Senja meredup, mengalah pada malam yang merindukan bintang. Berapa ribu rotasi bumi telah membunuh waktu tanpa kehadiran kalian? Langit masih sama. Tidak terjamah. Tidak mampu mengikis rindu yang perlahan meruntuhkan ego-ku.
Aku ingin berlari menghampiri kalian. Mereguk secangkir cappuccino hangat yang meleburkan sekujur lelah. Melenyapkan letih dalam gelak tawa yang riang.
Tahukah betapa angkuhnya aku berdiri, menantang matahari yang menguasai hari, tertawa congkak pada hidup dengan nyawa kian meredup? Aku berlari menyangkal rasa lelah, meredam air mata di sudut hati. Dunia tidak akan melihatku ringkih, terpaku dalam derita.
Kerap kali aku memaki sunyi, berharap ia pergi karena dikalahkan rindu. Rindu yang terlalu besar, mengisi semua kekosongan tanpa harus menyisakan sunyi. Tapi sunyi kerap kali mengetuk pintu hatiku dan membuatku berpikir tentang kalian yang membuat rindu semakin menyiksa, menyesak nafasku.
Aku ingin memeluk langit, biar hampa dalam genggamanku. Atau izinkan sayap-sayap memelukku. Dapatkah kehangatan menyingkirkan rindu?
Tapi
Ntah mengapa, tiap kali aku terjatuh dan ingin mengakhiri semua, semburat tipis memori memenuhi kepalaku. Tersentak karena rindu bisa membuatku bertahan. Melintasi jarak, perjalanan waktu hanya dapat mendekatkan kita.
Di dalam penatnya hari, bekunya rintik hujan, panas menyengat, dan hirur pikuk yang membosankan... mereka yang kurindukan itu membuat hari berakhir dalam senyum damai, yang meskipun terburu-buru, tapi aku tahu dahaga itu akan dipuaskan.
Merekalah tempatku untuk pulang...
Mengikis rindu yang terasa konyol...
Menertawakan pahitnya hidup...
Menghitung tiap keping berkat...
Betapa duka tak ada artinya lagi...
Di penghujung hari, dalam hangatnya secangkir cappuccino, mengalir cerita yang tak akan pernah habis. Ketika seluruh rasa seolah bagian dalam prosa, hidup hanyalah alunan dongeng.
Betapa aku menyukainya. :)
0 komentar:
Posting Komentar