Kamis, 05 Januari 2012

Cerita

Seakan-akan kau berada di sini bersamaku, menikmati cokelat hangat saat tiap rintik hujan berlomba-lomba memuaskan dahaga bumi.

Kerap kali aku merasa utuh saat aku hanya menikmati waktuku tanpa interupsi yang berisik dari orang-orang yang menuntut perhatianku.

Aku menikmati bungkamku, tentu. Padahal kau sangat mengenalku, aku selalu punya jutaan cerita yang selalu siap meluncur bagai peluru kata-kata.

Aku akan menikmati perhatianmu, saat mata kita saling tatap. Aku dengan antusiasme yang selalu menyala dan kau dengan kesahajaanmu.

Dalam diam kau memahamiku, dan saat itu aku akan merasa dimengerti.

Tidakkah kau mencintai tiap ceritaku?

Kau tahu ceritaku selalu berakhir bahagia. Kau suka menyimaknya sekalipun kau pecinta realita, kau akan mengelus kepalaku sambil berkata "Bahagia itu bagianmu."

Aku selalu yakin dan kau selalu sadar bahagia memang bagian kita, kan?

Sekalipun aku selalu terburu-buru, aku akan teduh dalam tatapanmu. Bagai anak kecil yang kembali tenang saat diberikan mainan.

Kau selalu berkata perasaanku yang meluap selalu menular kepadamu, membuat kita mencintai hal yang sama.

Aku tahu kau adalah pendengar yang sabar, rela menunggu sampai isak tangis dan derai tawa yang kadang mengiringi cerita-ceritaku dan terlalu menginterupsi selesai.

Kau menyimak tiap tutur kata. Saat tiap kata itu habis, kau masih menunggu. Kau tahu bahwa perasaan-perasaan yang terikat pada tiap maknanya akan meledakkan aku jika aku tidak menyelesaikan cerita itu.


Kaulah kata-kata nyata yang kerap kali kulihat.

Kaulah kata-kata lembut yang kerap kali kuraba.

Kaulah kata-kata merdu yang kerap kali kudengar.

Kaulah kata-kata harum yang kerap kali kucium.

Kaulah kata-kata manis yang kerap kali kukecap.


Bagaimana lagi aku harus melantunkanmu, cinta?

0 komentar:

Posting Komentar