Ada saat-saat dimana kita teringat permainan yang kita nikmati ketika kita masih menjadi anak-anak. Disinilah saya, kembali dengan sebuah kisah tentang permainan masa kecil saya, namun menciptakan memori baru ketika saya berusia 22 tahun. :)
Siapapun anda yang mungkin sedang membaca kisah saya, saya ingin sekali membawa anda masuk ke dalam kelas saya, berinteraksi dengan teman-teman saya, dan kemudian mengagumi saya yang masih mampu mempertahankan kewarasan saya sampai detik ini. Hahahahaha....
Hari Selasa (27/3), waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Biasanya, saya sudah bergegas pulang supaya bisa naik kereta yang langsung menuju Serpong tanpa harus transit di Tanah Abang. Tapi hari itu, teman-teman saya melarang saya pulang sore. Tak lama, hujan turun cukup lebat sehingga saya urung untuk pulang. Kamipun bergossip nggak karuan. Saya sesekali jejeritan mengikuti (mengacaukan, tepatnya) petikan gitar Galih yang mengiringi nyanyian Budi.
Tiba-tiba melintas ide di kepala Uwi untuk mencoba main ping-pong. Salah satu ruang di lantai dua yang letaknya di ujung koridor kanan (kalau menghadap Barat) memang kami manfaatkan sebagai tempat olahraga ping-pong untuk mengusir kepenatan mahasiswa dan kadang dosen ikut main. Setelah Ajeng, Jay, dan Uwi selesai sholat dan Budi serta Galih mulai kalap nyanyinya, pergilah kami menuju kelas ping-pong bersama Fyryn, Imanika, dan Masyita. Ternyata, ada adik-adik kelas kami yang sedang main. Uwi memanggil bala bantuan berupa Kharis supaya kami bisa main. :D
Akhirnya permainan adik-adik kelas kami (di)selesai(kan). Kharis dan Masyita mengajarkan kami cara bermain ping-pong dan peraturan-peraturannya. Setelah itu kami diberikan kesempatan untuk mencoba sekaligus mempermalukan diri sendiri: Ping-pong a la bulu tangkis, Imanika yang "Ok, gue mukulnya pelan ya." kemudian terdengar bunyi bola yang membentur meja ping-pong cukup keras, dan servis yang berkali-kali menyentuh net. Setelah cukup lelah tertawa terbahak-bahak, saya memutuskan bahwa ping-pong tidak cocok menjadi media katarsis. Sayapun keluar kelas, ke ujung lorong. Menemani Fyryn yang sibuk mengambil foto matahari terbenam sambil berceloteh ratusan kali "Ih, sunsetnya bagus! Ih, sunsetnya bagus! Bagus ya?"
Kemudian Kharis dan Imanika ikut keluar kelas, saya sibuk mencoba mengintervensi Kharis dengan lagu-lagu Disney dan gagal (lagi). Kemudian Kharis dan Imanika pergi. Galih datang dan Fyryn masih sibuk mengambil foto. Galih menyanyikan lagu "What a Wonderful World"dan saya nyambung jejeritan.
Senja yang damai, jika dalam kata "damai" ada indikator jejeritan merusak lagu dan suara tawa yang berasal dari dalam kelas serta Fyryn yang berulang kali bilang "berisik!" kepada saya.
Kemudian datanglah Ajeng, ntah bagaimana kami berakhir dengan berfoto-ria yang kemudian disusul Uwi dan Jay. Sementara itu di dalam kelas, para cowok tampan -para cowok yang dimaksud adalah Galih, Fikar, dan Adit, sementara yang tampan adalah Masyita. Paham? :D- bermain ping-pong, kami berbincang santai.
Senja yang damai, sampai segerombol mahasiswi regresi mengacaukannya.
........
Kami sibuk mengobrol. Jay mungkin lelah berdiri kemudian memutuskan untuk berjongkok di antara saya dan Uwi. Uwi memegang kedua tangan saya kemudian mulai bernyanyi "Coca-Cola... Di sini ada pesta..." Dan dalam hitungan sepersekian detik seluruh ingatan permainan yang ada lagunya menyeruak dalam ingatan kami, sekejap saja kami menjadi ribut.
"Do mi ka do, mi ka do, es ka... Es ka do, es ka do..."
"Minyak kayu putih digosok di badan, bendera merah putih..."
"Bapak darimana, Pak? Dari Cibodas..."
"Putih-putih melati, Ali Baba..."
Kami sibuk bernyanyi dengan lagu masing-masing... sampai seketika "STOP!!! Berhenti! Ganti... Ganti lagu yang lain!! Jangan yang itu! Stop! Ganti... Ganti... Jadi ingat... Gue takut." seru Ajeng sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengarahkan tangannya ke Uwi agar berhenti menyanyi. Jay mencoba bernyanyi lagi, kemudian Ajeng kembali berkata "Stop! Stop! Ganti lagunyaaa...."
Kami mendadak terdiam. "Aduh... Gue jadi keinget nih. Gue takut." Muka Ajeng pucat, campuran panik dan ketakutan. Saya benar-benar bingung, saya melihat ke sekeliling, mungkin Ajeng dan Uwi melihat 'sesuatu'? "Ajeng kenapa?" tanya saya. Saya mendengar Fyryn dan Imanika menanyakan hal yang sama beberapa kali. Ajeng menggumam tidak jelas. "Ya udah. Sholat aja deh. Yuk!" saya mendengar seseorang berkata tapi saya tidak tahu siapa. Saya fokus ke Ajeng.
Kemudian Uwi mulai menyeringai, terkekeh, dan tertawa terbahak-bahak. Cuma dia sendiri tuh yang tertawa. Ajeng masih bicara, tapi saya tidak menangkap apa yang dia ucapkan. Tiba-tiba Uwi berlari dengan menghentakkan kaki dan menimbulkan suara yang keras, tepat! Uwi sedang berusaha membuat semua panik. Ajeng ikut berlari. Mereka berhenti di depan pintu kelas ping-pong. OKAY, AJENG! LO TUH KENAPA SIH?! saya berpikir. Ajeng mendobrak pintu kelas ping-pong. Uwi makin kencang tertawa sampai membungkuk memegang perut. Kami menghampiri mereka berdua. Saya mendekati Ajeng, kemudian melirik Uwi yang masih sibuk ngakak. "Kenapa sih?" tanya saya. "Dia takut..." seru Uwi di sela tawanya. Anak-anak cowok yang sedang main ping-pong sampai kaget saat Ajeng mendobrak pintu. Adit menatap Ajeng, tampak cemas berkali-kali bertanya "Kenapa sih? kenapa sih?". Ajeng tidak menjawab juga. Mukanya masih pucat. "Ya udah yuk, sholat aja." saya mendengar suara Fyryn. "Ayo balik ke kantin aja." ajakku. "Tapi itu gelap! Hidupin dulu lampunya." Ajeng menunjuk lorong yang gelap. "Ya udah kita gandengan tangan aja berenam." usulku. Tapi Ajeng ngotot nggak mau beranjak. Akhirnya Imanika yang sedari tadi bengong dan bingung melihat Ajeng, pergi menghidupkan lampu yang ada saklarnya di seberang lorong. "Nih. Lo gandengan sama Ishy aja." kata Uwi. Tak lama lampu hidup dan Imanika kembali bersama kami. "Gue sama Iman aja." kata Ajeng. Adit yang melihat adegan ini iseng berkata "Hati-hati ya, jangan ngelihat ke arah HMJ." kami mendelik, ngeri juga melihat HMJ yang gelap. Kemudian Ajeng menggandeng tangan Iman dan berjalan buru-buru. Diikuti Fyryn. Saya dan Uwi bergandengan tangan. Jay yang sedari tadi tidak saya sadari keberadaannya nyempil di tengah-tengah saya dan Uwi, "Gue di tengah-tengah dong!" katanya sambil menutup wajahnya dengan kipas agar tidak melihat ke arah HMJ. Saya dan Uwi jadi tertawa.
Sesampainya di kantin, kami berkemas karena mereka memilih sholat di mesjid. Saat saya memakai tas dan mereka merapikan barang-barang mereka, saya bertanya ke Ajeng yang masih pucat. "Kenapa sih, Jeng?" Ajeng menempelkan tangannya ke pipi sambil menggelengkan kepalanya, menolak cerita. Saya masih terus bertanya, dan akhirnya Ajeng bicara juga. "Gue tiba-tiba takut ingat liriknya. terus gue jadi takut. Gue lihat pohon jadi serem, Shy!" lirik apa? Kenapa takut? Kami jelas bingung. "Yang ituuu... 'Pak Camat lewat kuburan'..." "HAH?!!" sontak kami berseru, "'Pak Camat lewat kuburan' yang mana siiik?" Ajeng menjawab "Yang Pak Camat jualan tomat, yang beli harus hormat. Pak Camat lewat kuburan..." "HAH?!! SALAH! 'Pak Camat pake kacamata', Jeng!" (benar-benar pembicaraan absurd abad ini) "Nggak ah! Lewat kuburan!" Ajeng masih ngotot. Tapi kami berlima ngotot lirik yang benar adalah 'pake kacamata'. "Oh, salah ya? Yaaah... Gue udah takut, ternyata salah lagu...!" kami jadi tertawa. "Yang ini kali maksud lo 'mama pergi... papa pergi... aku sendiri...'" ujar Jay. "Nah! Yang itu ada yang lewat kuburannya." seru kami. Setelah berhasil menemukan lagu yang pas dengan lirik kuburan, kami pulang dalam damai... THE END
Inilah salah satu hari paling ngawur dalam hidup saya. Sibuk melakukan hal-hal kecil yang tidak penting, tapi siapa sangka malah jadi harta berharga di ingatan saya.
Saran saya, berkenalanlah dengan Ajeng. Dia tengil dan nggak pernah tahu alasannya disebut tengil. :D Mungkin dalam kisah ini, dia tidak kelihatan seperti itu. Tapi percayalah, ketika dia memulai gayanya, kamu akan shock menemukan diri kamu membayangkan ngulek Ajeng pakai ulekan. (habis ini Ajeng pasti protes karena dikatain! :D) Tapiiii... Ajeng juga teman yang menyenangkan untuk diajak sharing dan menggosip! :D Ajeng punya caranya sendiri untuk membuat suasana meriah dengan guyon "orang kaya"nya yang ngawur dan nggak masuk akal!
That's the reason why we loveeeee Ajeng.... :)
Ah! Iya... Melihat Fyryn yang sibuk ambil foto, saya jadi ikutan memotret dengan kamera hp. Ini dia! Pemandangan dari lantai 2 UNJ Halimun.
Ini salah satu senja terbaik Halimun. Saya bisa menyebutkan ribuan tempat yang lebih baik daripada sebuah gedung tua dengan keramik lantai 2 nya pecah dan cat tembok yang mengelupas. Tapi tidak banyak tempat luar biasa yang bisa menjadi 'rumah', yang menjadi tempat saya untuk pulang. Tempat dimana saya bisa berbagi dengan orang-orang yang saya kasihi. Dan di sini, tempat saya menikmati senja sambil menyanyikan lagu "What a Wonderful World" dengan suara lantang. :)) Saya tahu, ini bukan masalah tempat secara fisik semata. Ini mengenai dimana hati saya berada dan dengan siapa saya bisa melagukan sukacita yang saya rasakan. :)
akuu sukaa bangett bacaaa iniii... ajeng bakalan seneng maah image "orang kaya"nya sudah mendunia mayaa.. :D *ij
BalasHapusYohhaaaa, Indri... Mungkin, kapan-kapan gue bisa ceritain guyon "orang kaya"nya itu! :D :D
Hapuslove is you
BalasHapus- FR
I AM, Ryn! Bahahahahahakkk....
Hapus