Rabu, 10 Agustus 2011

Mati Rasa

Siapa yang tega menjadikan kau sebagai nyawa sekaligus pusara rasa sakit?
Jahanamnya aku jika mengutuk Tuhan.
Betapa inginnya menjauh...
Seharusnya kau adalah segala obat, tapi kerap kali kau menyakitiku.
Sekalipun tak ada yang baik dariku untuk kau tinggikan, tolong jangan hina aku.
Aku tidak ingin jadi pemberontak. Aku juga tak ingin menelan kata-kata pahitmu.
Aku penasaran.
Damaikah hatimu ketika kerap kali kau menyalahkan aku atas kesalahan orang lain yang tidak pernah aku buat?
Legakah hatimu setiap kali kau maki aku untuk hal-hal yang tidak dapat kau lakukan?
Apakah kau merasa sukacita setiap kali kau berhasil menemukan puluhan makian yang kau rasa pas untukku?
Jika tidak, apakah itu salahku juga?
Kau tahu, betapa aku membenci diriku sendiri setiap kali aku menyadari bahwa kata dan perilakuku persis seperti dirimu? Ya. Aku takut pelan-pelan aku berubah menjadi seperti dirimu.
Berapa banyak lagi orang yang akan terlibat dalam lingkaran setan kita?
Betapa aku lihat sebenarnya kita selalu bisa lebih baik, tapi selalu saja aku tidak pernah lebih baik bagimu.
Apakah aku benar-benar tidak memiliki kebaikan apapun, sehingga setiap kesalahan karena khilafku membuat hancur hidupmu?
Dalam setiap amarahmu, selalu saja kau katakan seharusnya hidupmu bisa lebih baik bila aku tidak ada.
Apakah kau ingin malam ini aku berdoa agar Tuhan mengembalikan masa lalu sebelum aku ada?
Kau tahu, aku benci kalah. Aku terlalu angkuh untuk meminta Tuhan mengeluarkan aku dari permainan kehidupan ini. Aku tidak ingin menjadi lemah.
Aku egois kan? Itu yang selalu kau katakan. Aku tidak pernah tahu kau akan terpuaskan oleh hal-hal apa saja. Maka aku biarkan diriku memenuhi standarku sendiri.
Kekurangan orang lain yang kau timpakan padaku, bagaimana aku bisa mengubahnya? Maka aku memilih menjadi egois, karena aku tidak mampu mengubah orang lain sesuai dengan keinginanmu.
Maafkan aku jika aku harus mematikan semua inderaku atas dirimu. Karena aku tidak tahu berapa lama lagi aku sanggup bertahan menelan pil pahit darimu.












Tuhan, maafkan aku. Tuhan, ampuni aku...

2 komentar: