Kamis, 28 Februari 2013

Pulang


Lukisan senja tak perlu kau pahat dalam ingatanmu,
Sekalipun ronanya ditelan malam, kerap kali senja kembali.
Hari ini, bagimu ia cantik, esok mungkin tidak.
Sekalinya ia mengagumkan, perhatianmu meluputkannya.
Tetapi bagiku, senja selalu berhasil menciptakan momentnya sendiri.
Tak peduli apakah ia indah bagimu atau hanya semburat membosankan.
Senja adalah saat yang tepat bagi rindu untuk menyiksaku dengan jarak
Senja yang menghembuskan angin dingin mengingatkanku bahwa aku jauh dari pelukmu

Adakalanya aku memejamkan mata,
Berharap gurat kabur senyummu menajam dalam ingatanku.
Tapi semakin kulumat pandang ingatan warnamu, semakin ia habis dalam kenangan.
Betapa inginnya aku berada di sisimu.
Betapa rindu aku dalam dekapmu.

Tugasku belum selesai, kau tahu, bukannya aku menyerah.
Tapi lihatlah, piala-pialaku mulai berdebu, kilaunya memudar.
Medali-medaliku tidak mengerling lagi.
Aku rindu binar di matamu.
Aku hanya ingin kembali, membawa pulang rindu yang semakin mengental.

Keangkuhanku mulai usang, keyakinanku kalah dalam pertaruhan
Aku hanya ingin meletakkan egoku sejenak
Kemudian menemukan kembali lengkung senyum yang meneduhkan itu
Sekadar mencoba menikmati damai yang kerap kali kau tawarkan dalam secangkir kopi
Aku ingin tertawa dan menangis bersamamu lagi

Mengembara dalam waktu dan menjelajahi kota yang tak pernah tidur
Hanya menggerogoti nafasku perlahan
Jika hanya kota tertidur aku bisa menapaki pekarangan rumahmu,
Maka selamanya aku hanya akan merindukan punggung hangatmu untuk kurengkuh.

riuh rendah pesta, gegap gempita perayaan, kesenangan yang dijanjikan tak pernah habis
aku bisa menciptakan tawa palsu dari kesemuan ini
tapi kehangatan dari pertemuan terakhir kita, itu yang mengukir senyum tulus.

Biar ku letakkan beban di pundakku
Biar ku simpan amunisiku
Biar ku rebahkan tubuh lelah ini

Aku akan memejamkan mataku, menikmati alun senandungmu,
Merasakan kehadiranmu di sekitarku, dan aku akan tahu
Bahwa aku telah pulang...

0 komentar:

Posting Komentar