Sejauh ini, gue masih terus berpikir. Apakah "Gue cuma manusia biasa" adalah sekadar pembenaran diri yang menyedihkan atau memang begitu adanya. Well...
Sumpah, gue deg-deggan mau posting beginian.
Pertama kalinya gue jatuh cinta pada Psikologi adalah saat gue masih kelas 1 SMP, gue membaca sebuah novel karya Sidney Sheldon yang judulnya "Tell Me Your Dreams" yang mengisahkan tentang kepribadian ganda. Baca deh! Bagus. Saat itu juga gue memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi kalau nanti kuliah. Alasannya adalah gue pengen ngelihat orang dengan kepribadian ganda. Cuma ngelihat aja. Sepele banget ya? Hahahahaha... Secara gue juga merasa kurang mampu untuk kuliah kedokteran dan mengambil spesialis kejiwaan. Jadinya ke Psikologi saja deh.
Begitu masuk jurusan Psikologi (sebenarnya kisah ini juga penuh liku, kalau niat gue pasti bahas.) WOW!!! Gue benar-benar suka dan gue merasa ini jalan gue! Ini tempat gue berada.
Gue akui, sebelum gue masuk jurusan Psikologi gue sangat senang kalau ketemu dengan orang-orang yang mendalami Psikologi. Sebenarnya sampai saat ini juga masih suka. :D
Tapi sesukanya gue, se-excited-nya gue dengan mereka, gue nggak pernah berpikir 'bagaimana mereka seharusnya dengan ilmu Psikologi mereka'.
Sampai gue sendiri bingung sama nyokap gue yang suka banget ngomong "kamu kan psikolog (aminin aja..), kok gini..." sampai suatu ketika gue menjawab "Ih, Mama gimana sih, mama tuh nyekolahin (iyeee, tahu, seharusnya kuliah) aku tuh di Psikologi, bukan di sekolah kepribadian. Psikologi itu mempelajari orang apa adanya." eh, tapi nyokap gue tetap mengomel sambil ngungkit Psikologi.
Gue sampai berpikir, kasihan ya Psikologi, terjebak dalam pencitraan baik hati, ramah tamah, memahami, bisa baca pikiran orang (eh?)...
Gue nggak ada niat menjelek-jelekkan sesuatu apapun, serius.
Tapi, terkadang tidak mudah menghadapi orang-orang yang selalu menuntut bagaimana lo seharusnya, padahal lo juga butuh diterima apa adanya.
Pertama kali gue menjejakkan diri di Psikologi, gue ngambil mata kuliah Psikologi Umum yang pada saat itu memang udah dipaketkan mata kuliahnya.
Satu kejadian yang gue ingat sampai detik ini adalah ketika seorang teman menanyakan satu hal ke dosen gue "Bu, gimana cara ngatasinnya jika ibu sebagai psikolog harus memahami orang lain padahal ibu juga ingin dipahami?" eh, dosennya nyengir loh. Terus dia menjawab dengan mengatakan bahwa ia adalah anak bungsu yang pengennya dimanja dan di lingkungan keluarganya sudah maklum dan memahami dia. Gitu jawabannya. Kesimpulannya, dia bisa jadi psikolog dan bisa jadi dirinya yang apa adanya.
Entah kenapa gue jadi memisahkan 'bagian diri' gue seperti itu juga. Yang pertama gue sebagai mahasiswa psikologi, yang kedua gue sebagai diri gue yang apa adanya. Bukan berarti gue gangguan kepribadian ganda. Ini seperti sisi objektif dan subjektif yang gue yakin setiap orang pasti punya. Tapi sama halnya dengan orang lain, objektif dan subjektif itu suka ngeblur jadi satu.
Bukti konkretnya adalah saat gue dan teman-teman gue lagi ngegossipin orang. Eitss! Gossip itu baik untuk kesehatan mental, tapi bikin moral porak-poranda... Haha! Jadi begini ceritanya, ketika kita lagi ngegossipin artis...
A: Eh parah! Si artis ini kan gini... gini... gini...
B: Serius lo? Kok bisa ya?
C: Eh, dia kan dari keluarga broken home, emaknya bla... bla... bla...
D: Kasian yaaa...
E: Pantesan dia kayak gitu. Tapi kan orang itu seharusnya ada system belief... blaaa... blaaa...
F: Oh, iya yaa. Ditambah lagi id dia... ego dia... super ego dia...
Semua: Iya bener yaaa...
Gue: Yak... jadi kapan kita bisa ngegossip dengan tenang tanpa harus menganalisis?
Semua: (nyengir)
KITA LUPA GIMANA CARA NGEGOSSIP SESUAI KAEDAHNYA!!!
Gue ingat salah satu tweet teman sekelas gue, Rury a.k.a. Uwi, yang bilang "bukan karena psikolog berarti harus jadi pribadi yang sempurna kan? :-)"
Coba cari, siapa sih di dunia ini yang selalu hidup aman sentosa terus-terusan? Nggak pernah punya masalah? Hidup lempeng aja terus... Nggak ada yang dipikirin... Kalau ada, sini bawa ke hadapan gue! Biar gue ketawain "eh, boring banget ya hidup lo!" hahahaha!
Salah satu dosen gue pernah bilang kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang bisa menerima sisi negatifnya. Karena nggak ada orang yang benar-benar sempurna kepribadiannya. Semua orang punya sisi inferior di diri mereka. Mereka bisa memilih untuk tenggelam dengan kelemahan mereka atau berjuang untuk mencapai superioritas mereka.
Nggak jarang gue temukan orang yang suka menyalahkan orang lain untuk apa yang tidak bisa atau telah ia lakukan. Paling sebal kalau gue yang dijadikan sasaran. Gimana caranya mau membenahi diri kalau belum bisa melihat dan menerima kekurangan diri sendiri? Teman sejurusan gue, Galih, pernah bicara "Kalau nggak tahu apa masalahnya, gimana mau ditembak pake solusi?"
Nggak penting siapa elo, apa jurusan lo, bokap lo gajinya berapa, elo masih sodaraan sama Justin Timberlake atau nggak, pacar lo anak gaul taman lawang atau taman suropati, kakek lo pencetus perang dunia ketiga atau bukan... Tuh kan! Gue ngelindur...
Berbahagialah kalau lo memiliki orang yang mencintai dan menerima lo apa adanya. :)
Tapi yang terpenting, bersyukurlah kalau lo udah mampu menerima kekurangan diri lo apa adanya tanpa harus nyelekit kalau membela diri dan lo udah bisa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.
Salah satu perkataan dosen gue yang gue kutip dari tweetnya Uwi (@ruriirurii):
Sepenggal lirik favorit gue dari lagu Superman-nya Five for Fighting
Mungkin kita cuma manusia biasa, tapi tetaplah berusaha menjadi yang terbaik yang kita bisa dengan menerima kekurangan kita dan berusaha menakhlukkannya. Sebagai seseorang yang mempelajari Psikologi, saya juga sedang berusaha... :)
Sumpah, gue deg-deggan mau posting beginian.
Pertama kalinya gue jatuh cinta pada Psikologi adalah saat gue masih kelas 1 SMP, gue membaca sebuah novel karya Sidney Sheldon yang judulnya "Tell Me Your Dreams" yang mengisahkan tentang kepribadian ganda. Baca deh! Bagus. Saat itu juga gue memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi kalau nanti kuliah. Alasannya adalah gue pengen ngelihat orang dengan kepribadian ganda. Cuma ngelihat aja. Sepele banget ya? Hahahahaha... Secara gue juga merasa kurang mampu untuk kuliah kedokteran dan mengambil spesialis kejiwaan. Jadinya ke Psikologi saja deh.
Begitu masuk jurusan Psikologi (sebenarnya kisah ini juga penuh liku, kalau niat gue pasti bahas.) WOW!!! Gue benar-benar suka dan gue merasa ini jalan gue! Ini tempat gue berada.
Gue akui, sebelum gue masuk jurusan Psikologi gue sangat senang kalau ketemu dengan orang-orang yang mendalami Psikologi. Sebenarnya sampai saat ini juga masih suka. :D
Tapi sesukanya gue, se-excited-nya gue dengan mereka, gue nggak pernah berpikir 'bagaimana mereka seharusnya dengan ilmu Psikologi mereka'.
Sampai gue sendiri bingung sama nyokap gue yang suka banget ngomong "kamu kan psikolog (aminin aja..), kok gini..." sampai suatu ketika gue menjawab "Ih, Mama gimana sih, mama tuh nyekolahin (iyeee, tahu, seharusnya kuliah) aku tuh di Psikologi, bukan di sekolah kepribadian. Psikologi itu mempelajari orang apa adanya." eh, tapi nyokap gue tetap mengomel sambil ngungkit Psikologi.
Gue sampai berpikir, kasihan ya Psikologi, terjebak dalam pencitraan baik hati, ramah tamah, memahami, bisa baca pikiran orang (eh?)...
Gue nggak ada niat menjelek-jelekkan sesuatu apapun, serius.
Tapi, terkadang tidak mudah menghadapi orang-orang yang selalu menuntut bagaimana lo seharusnya, padahal lo juga butuh diterima apa adanya.
Pertama kali gue menjejakkan diri di Psikologi, gue ngambil mata kuliah Psikologi Umum yang pada saat itu memang udah dipaketkan mata kuliahnya.
Satu kejadian yang gue ingat sampai detik ini adalah ketika seorang teman menanyakan satu hal ke dosen gue "Bu, gimana cara ngatasinnya jika ibu sebagai psikolog harus memahami orang lain padahal ibu juga ingin dipahami?" eh, dosennya nyengir loh. Terus dia menjawab dengan mengatakan bahwa ia adalah anak bungsu yang pengennya dimanja dan di lingkungan keluarganya sudah maklum dan memahami dia. Gitu jawabannya. Kesimpulannya, dia bisa jadi psikolog dan bisa jadi dirinya yang apa adanya.
Entah kenapa gue jadi memisahkan 'bagian diri' gue seperti itu juga. Yang pertama gue sebagai mahasiswa psikologi, yang kedua gue sebagai diri gue yang apa adanya. Bukan berarti gue gangguan kepribadian ganda. Ini seperti sisi objektif dan subjektif yang gue yakin setiap orang pasti punya. Tapi sama halnya dengan orang lain, objektif dan subjektif itu suka ngeblur jadi satu.
Bukti konkretnya adalah saat gue dan teman-teman gue lagi ngegossipin orang. Eitss! Gossip itu baik untuk kesehatan mental, tapi bikin moral porak-poranda... Haha! Jadi begini ceritanya, ketika kita lagi ngegossipin artis...
A: Eh parah! Si artis ini kan gini... gini... gini...
B: Serius lo? Kok bisa ya?
C: Eh, dia kan dari keluarga broken home, emaknya bla... bla... bla...
D: Kasian yaaa...
E: Pantesan dia kayak gitu. Tapi kan orang itu seharusnya ada system belief... blaaa... blaaa...
F: Oh, iya yaa. Ditambah lagi id dia... ego dia... super ego dia...
Semua: Iya bener yaaa...
Gue: Yak... jadi kapan kita bisa ngegossip dengan tenang tanpa harus menganalisis?
Semua: (nyengir)
KITA LUPA GIMANA CARA NGEGOSSIP SESUAI KAEDAHNYA!!!
Gue ingat salah satu tweet teman sekelas gue, Rury a.k.a. Uwi, yang bilang "bukan karena psikolog berarti harus jadi pribadi yang sempurna kan? :-)"
Coba cari, siapa sih di dunia ini yang selalu hidup aman sentosa terus-terusan? Nggak pernah punya masalah? Hidup lempeng aja terus... Nggak ada yang dipikirin... Kalau ada, sini bawa ke hadapan gue! Biar gue ketawain "eh, boring banget ya hidup lo!" hahahaha!
Salah satu dosen gue pernah bilang kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang bisa menerima sisi negatifnya. Karena nggak ada orang yang benar-benar sempurna kepribadiannya. Semua orang punya sisi inferior di diri mereka. Mereka bisa memilih untuk tenggelam dengan kelemahan mereka atau berjuang untuk mencapai superioritas mereka.
Nggak jarang gue temukan orang yang suka menyalahkan orang lain untuk apa yang tidak bisa atau telah ia lakukan. Paling sebal kalau gue yang dijadikan sasaran. Gimana caranya mau membenahi diri kalau belum bisa melihat dan menerima kekurangan diri sendiri? Teman sejurusan gue, Galih, pernah bicara "Kalau nggak tahu apa masalahnya, gimana mau ditembak pake solusi?"
Nggak penting siapa elo, apa jurusan lo, bokap lo gajinya berapa, elo masih sodaraan sama Justin Timberlake atau nggak, pacar lo anak gaul taman lawang atau taman suropati, kakek lo pencetus perang dunia ketiga atau bukan... Tuh kan! Gue ngelindur...
Berbahagialah kalau lo memiliki orang yang mencintai dan menerima lo apa adanya. :)
Tapi yang terpenting, bersyukurlah kalau lo udah mampu menerima kekurangan diri lo apa adanya tanpa harus nyelekit kalau membela diri dan lo udah bisa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.
Salah satu perkataan dosen gue yang gue kutip dari tweetnya Uwi (@ruriirurii):
meskipun kita belajar psikologi dan tahu bagaimana individu yang ideal itu, tapi jangan sampai merubah & memaksa diri kita menjadi ideal dan baik. Karena kita adalah kita, dengan segala keunikan, tidak apa-apa mempunyai kekurangan asal kita bisa berdamai dengannya,tidak apa-apa jika kita merasa lemah asal mau mengakui. Jadilah diri sendiri, bukan menjadi kumpulan teori. Karena tahukah anda mengapa saya selalu ceria, karena saya tau Psikologi untuk anda, bukan untuk saya... Hehe...
Sepenggal lirik favorit gue dari lagu Superman-nya Five for Fighting
Even heroes have the right to bleed...
Mungkin kita cuma manusia biasa, tapi tetaplah berusaha menjadi yang terbaik yang kita bisa dengan menerima kekurangan kita dan berusaha menakhlukkannya. Sebagai seseorang yang mempelajari Psikologi, saya juga sedang berusaha... :)
"Gossip itu baik untuk kesehatan mental, tapi bikin moral porak-poranda..." :D
BalasHapusSETUJU shy, ditempat magangan gw banyak yang nanya :
A : "eh kamu psikologi ? bisa ngebaca saya dong? Saya orangnya gimana? Coba doongg"
Me : "errr.. ya kali pak/bu saya dukun. Kalo mau tau byk harus ada assesmentnya dl, kaya observasi wawancara ya ngobrol2 lah minimal. Jadi yaa ga langsung tau kaya cenayang gt hehehe" *nyengir sambil kabur
ada apa dengan statement pertama itu? :D :D :D
BalasHapusAhh, itu sering banget gue denger...
kalo gue lagi ketemu orang-orang baru yang nanya gue kuliah di jurusan apa...
kadang-kadang pengen gue jawab: "emang situ buku?" :D