Lukisan
senja tak perlu kau pahat dalam ingatanmu,
Sekalipun
ronanya ditelan malam, kerap kali senja kembali.
Hari ini,
bagimu ia cantik, esok mungkin tidak.
Sekalinya ia
mengagumkan, perhatianmu meluputkannya.
Tetapi
bagiku, senja selalu berhasil menciptakan momentnya sendiri.
Tak peduli
apakah ia indah bagimu atau hanya semburat membosankan.
Senja
adalah saat yang tepat bagi rindu untuk menyiksaku dengan jarak
Senja yang
menghembuskan angin dingin mengingatkanku bahwa aku jauh dari pelukmu
Adakalanya
aku memejamkan mata,
Berharap
gurat kabur senyummu menajam dalam ingatanku.
Tapi
semakin kulumat pandang ingatan warnamu, semakin ia habis dalam kenangan.
Betapa
inginnya aku berada di sisimu.
Betapa
rindu aku dalam dekapmu.
Tugasku belum
selesai, kau tahu, bukannya aku menyerah.
Tapi
lihatlah, piala-pialaku mulai berdebu, kilaunya memudar.
Medali-medaliku
tidak mengerling lagi.
Aku rindu
binar di matamu.
Aku hanya
ingin kembali, membawa pulang rindu yang semakin mengental.
Keangkuhanku
mulai usang, keyakinanku kalah dalam pertaruhan
Aku hanya
ingin meletakkan egoku sejenak
Kemudian
menemukan kembali lengkung senyum yang meneduhkan itu
Sekadar
mencoba menikmati damai yang kerap kali kau tawarkan dalam secangkir kopi
Aku ingin
tertawa dan menangis bersamamu lagi
Mengembara
dalam waktu dan menjelajahi kota yang tak pernah tidur
Hanya
menggerogoti nafasku perlahan
Jika hanya
kota tertidur aku bisa menapaki pekarangan rumahmu,
Maka
selamanya aku hanya akan merindukan punggung hangatmu untuk kurengkuh.
riuh
rendah pesta, gegap gempita perayaan, kesenangan yang dijanjikan tak pernah
habis
aku bisa
menciptakan tawa palsu dari kesemuan ini
tapi
kehangatan dari pertemuan terakhir kita, itu yang mengukir senyum tulus.
Biar ku
letakkan beban di pundakku
Biar ku
simpan amunisiku
Biar ku
rebahkan tubuh lelah ini
Aku akan
memejamkan mataku, menikmati alun senandungmu,
Merasakan
kehadiranmu di sekitarku, dan aku akan tahu
Bahwa
aku telah pulang...
0 komentar:
Posting Komentar