Halo!
Gue melewatkan 2017 begitu saja tanpa satu tulisanpun.
Jadi kayaknya gue harus minta maaf ke diri sendiri. Kudu belajar untuk punya komitmen dan disiplin yang tinggi supaya bisa persisten dan selalu bikin improvement. Not always being and doing the same shit everyday... Nggak cuma fokus sama yang seru dan habis itu dibuang begitu saja. And suddenly you lost your self in the process. Loh, kok jadi depresi gini.... :D
Okay. Just so you know, yes you! Whoever always reading my blog, kalau dilihat dari judulnya sudah pasti postingan ini berisi pemikiran gue yang hampir nggak pernah penting dan bermanfaat.
Jadi, gue nggak selalu melaporkan apapun yang terjadi di dalam keseharian gue di media sosial. Apakah karena gue sangat menjaga privasi gue? Nggak, lah! Hahahaha... cuma kan apapun yang terjadi sama gue nggak selalu menjadi hal yang signifikan buat hidup orang lain. Sama kayak apapun yang terjadi sama lo, belum tentu itu penting buat gue juga ya kan? :p
Sampai di sini, bagi yang ingin menutup tulisan ini dipersilakan. Hahahahaha...
Berubah. Masa-masa remaja dengan egosentrisme imaginary audience sudah menghilang dalam hidup gue. Menurut ngana aja, remaja maksimal itu 24 tahun and I'm 28 years old already. Ketika semua omongan dari orang lain udah hampir nggak selalu penting lagi buat gue. Apakah semakin tua semakin bebal? Nggak, lah. Cuma disaring aja. Sakit hati juga milih-milih kali, ah.
Jadi kemana semangat dan optimisme yang selalu digadang-gadang? Hilang, tergerus waktu dan zaman dimakan rutinitas 9 am - 9 pm.
Hehehehe...
Nggak kok. Gue masih suka Disney sampai sekarang. Did I really lose myself? Nggak juga. Jadi gini, seperti yang gue mention sebelumnya, banyak yang terjadi. Perspektif gue dalam memandang sesuatu menjadi berubah, prioritas gue berubah, cara gue menangani sesuatu berubah, mungkin gue sedikit lebih rasional, agak skeptis dan cenderung sinis. :'D Surem ya...
Gue melihat banyak orang. Ini yang pertama. Nggak dalam posisi untuk membangun hubungan pertemanan yang tulus, tapi terkait data dan analisis... oh yes I'm gudging you so hard! Hahaha... Banyak hal. Gue jadi tahu prinsip hidup orang lain, gimana cara mereka berpikir, dan menyelesaikan masalah. Jadi ya, udah lupa gimana caranya temenan tanpa perlu nebak-nebak ini orang tipe MBTI-nya apa... Lebay... :D
Mungkin gue harus cari lingkar pertemanan yang baru. Yang nggak ada hubungannya sama rutinitas gue saat ini. Tapi sebagai seorang INTJ, I hate people... X)) Nggak kok, tapi baca novel itu lebih menyenangkan. Tapi bahkan baca novel juga gue jadi tebak-tebakan tipe MBTInya. Surem yaaa... Kayaknya gue butuh detox.
Okay.
Tapi sesungguh dan sebenarnya, melihat segala sesuatu dari perspektif berbeda itu benar-benar mencerahkan. Dalam beberapa kasus, ketika gue berkenalan dengan seseorang di saat terakhir di tempat yang sama dengan gue (kalo ngawang-ngawang gini absurd yaaaah...XD), betapa gue berharap kenapa gue nggak kenal lo dari dulu ya... ngobrol dan bertukar pikiran kayaknya gue bakal nambah pinter.
Yang kedua.
Tahun kemarin, lupa detil waktunya kapan. Dengan sok tahunya gue bilang bahwa manusia tidak diciptakan untuk tetap berada di dalam kehidupan yang aman dan nyaman. Kita harus bisa berdamai dengan masa lalu, fokus terhadap saat ini, punya tujuan, dan harus mampu menghadapi tantangan. Itulah yang bikin kita tetap hidup sampai hari ini.
Bicara soal aman dan nyaman. Gue nggak pernah ngerasa Tuhan membiarkan gue berlama-lama dalam kondisi tersebut. Di sekali waktu ada kalanya gue merasa hal itu berat. Tapi di lain waktu, terkadang gue menguji... ok lebay, menilai diri gue sendiri. Apakah gue harus terus begini? Atau gue yang nggak bersyukur? Nggak jarang gue bikin peperangan di dalam diri sendiri. Apakah gue harus mencoba hal baru? Tapi at some point there's a feeling says that I'm not good enough.
Kadang gue merasa bagai kapal yang jangkarnya lagi di dalam laut, bahkan dengan segala ombang-ambing ombak gue nggak terseret kemanapun, karena jangkar itu yang bikin kapalnya tetap stay. It's comforting me and makes me safe. Tapi yaaah... di detik ini gue merasa, bukankah sudah waktunya untuk gue angkat jangkar itu? Udah waktunya gue berlayar? Karena seperti kata-kata jutaan quote yang gue search di Pinterest, bahwa tujuan utama kapal adalah untuk berlayar, bukan ngendep anteng di tepi pantai. Gue ngerasa jadi kayak Moana.
Hah... gue jadi ingat pembicaraan gue dengan boss gue "Ishy,". "Ya, Pak?" "Kamu kayak Korea yaaa..." ujarnya. Gue diam dulu sesaat kemudian bertanya "Drama?" berbarengan dengan boss gue berkata "Drama.". Sumpaaah ngakak... X))) Gue bertekad bakal mengatakan hal yang sama kalo ada yang berani-beraninya jadi drama queen di sekitar gue.
Yaaah, ini doa dan perjuangan gue saat ini sih. Sebut aja drama yang gue ciptain sendiri. Hahhahaaha... Tapi kan kalau lo butuh untuk mengembangkan diri gimana... tapi tapi tapi tapi... tapi-nya banyaaaaakkkk....
Ketiga. As times go by.... Gue belajar, walaupun gue nggak tahu apakah gue udah lulus dalam ujiannya atau nggak :D, it's okay to cut people from your life. Bukannya gue declare di koran harian bahwa gue memutuskan hubungan dengan orang-orang tertentu dan dengan segala hal yang berkaitan dengan orang itu sudah tidak menjadi urusan gue lagi. Emang sih katanya... kenapa orang-orang zaman dulu hubungannya lebih langgeng and less drama, karena pada saat ada masalah mereka memperbaiki masalah itu, bukan membuang dan mencari yang baru. Tapi kesini-sini, gue lebih bisa berdamai bahwa nggak semua hal dan nggak semua orang keadaannya harus sebagaimana mestinya, yes some of them are assholes dan gue nggak bisa berbuat banyak terhadap hal itu, termasuk memperbaikinya. Ketika gue marasa itu racun buat hidup gue, lebih baik gue jauhin. Kenapa gue harus stay kalo itu nggak bikin gue happy? Kalau itu cuma jadi sakit kepala doang? Nggak serta merta kalau ketemu orangnya gue bakal buang muka dan ngeludah juga sih. Tapi serius deh. Ketika seseorang bikin lo kehilangan kata-kata makian dan cercaan... dan lo cuma bisa memasang ekspresi muka datar dan menjerit dalam hati "FUNGSI LO DI DALAM HIDUP GUE TUH APA SIK???" Walaupun gue tahu, seganggu apapun orang itu, dia bisa tetap jadi role model.. bad role model... jangan sampai gue kayak dia. Hahahaha... Prove me that I am wrong.
Nggak usah dihitung ya. Udah kayak orang bener aja.
BERTANGGUNG JAWAB SAMA APA YANG LO UCAPKAN DAN APA YANG LO LAKUKAN!
Reaksi yang lo berikan terhadap aksi apapun yang lo terima, please, itu tetap tanggung jawab lo! Karena elo yang melakukan itu! Dan elo yang punya pilihan!
Kenapa emosi banget? Yah iyalah, tipe orang yang nyalahin orang lain untuk hal yang dia lakukan sendiri itu ngeselin.
Ketika sesuatu hal yang tidak menyenangkan terjadi, atau ketika dalam kesulitan, menyalahkan kondisi dan/atau orang lain terasa lebih mudah dan aman. Padahal nggak mau mengakui bahwa kita bertanggung jawab pada apa yang terjadi terhadap diri sendiri itu merendahkan diri sendiri.
Kita selalu punya pilihan; mau terus menerus merasa jadi korban dan mengasihani diri sendiri, menyalahkan kondisi atau orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita, atau menyadari bahwa kita punya kekuatan untuk memperbaiki hal yang salah dan mengubah keadaan.
Ngomong gampang nggak, Shy? Gampang dong. Dilakuin? Ya susah. Tapi kan ya gimanaaa... elo salah, terus nolak disalahin, nggak ngaku salah, dan jadi nggak tahu kalo lo salah? terus kalo nggak tahu apa yang salah, gimana mau memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi? You will always be the same shit like you were yesterday.
Ya gue juga belajar sih... Tahu nggak susah banget buat bilang "Ini salah gue. Next time nggak akan kejadian lagi. Gue perbaiki."? Padahal yaaa.... si A, B, dan C turut berpartisipasi buat kekacauan itu dan pelaku sebenarnya adalah si D. Padahal pengen banget bilang "Si D nih bangke banget jadi orang gitu doang masa bisa salah...". Tapi kenapa kita harus memikul kesalahan itu? Halah. Drama. Karena sebelum kejadian itu jadi bencana, kita punya pilihan untuk mencegah itu. Double check kek, apa kek... tapi nggak kita lakukan. Yaaahhh human error bisa dimaklumi selama nggak jadi kebiasaan. Dan sumpah gue nggak mau play victim. Ego gue terlalu besar buat bertindak seperti itu. I'm just human being... masih pembelaan diri yang menyedihkan.
Apalagi yaaa... sebaik-baiknya nasehat adalah teladan. Gue sadar kalau gue bisa menentukan peraturan ke orang lain dan bahwa gue punya hak untuk tidak memberlakukan hal itu ke diri gue sendiri. Dengan berbagai macam alasan termasuk gue punya kewajiban sendiri yang berbeda. Tapi dari apa yang gue pelajari dari buku Psikologi Perkembangan, bahwa pada akhirnya seorang anak akan melakukan apa yang dilakukan oleh orangtuanya, bukan apa yang dinasehatkan kepada dirinya. Coba buku Santrocknya dibaca lagi ya. Hahahaha...
Gue juga merasa bahwa tidak memaksakan orang lain melakukan sesuatu yang baik karena gue juga belum bisa melakukan hal itu rasanya nggak tepat. Jadi mengapa tidak bersama-sama saja kita saling mendukung untuk melakukan hal yang benar?
Tapi mungkin ini hanya keangkuhan gue, ego gue... kadang-kadang hidup tuh adalah game. Gue menolak untuk melanggar peraturan, pokoknya dengan aturan main apapun, gue akan memastikan bahwa gue bisa keluar sebagai pemenang dan gue bisa mendapatkan apa yang gue mau karena gue hebat. :)
Tahu teori apel busuk? Satu apel busuk dimasukkin ke satu dus apel-apel segar. Maka semua apel segar itu jadi busuk. Gue bukan apel. Gue orang. Karena orang lain salah, bukan berarti jadi sah buat gue untuk melakukan hal tersebut. Lo mikir kalau gue nyusahin diri sendiri? Emang. Hahahahaha....
Selanjutnya... jangan percaya hoax. Please. Rasanya memang menyenangkan ketika lo menemukan sesuatu yang mendukung apa yang lo percaya. It feels so right padahal nggak. Di dunia yang sinting ini apa salahnya sih mempertanyakan segala sesuatu yang lo baca atau dengar? Cari lebih dari 2 sumber tentang hal itu. Demi kewarasan lo sendiri.
Tapi ada kejadian lucu tentang hoax di group Whatsapp keluarga. Nyokap sharing sesuatu tentang berita hoax, dan sesegera mungkin gue langsung kirim berita benarnya. Terus suatu hari ada sms dari Menkominfo untuk regristrasi nomor HP. Ketika gue kasih tahu bahwa kita harus regristasi disuruh Menkominfo, nyokap nyahut "Ah, hoax itu..." Mom, please... -.-
Gue juga akhirnya benar-benar menyadari betapa pentingnya melihat dari berbagai sudut pandang dan belajar objektif. Nggak peduli lo punya kesan apapun terhadap sesuatu. Ada saatnya lo harus buang penilaian lo terhadap seseorang agar demi supaya lo bisa objektif. Nggak peduli bahwa dari sisi satunya persepsi lo itu match banget. Karena tetap aja... lo belum lihat semuanya... lo belum dengar semuanya.
Ada satu lagi yang pengen gue omongin. Tapi itu hanya bisa dicontohin dengan kata-kata Dr. Strange ke Iron Man di Infinity War. Tapi ntar dikira gue spoiler lagi...
Just in case you wonder tulisan gue ini kayak orang bener, apa yang gue tulis ini "perjuangan menuju" gue ya. Gue masih belajar untuk berubah. Cuma pengen ditulis aja. Habisnya gue belum nemu orang tipe N yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul gini. Hahahaahaha.... wtf Ishy...
Mungkin dua tahun dari sekarang, gue bakal mikir "yawlah tulisan apakah ini...".
Tapi mungkin sebaiknya, gue nggak boleh lupa... bahwa banyak perubahan yang terjadi di dalam kehidupan gue. Gue menyaksikan banyak hal. Bahwa di usia gue yang sekarang gue melihat orang datang dan pergi... bertemu orang baru, perpisahan, pernikahan, kelahiran yang baru, kematian merenggut orang-orang yang gue kasihi. Di saat semuanya sibuk merencanakan hidup mereka dengan melanjutkan studi atau membangun keluarga atau mengembangkan karir, ada seseorang yang terbaring memperjuangkan hidupnya. Dan ketika kehendak Tuhan ingin dia kembali kepada penciptaNya... Gue belajar bahwa semua rencana itu nggak ada artinya ketika maut menjemput. Gue belajar bahwa duka nggak pernah sirna. Gue hidup dengan hal itu. Gue harus bisa merayakan hidup gue dengan membawa duka itu, dengan cara bersyukur bahwa gue punya saat-saat yang membahagiakan dengan mereka. Gue harus bisa hidup dengan tetap membawa semangat mereka.
Hidup gue harus berlanjut. Gue nggak bisa di situ-situ aja buat bersedih.
Suatu hari, salah satu teman gue ngajak ketemuan di salah satu mall di BSD karena dia mau ngasih undangan pernikahannya. Ketika pulang (udah pulang aja ceritanya...), kami melewati satu restoran yang sepi. Gue menunjuk tempat itu dan berkata "Next time kita ngumpul di situ aja. Biar nggak rame banget..." Padahal harusnya gue curiga ya kalau sepi siapa tahu tempatnya nggak enak. :D Teman gue inipun menyahut "Boleh.". Gue berkata lagi "Ah, tapi kan bentar lagi lo mau nikah. Mungkin lo nggak bakal kongkow sama kita lagi sampai malam gini. Prioritas pasti udah beda." Dia ketawa, "Ya masih bisa mainlaaaah gueeeee.... tapi mungkin akan ada jamnya..."
"Things change." ujar gue lirih. Dia mengangguk. "Yes. Things change."
Hening.
"Hukum I Newton." ujarnya tiba-tiba. And I was like... WHATTTT??? "Gaya sama dengan nol?" gue susah payah mengingat itu tentang apa. Gue tahu dia emang jenius, tapi apakah kita harus memasukkan ilmu Fisika dalam urusan ngerumpi ini???
"Hukum kelembaman." ujarnya lagi. Tapi itu nggak menjelaskan apapun ke gue.
"Gue tahunya Hukum III Newton. Aksi sama dengan reaksi. Hukum karma." Kata gue. Mencampurkan teori dengan drama kehidupan. Dia menatap gue nyureng, "Bener juga lo."
"Jadi maksud lo apaan?" tanya gue nggak sabaran. "Benda yang bergerak akan selalu bergerak. Kayak kita, nggak pernah hanya diam di satu fase. Selalu bergerak. Selalu berubah." jelasnya.
Gue mengangguk menyepakati.
Seiring waktu, jargon klise murahan yang sebenarnya kenyataan itu adalah "satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri".
Banyak hal berubah. Kadang gue bersyukur kadang gue harus beradaptasi. Kadang gue dituntut untuk ngerti, bahwa perubahan itu baik. Dan kadang gue dipaksa buat mastiin sendiri bahwa gue berubah atau bergerak ke arah yang lebih baik.
Bahwa kadang berubah adalah suatu keharusan.
Serpong, May 1st 2018
0 komentar:
Posting Komentar