Mereka melarangku, tapi tetap saja aku menerjang tak peduli lebam.
Aku menentang gravitasi.
Mereka memaksaku tenggelam, tapi aku tak ingin hanyut terbawa arus.
Aku. Angkuh.
Mereka memandang rendah aku, tapi aku menegakkan kepala.
Lihat, aku masih berdiri di atas kakiku sendiri.
Bagaimana kalau suatu hari nanti ternyata aku yang kalah?
Setidaknya aku menyentuh garis finish.
Kalau aku menang?
Aku meninggikan kerendahan hati.
Siapa yang tahu kemana hidup akan membawamu?
Siapa yang tahu apakah esok akan lebih baik atau sebaliknya?
Siapa yang tahu bagaimana takdir akan mempermainkan kita?
Bersabarlah, tunggu aku di sana.
Aku terus menapaki jalan, tidak berpikir untuk berhenti.
Ntah bagaimana caranya, sekalipun harus melalui jalan memutar.
Tunggu aku.
Tunggu aku.
Karena aku rindu peluk hangatmu. Terasa aman.
Karena aku rindu tatap lembutmu. Terasa teduh.
Karena aku rindu gelak tawamu. Terasa hangat.
Karena aku rindu cumbu mesramu. Terasa nyaman.
Karena aku rindu belai kasihmu. Menyentuh sampai ke dasar hati.
Begitulah aku selalu mengingatmu.
Jika suatu hari nanti hanya airmata yang tersisa, jangan marah.
Tidak selamanya tangis itu duka.
0 komentar:
Posting Komentar