
Aku tidak bisa berhenti.
Sibuk.
Sibuk menyesap gundah.
Keluh-keluhmu berkesah.
Amarah menggelegak.
Berhenti sejenak, Sayang.
Tidak. Waktu tergesa. Ia berlari.
Waktu temanmu, Sayang.
Benarkah?
Maka,
Sekali ini kubiarkan mata terpejam.
Kelam, hadiahnya.
Kuucapkan selamat pada malam.
Biar lelap, sesekali kutemukan damai.
0 komentar:
Posting Komentar