Mencintai hujan yang meringankan tugas menyiram tanaman dan memuja terik matahari yang mengeringkan jemuran. Terlalu banyak yang harus disyukuri. Ya kan? :)
Selasa, 09 Oktober 2012
I’m Just Human Being #2: Ngawur
Well,
Masih menganggap "cuma manusia biasa" sebagai pembelaan diri yang menyedihkan.
Mau mulai darimana ya? Bingung.
Gue pernah ingat seorang teman yang pernah bilang, "Kita punya hak mengatakan 'tidak' untuk mengerjakan kerjaan kita." Nggak, ini bukan alasan yang gue pake buat berhenti bekerja. Tapi, hanya sekadar ingin menyisihkan waktu sejenak buat nulis. Ngeluh itu enak loh, walau nggak ngurangin beban dan malah bikin makin capek. Haha.... Gue selalu yakin kok bisa mengatasi apapun yang terjadi ke gue, hanya saja pilihan selalu ada di tangan gue kan ya? Pilihannya adalah gue mau nambahin drama di masalah gue atau nggak. :D Shit.
Terusss...
Beberapa hari yang lalu, ada kebaktian remaja di rumah gue. Gue hanya duduk-duduk unyu aja dengerin mereka diskusi dan kerap kali keluar dari topik diskusi, sampai-sampai pada lupa apa yang seharusnya dibahas dan ketika gue tanya lagi bahas apa, bener! Nggak nyambung. Selesai kebaktian, setelah para remaja itu (eh, serius deh! Nulis "remaja" dan gue bukan bagian dari kata itu ngebuat gue merasa tua. Banget.) ngobrol sebentar sama bokap, gue ikutan ngobrol bareng mereka, menceritakan tentang pengalaman gue waktu ikut kebaktian remaja dan event-event apa saja yang pernah gue ikuti. Gue nggak bisa menceritakan satu event dengan tuntas tanpa disela minimal tiga kali dengan komentar yang sama sekali nggak nyambung. :D :D Oh, gue bukan mau mengkritik kemampuan nggak nyambung mereka. Tapi, beneran deh, gue tercengang melihat remaja-remaja itu dengan ide-ide yang loncat-loncat kayak gitu.
Dan dengan kebaktian kayak gitu, cerita-cerita masa-masa gue aktif, gue jadi mengenang lagi semua momen-momen yang mengisi hampir seluruh masa remaja gue (oh, sial. Gue bener-bener ngerasa tua sekarang.). Ahh, kangennya. Boleh kan ya, sesekali melihat ke belakang. Bagaimana dulu gue labil. Kenapa dulu gue gini dan nggak gitu aja, keputusan-keputusan yang seandainya bisa gue ubah. Dan mungkin sekarang akhirnya berbeda? Bukan mau menyesali sih, cuma peringatan aja, cuma pembelajaran. Mau berubah jadi lebih baik ya bagus. Tapi lucu gak sih, saat itu lo menikmati hari-hari lo, tapi ketika semua berubah jadi masa lalu, kebanyakan "seharusnya dulu gue gini, gue gitu".
Sebenarnya, gue nggak niat bahas ini. Haha. Kalo dibiarin ngalir, tuh, malah jadi ngalor ngidul ya.
Jadi, di antara semua topik random luar biasa dan nggak tahu bersumber darimana, tiba-tiba Psikologi mengalir ke permukaan. Gue benar-benar nggak ingat bisa ngebahas Psikologi karena apa. Flight of Idea. Pokoknya tiba-tiba aja si Josh mengatakan bahwa gue mahasiswi Psikologi. Setelah mereka tahu gue belajar Psikologi, ada yang berkomentar "Gue juga pengen jadi psikolog!", "Teman gue juga pada pengen ngambil Psikologi!", dan "Kakak gue pengen masuk Psikologi." Dan pertanyaan "kenapa Psikologi" naik ke permukaan. Macam-macam sih. Yang gue ingat sih "Soalnya pengen bisa ngebaca kepribadian orang". Jawaban itulah yang bikin gue pengen, seandainya bisa dan kelihatan, menaikkan sebelah alis gue. Bikin gue pengen tanya balik, "Terus kalo lo bisa baca kepribadian orang, lo mau apa?" Terus, mereka nanya ke gue "Kalo Kakak masuk Psikologi karena apa?". Gue jawab sambil nyengir "Berobat jalan." Mereka diam dong. Yup! They didn't get my joke! Bahahahahahahahangke.
Beberapa waktu lalu, ada teman nyokap yang nanya perkuliahan gue. Dan gue jawab lagi nyusun skripsi. "Berarti semua mata kuliah udah selesai?" tanya beliau. "Sudah, Tante." Jawab gue. "Berarti udah bisa baca wajah orang dong?" tanya beliau lagi. Di sinilah gue ngakak dan dia kelihatannya merasa terhina dengan respon gue. Situasipun menjadi canggung dan gue memutuskan pergi ke dapur.
Terus, sepupu gue: "Lo belajar Psikologi ya? Wah, harus waspada gue!"
Teman main gue: "Om gue bilang kita harus hati-hati sama orang yang belajar Psikologi. Soalnya mereka bisa baca kita." Did that mean we can not be friend anymore? :D
Kenapa harus takut pikiran lo bisa dibaca orang, sih, hm? :) Kenapa harus khawatir kepribadian lo yang sebenarnya terkuak? Yang nggak habis pikir, dapat ide darimana orang yang belajar Psikologi saingan sama dukun atau paranormal? Woy!! X)) Coba dibahas pertanyaannya deh. Kenapa takut hayooo? Kenapa khawatir? Apakah karena pikirannya sibuk di hal-hal seperti merencanakan pembalasan dendam (tsaaah...), atau mikirin gimana caranya dapat uang jajan tambahan, atau mikirin negara, atau pikirannya kebanyakan ngabisin waktu di comberan jadinya takut tertangkap basah? :D atau gak pernah mikir sama sekali? :) Kepribadian nih sekarang! Kenapa? Pakai topeng ya? :D Iya, topeng. Or whatever you name it. Manner, sopan santun, faking good or bad, muka dua. Kita mencoba menutupi sesuatu, misalnya kekurangan kita, supaya gak ada yang tahu. Yang mereka tahu cuma kita sempurna. Gitu ya? :) Sampai beberapa orang yang sadar sepertinya ada yang nggak natural dari tingkah laku lo, ketika lo menjaga sopan santun seperti mencoba bersimpati dan orang berpikir simpati lo nggak tulus? Sedih, ya. Padahal menurut lo yang lo lakukan adalah apa yang seharusnya lo lakukan. Atau lo harus kelihatan bagus karena orang lain menuntut demikian? Topeng lagi. Jadi lirik lagu Peterpan yang sekarang ganti nama jadi Noah: "Tapi kudapat melangkah pergi, bila kau tipu aku di sini~... buka dulu topengmu~... biar kulihat warnamu~..." terasa menyudutkan? Siapa yang menipu, kan itu tuntutan. Gimana dong? :) Ketika harapan orang lain berlebihan terhadap kita, dan kita berjuang untuk memenuhinya, di sisi lain kok rasanya 'bukan gue banget, ya?'. Atau suka-suka lo mau jadi apa, hidup kan punya sendiri-sendiri, atur masing-masing dong! Ketika lo udah jalani hidup sesuai yang lo mau, orang-orang yang lo anggap rese menjauh perlahan, dan seketika lo ngerasa hampa di saat lo mengecap kebebasan. Feels like you want to escape from freedom. Contoh lainnya, ketika tanpa sengaja 'topeng'nya terlepas, lo merasa 'telanjang'; nggak punya perisai; ketakutan bakal dijatuhin orang. Ketika nggak sengaja ada orang yang berhasil menemukan celah kelemahan lo, lo berubah jadi defensif atau bahkan balik menyerang.
Atau gini nih. Ketika lo nggak bisa menerima kenyataan; ketika lo ngelampiasin kemarahan lo ke objek lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan masalah lo; ketika lo dilanda masalah berat dan yang lo lakukan adalah naik ke kasur ortu lo, tidur di tengah-tengah mereka, seperti yang lo lakukan waktu berusia 5 tahun di malam-malam mimpi buruk; ketika lo takut setengah mati, tapi lo pura-pura berani sampai mau mati sebenarnya; ketika lo maki-maki orang lain padahal lo lebih layak dapat makian itu; ketika lo lebih sering menyanyikan lagu galau karena lebih bisa diterima ketimbang nangis di pojokan kamar setelah lo diputusin cewek lo, padahal sedihnya udah kayak ditinggal mati.
Defense mechanism.
Nah, coba dibandingkan dengan:
Ketika lo yang melihat ada orang yang pura-pura nggak peduli gossip santer yang bilang pacarnya selingkuh?
Ketika lo dimarahin habis-habisan, setelah itu orang yang marahin lo curhat mobilnya baru aja diserempet motor?
Ketika lo lihat tetangga lo pulang ke rumah ortunya setelah berantem dengan istrinya? :D
Ketika lo nanya sama teman lo "Lo naksir X, ya?" dan dia menjawab dengan histeris "NGGAK KOK! NGGAK MUNGKIN GUE NAKSIR X! DIA TUH NYEBELIN WALAUPUN JAGO RENANG, JAGO BAHASA SWAHILI, IKUT OLIMPIADE SAINS, SUKA BERCANDA, KALO SENYUM JADI CAKEP, SUARANYA SEREK-SEREK SEXY, JAGO MAIN OKULELE, TANGGAL LAHIRNYA 30 FEBRUARY, MAKANAN FAVORITNYA TEMPE MENDOAN, SUKA WARNA KUNING!! SUMPAH, GUE NGGAK NAKSIR! DEMI TUHAN! KENAL DIA SEKARANG AJA GUE NYESEL KENAPA NGGAK DARI DULU... Eh."
Ketika lo yang dimaki-maki, tapi kok yang maki-maki kayak lagi pengakuan dosa?
Ketika lo mendengar lagu-lagu Glenn Fredly yang galau karena putus itu?
Tahu nggak gimana rasanya ketika lo paham apa yang memotivasi seseorang melakukan berbagai macam hal tapi lo nggak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya?; ketika lo tahu alasan mereka dan mengerti tetapi orang lain menghujat dan lo nggak bisa mengatakan yang sebenarnya?; ketika lo yang menjadi sasaran kemarahan seseorang hanya karena ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan yang bersangkutan?; ketika lo tahu banget seseorang butuh pertolongan tapi masih sok kuat? Apalagi lo tahu mereka butuh seseorang yang membantu dan cara yang tersedia itu adalah ikut terseret masalah. Lo tahu harus melakukan hal yang benar tapi kok rasanya berat banget?
Kadang mengenal diri sendiri kok terasa sulit, gimana bisa mencintai dan menerima diri sendiri apa adanya?
Manusia emang kompleks sih ya. Namanya juga manusia.
Gue jadi pusing.
Oh iya, kalo ketemu orang ngapain awal-awal langsung pengen tahu kepribadiannya? Menurut gue sih, kadang kita menemukan teman yang langsung klik justru lewat pembicaraan santai misalnya punya minat sama. Kalo gue udah ngomongin Disney mana gue peduli orangnya kayak apa kalo minatnya sama? Definisi teman yang asik juga subjektif. Dan agak sulit buat gue untuk menjalin pertemanan yang apa adanya saat gue mulai menganalisis. Kalo berinteraksi dengan orang tanpa penasaran sama masa kecilnya, masa remajanya, trauma event, precipitatinghalah... surprised sendiri dengan hal-hal kecil yang "ih! Lo gini toh aslinya! :D". Jadi udahlah yaaa, apa adanya saja.
Dan... nggak. Gue nggak punya jawaban untuk semua kemengapaan 'ketika-ketika' itu. Kalaupun gue tahu, gue nggak akan kasih tahu. Itu yang harus kita selesaikan sendiri. Karena orang-orang akan selalu ada di sekitar kita untuk membantu, tetapi pelajarannya selalu menjadi milik kita. Kalo nggak salah, ini kata-katanya Melody Beatie (gini bukan tulisannya?). Punya keberanian untuk menerima kenyataan dan menghadapi masalah langsung aja udah hebat banget sih menurut gue.
Gue nggak tahu lagi bahas apaan nih.
Jadi, "manusia biasa" mungkin pembelaan diri yang menyedihkan, tapi akan benar-benar menyedihkan kalau kita nggak pernah melakukan yang terbaik.
Dan soal baca kepribadian, percayalah, kepribadian itu termanifestasi dalam perilaku dan kita belajar mempertajam observasi dan wawancara. Sekian. :)
*sementara itu Freud dan Fromm berdentam-dentam di kepala gue. Akur ya.*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
tergelitik mmbca ini... dan gw lngsung trsnyum lebar slesai bca ini.. =)) *silahkan dicari tau mengapa.. if u would like.. kekekeke~~~
BalasHapuserr... gue tanya langsung aja, laaah, sama lo.. X)
Hapus