Dalam diam, ternyata aku merindumu. Siapa sangka aku bisa jatuh cinta, sekalipun tanpa objek. Banyak yang bisa kubagikan. Hanya saja, aku tahu kau tak akan pernah memintanya. Sudah berapa lama rentang jarak membuat kita hanya dapat saling memimpikan?
Gambaranmu. Jika warna dapat dilumat pandang, mungkin kini ia telah habis tertelan kenangan. Bahkan aku ingat setiap lengkung senyummu. Hanya saja, hangat pelukan tidak lagi terasa. Jarak yang kau buat memenjarakan pelukanku hanya sampai di hati saja.
Uluran tangan tak kau sambut. Kau bilang kau sanggup sendiri. Kemudian pergi. Terlalu angkuh untuk menoleh ke belakang. Terlalu bodoh untuk menyadari, aku mengikuti jejak air matamu.
Cuma aku yang bisa merasakan kelegaan rindu dalam pertemuan yang canggung. Pertemuan itu nikmat bagiku. Canggung, bagianmu, karena ternyata aku hanya orang asing bagimu.
Aku keras kepala. Menolak menangisi kepahitan. Untuk apa? Aku utuh dalam cinta. Bukan utuh karena memilikimu dengan alasan keegoisanku.
Kau bukan cintaku. Kau hanya sepotong rinduku.
Yang entah bagaimana, kubiarkan membeku dalam arus waktu. Kalau kau tak ingin menghangatkannya dalam pelukanmu, ku biarkan ia mengkristal.
Lihat, cantiknya rindu itu terpahat.
Ah, mengapa aku hanya membicarakan rindu?
Lalu kau?
Hanya rindu bagian dari dirimu yang aku punya, yang tak akan bisa kau renggut dari aku.
Kecuali...
Seandainya....
Misalkan.....
Kau mau....
Memelukku...
PS:
Kau tahu, air mata itu panas. Kristal rindu itu hanya akan mencair sementara. Kemudian mengajak air mata untuk membeku bersama lagi.
PSS:
Ternyata air mata dan rindu adalah kolaborasi yang menyakitkan.
0 komentar:
Posting Komentar