Jumat, 18 Juli 2014

Pada Akhirnya Aku Hanya Berpegang Erat pada Kenangan

Mit,

Mataku udah kayak keran bocor.
Hal pertama yang kulakukan ketika tersentak bangun adalah cek hp dan dapat berita ternyata kamu udah pergi jauh. Pengen banget untuk nggak percaya. Aku langsung sibuk cek socmed dan akhirnya Coco telepon aku, dan aku emang harus nerima kenyataan kan?

Ada rindu yang menyesak tiba-tiba. Rindu yang aku tahu nggak bakal pernah kesampaian lagi. Rindu yang ditambah dengan duka, duka mendalam karena kehilangan.

Semua yang pernah kita lewatin bersama tiba-tiba menyeruak kembali ke permukaan. Semua yang aku ingat itu tentang masa-masa menyenangkan. Menyenangkan, Mit. Menyenangkan. Tapi aku malah menangis mengingatnya.

Aku nggak ngerti kenapa kamu terobsesi banget sama Spiderman. Suatu hari saat kuliah dulu, kamu pernah duduk di sebelahku. Pulpen kamu jatuh. Aku masih cuek nyatet bahan kuliah. Tiba-tiba aku dengar suara "pssst... pssst... pssst...", akhirnya aku nengok ke kamu. Kamu lagi sibuk ngarahin tangan kamu ke pulpenmu dengan jari tengah dan jari manis ditekuk ala Spiderman. Aku bingung. Akhirnya kamu beranjak dari kursimu dan mengambil pulpen itu sambil ngomong ke aku "duh... benangnya abis nih..." dan kejadian kamu niru-niru Spiderman gitu nggak cuma sekali. Hahahaha....

Dan kamu tuh selalu bangga jadi warga Tangerang. Kamu suka nyamber tangan aku terus ngomong "Eh, kita kan ATANG!" Keningku berkerut, "Apaan deh ATANG?" "Anak TANGerang!" Mit, sumpah itu singkatannya nggak kece banget! Hahahahaa.... Eh, skor kita impas ya, Mit. Aku udah main ke TangCity, kamu udah main ke WTC Serpong.

Kamu tuh orangnya gelian. Dipegang tengkuknya aja kegelian. Sampai suatu hari kamu nanya ke aku mau nggak aku setiap hari meluk kamu supaya gelinya bisa hilang pelan-pelan. Aku iyain permintaan aneh kamu itu, kamu pake acara nyebutnya "terapi pelukan" segala lagi. Oh please deh, Mit, kayak ada hubungannya sama ilmu Psikologi aja. Hahahaha.... Suatu waktu akhirnya kita absen pelukan, kamu nyamperin aku, "udah lama kita nggak terapi pelukan." Jadi kita berpelukan deh dan aku sekalian megang tengkukmu supaya kamu kegelian. Hahahahaha... Ngaruh nggak sih terapi buatanmu ini?

Kapan terakhir kali kita pelukan, Mit? Sekarang aku nggak bisa meluk kamu lagi.

Aku selalu menganggap kalau kamu akan menjadi ibu yang luar biasa kalau udah punya anak nanti. Aku selalu kagum sama perhatian kamu buat keluarga kamu, terutama buat adikmu yang paling kecil itu. Usaha kamu untuk mengisi peran seorang Ibu, karena mama kamu sudah menghadap Tuhan duluan. Bayangkan dong obrolan kamu sama aku soal pendaftaran SMP. Obrolan ibu-ibu banget deh Mit. Hehehe.... Tapi, sekalipun aku nggak bakal lihat kamu punya anak, aku selalu menganggap kamu memang luar biasa.

Support kamu juga yang nggak bisa aku lupain! Kamu bantuin aku saat aku nggak sadar kalau aku sebenarnya butuh bantuan, kamu mau negur aku karena kamu peduli. Mit, sukacita rasa syukur yang besar kepada Tuhan karena aku punya teman kayak kamu.

Aku selalu tahu kalau kamu itu perempuan tanggung, pejuang.... Tapi ini memang sudah saatnya kamu beristirahat, Mit. Istirahat setelah perjuangan yang panjang. Singkirkan letihmu ya, Mit. Nikmati saja kedamaian itu, karena itu adalah bagianmu.

Jangan turut serta dalam dukaku, karena air mata adalah tanda cinta untukmu.

Mungkin, seharusnya aku tidak perlu menangis karena kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Maaf ya, Mit, izinkan sekali ini saja aku berduka untuk kehilanganku, kehilangan teman yang luar biasa.

Aku janji setelah ini, aku simpan bagianmu yang ceria, bagianmu yang sehat. Itulah yang akan aku kenang. Aku janji setiap kali aku mengenang kamu nanti, aku akan tersenyum, aku akan bersyukur kalau aku punya teman seperti kamu.

Thank you for everything, Mit.
Thank you for laughter.
Thank you for caring.
Thank you for your support.
Thank you for always trying to deal with my neurotic side and my insanity.


Selamat jalan, Paramita Swasti Indah Rini. Kamu akan selalu hidup di hati kami dan akan selalu hadir dalam setiap kenangan.


Salam hangat dari sesama ATANG,


ISHY

0 komentar:

Posting Komentar